Di Balik Panas Dinginnya Indonesia-Malaysia

0
131

Nusantara.news, Jakarta- Dibanding hubungan dengan negara tetangga lainnya, hubungan Indonesia dengan Malaysia tergolong paling rawan konflik. Pasang surut hubungan dimulai dari masalah TKI dan TKW yang diperlakukan kasar dan tidak dibayar sesuai kesepakatan oleh para majikan, klaim batik, reog, tempe, lagu Rasa Sayange, angklung, pulau Sipadan dan Ligitan (yang akhirnya benar-benar jatuh ke tangan Malaysia), pemasangan patok di wilayah perbatasan, hingga yang teranyar soal insiden bendera Indonesia yang dicetak terbalik pada buku panduan SEA Games 2017 di Malaysia.

Sontak, persoalan semacam ini mudah menyulut kemarahan dan membikin gaduh berbagai media di tanah air. Sejumlah protes pun dilancarkan, mulai aksi membakar bendera Malaysia, melempari Kantor Kedubes Malaysia di Jakarta, tuntutan untuk menarik Duta Besar RI di Kuala Lumpur, hingga nota protes diplomatik Kemenlu RI di Jakarta ke pemerintah Malaysia. Semua reaksi itu, tersebab rasa nasionalisme bangsa Indonesia yang terusik.

Terkait insiden bendera RI terbalik, kejadian ini pertama kali mencuat saat Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi, mengunggahnya pada akun Twitter tepat di hari pembukaan SEA Games 2017, 19 Agustus lalu. Tidak lama setelah melontarkan kekecewaannya, Menteri Olahraga Malaysia, Khairy Jamaluddin segera meminta maaf. Keesokan harinya, Khairy juga menggelar pertemuan dengan Imam Nahrawi untuk menyampaikan permintaan maaf secara langsung. Belakangan, polisi Malaysia juga ikut turun tangan menyelidiki insiden bendera RI terbalik tersebut.

Setali tiga uang, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi pun menyayangkan insiden terbaliknya bendera Indonesia itu. Retno mengatakan Indonesia telah mengambil langkah resmi dengan mengirimkan nota diplomatik ke Malaysia. Menanggapi Menlu RI, Menteri Luar Negeri Malaysia Dato Sri Anifah Aman atas nama pemerintah Malaysia juga meminta maaf.

“Kami menyatakan menyesal atas kesalahan tak disengaja oleh Komite Organisasi Malaysia (MASOC) yang salah mempublikasikan bendera Indonesia pada buklet kenang-kenangan upacara pembukaan Sea Games ke-29,” ujarnya dalam pernyataan tertulis yang diterima Kemlu RI, Minggu (20/8).

Tak hanya di tingkat Menteri, Presiden Joko Widodo juga akhirnya buka suara. “Saya kira kita menunggu permintaan maaf resmi dari Pemerintah Malaysia, nggak usah dibesar-besarkan,” kata Presiden. Namun sayang, gayung bersambut bukan dari Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Razak, melainkan dari Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi. Ia memohon maaf dan menyesalkan kejadian yang dianggapnya sebagai tindakan ketidaksengajaan.

Meskipun amat disayangkan pernyataan Presiden Jokowi tak mendapat tanggapan dari Perdana Menteri Najib Tun Rajak, tetapi memang begitulah seharusnya. Sikap Najib Tun Razak yang memilih diam dinilai sudah tepat, apalagi pernyataan diplomatik Presiden tidak dilakukan dalam pernyataan resmi. Di panggung diplomasi, sebaiknya seorang kepala negara tak perlu berkomentar persoalan yang telah ditangani para pembantunya. Hal itu selain akan “merendahkan” wibawa RI-1, juga menunjukkan komunikasi kenegaraan yang kurang berkelas.

Insiden bendera terbalik yang berbuntut “ketegangan” kedua negara, khususnya di arus bawah masyarakat Indonesia, sebenarnya bukan hal baru. Meski sejarah hubungan Indonesia-Malaysia terbilang mesra, namun dalam perjalananya kerap diwarnai perbedaan dan pertentangan. Satu contoh, sebut saja peristiwa “kontfrontasi Malaysia”, sebagai potret terburuk hubungan keduanya.

Masa Kelam Hubungan Indonesia-Malaysia

Dahulu, pernah ada cita-cita untuk menggabungkan Malaysia dan Indonesia di bawah panji Melayu Raya. Ide ini sudah bersemi sejak tahun 1938 dan didukung oleh pejuang-pejuang politik Malaysia di bawah organisasi Kesatuan Melayu Muda (KMM). Tokoh-tokoh KMM seperti Ibrahim bin Haji Yaakob dan Burhanuddin Helmi menjalin komunikasi intensif dengan Soekarno, Hatta, dan Muhammad Yamin untuk mewujudkan gagasan Melayu Raya. Namun, Muhammad Yamin menyarankan agar istilah “Melayu Raya” diganti dengan “Indonesia Raya”. Karuan saja, tindakan Yamin ini membuat ide “Melayu Raya” akhirnya kandas.

Pun begitu, cita-cita menyatukan Tanah Melayu masih tetap berada di benak Soekarno. Tak heran Soekarno marah besar ketika Malaysia dimerdekakan oleh Inggris pada tahun 1957 dan memilih menjadi negara berdaulat. Maka dikobarkanlah kampanye “Ganyang Malaysia” pada tahun 1963.

“Kalau kita lapar itu biasa. Kalau kita malu itu djuga biasa. Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang adjar! Kerahkan pasukan ke Kalimantan, kita hadjar tjetjunguk Malayan itu! Pukul dan sikat djangan sampai tanah dan udara kita diindjak-indjak oleh Malaysian keparat itu…” teriak Soekarno.

Presiden Soekarno menyerukan “konfrontasi fisik” dengan Malaysia, yang menyebabkan banyak terjadinya insiden bersenjata antara tenaga sukarelawan Indonesia dengan tentara Malaysia yang dibantu Inggris, Australia, dan Selandia Baru di sepanjang daerah perbatasan di utara Kalimantan.

Kiri: Presiden Soekarno saat pidato “Ganyang Malaysia”. Kanan: Rakyat Malaysia berunjuk rasa menentang Soekarno

Setelah Malaysia terbentuk September 1963, Indonesia langsung memutuskan hubungan diplomatik. Beberapa hari kemudian massa merusak gedung Kedutaan Besar Inggris dan Singapura. Sebagai reaksi, pemerintah Malaysia menangkapi agen rahasia Indonesia. Ribuan penduduk juga berunjuk rasa di depan kedutaan besar Indonesia di Kuala Lumpur. Di antara mereka bahkan ada yang membawa gambar Lambang Garuda dan merobek-robeknya.

Soeharto-Tum Abdul Razak, Kemesraan Antara Indonesia-Malaysia

Ketika Soekarno jatuh dan digantikan Soeharto, normalisasi hubungan Indonesia-Malaysia berjalan sangat cepat didukung oleh operasi intelijen Jakarta-Kuala Lumpur yang dikomandoi oleh Benny Moerdani dari Indonesia dan Ghazali Shafei (”King Ghaz”) dari Malaysia.

Hubungan Indonesia-Malaysia memasuki bulan madu ketika Soeharto naik ke kursi kepresidenan dan Tunku Abdul Rahman digantikan oleh Tun Abdul Razak (ayah Dato Seri Najib Razak, PM Malaysia sekarang). Pada era inilah, posisi “abang-adik” disepakati oleh kedua negara; Indonesia sebagai abang dan Malaysia sebagai adik.

Tun Abdul Razak dan Soeharto, membawa hubungan Indonesia-Malaysia seperti “Kakak-Adik”

Hubungan pribadi Tun Razak dan Soeharto juga sangat akrab dan keduanya kerap bermain golf bersama. Di lapangan golf Brastagi tahun 1975, Suharto melihat tanda-tanda ketidakberesan ketika Tun Razak terengah-engah di lubang ke-6 dan sempat bertanya apakah beliau masih sanggup melanjutkan. “Istirahatlah dulu, Dik. Kau tampaknya kurang sehat,” kata Soeharto, begitu peduli. Rupanya inilah permainan golf terakhir antara kedua sahabat karib itu. Tun Razak wafat ketika berobat di London pada tahun 1976.

Pada periode inilah sebenarnya titik balik kemesraan Indonesia-Malaysia terjadi, sekaligus awal mula hubungan baik kedua negara di tahun-tahun berikutnya. Keduanya saling bahu-membahu bila masing-masing butuh pertolongan. Indonesia, yang saat itu lebih maju dalam infrastruktur pendidikan, tidak segan-segan mengirim banyak tenaga pendidik ke Malaysia untuk membantu Sang Jiran mengentaskan kebodohan. Banyak guru dan dosen Indonesia dikirim ke Malaysia untuk mengajar di sekolah-sekolah Melayu dan di Universitas Kebangsaan Malaysia yang baru didirikan.

Dalam beberapa hal, terlihat upaya Malaysia meniru “saudara tua”-nya itu, terutama menyangkut konsolidasi politik dalam negeri. Malaysia, misalnya, terinspirasi kemenangan mutlak Golkar pada Pemilu 1971 (Pemilu pertama Orde Baru). Mereka membutuhkan kendaraan politik serupa untuk menciptakan stabilitas. Terinspirasi dengan Golkar, Ghazali Shafie (Menteri Dalam Negeri Malaysia) mengusulkan gagasan Barisan Nasional yang akan mengoordinasikan berbagai partai politik.

Tak sampai di situ, para mahasiswa Malaysia dikirim ke Indonesia untuk belajar di universitas-universitas ternama. Para karyawan di bidang energi, utamanya Petronas Malaysia, para perintisnya “berbondong-bodong” menimba ilmu dari Pertamina yang saat itu sebagai perusahaan minyak raksasa dan berjaya. Wajar saja pembangunan Malaysia berkiblat ke Indonesia, sebab kala itu Indonesia tampil sebagai negara yang berkembang pesat dan tampil sebagai pemimpin di kawasan Asia Tenggara.

Dalam zaman Tun Razak juga, Indonesia dan Malaysia menyelenggarakan kerjasama latihan militer: Malindo Samatha, Malindo Jaya, Malindo Mini dan Kris Kartika. Kerjasama dalam bidang pendidikan dan kebudayaan pun ditingkatkan. Indonesia dan Malaysia muncul sebagai pendiri sekaligus penjaga organisasi ASEAN. Namun dalam banyak sisi, Soeharto jauh lebih dihormati.

Para pemimpin ASEAN tak akan pernah lupa Soeharto-lah yang memutuskan untuk tetap menyelenggarakan KTT III ASEAN di Manila, 14-15 Desember 1987, di tengah kemelut politik karena pemberontakan dan ancaman kudeta oleh Kolonel Gregorio Gringo Honassan. Langkah Soeharto ini untuk menunjukkan dukungan ASEAN kepada Presiden Corry Aquino, di saat para pemimpin ASEAN lainnya ragu untuk hadir. Soeharto-lah yang menjamin keamanan dengan mengirimkan satuan-satuan tempur ABRI, termasuk menyiagakan empat unit pengebom tempur A-4 Skyhawk TNI AU di Pangkalan Udara Sam Ratulangi Manado, demi mengamankan konferensi di Philippines International Convention Center, yang menghadap Teluk Manila.

Ketika Malaysia Tak Mau Disebut “Adik”

Namun, suasana hubungan Jakarta-Kuala Lumpur berubah ketika Mahathir Mohamad menjadi PM Malaysia di tahun 1981. Mahathir Mohamad adalah seorang yang keras kepala, sama seperti Soeharto yang dijuluki koppig (kepala batu) oleh Soekarno. Mahathir menolak patuh pada konsep “abang-adik” yang dijalankan oleh para pendahulunya.

Mahathir Mohamad dan Soeharto, di antara rivalitas dan persahabatan

Sikap Mahathir ini jelas tidak disukai oleh Soeharto. Tapi Mahathir tetap kukuh dengan pendiriannya. Ketika diwawancarai oleh Barry Wain di tahun 2007, dia berucap, “Saya tidak pernah kasar terhadap beliau (Soeharto), tapi saya punya cara tersendiri. Saya tak sudk diperlakukan seorang adik. Kita dua kepala negara yang sejajar dari sebuah bangsa berdaulat”.

Mahathir adalah seorang pemimpin yang mempunyai karakter tersendiri. Di bawah kepemimpinannya ekonomi Malaysia maju pesat dan secara politik pula Malaysia mulai berperan di arena internasional. Mahathir bahkan muncul sebagai jurubicara dunia ketiga. Kondisi ini menghujat kepemimpinannya Indonesia di bawah Soeharto.

Meski begitu, hubungan personal Soeharto dan Mahathir sangat baik. Keduanya tampil sebagai kepala negara yang saling “berkompetisi” di arena pembangunan dan dalam hal pengaruh di kancah dunia, namun bersahabat dalam kehidupan keseharian. Mereka saling menghormati, dan kerap mengumbar pujian masing-masing di depan media. Di luar tugas kenegaraan, Soeharto dan Mahathir juga sering bertemu untuk sekadar berdiskusi dan berkunjung satu sama lain.

Persahabatan mereka terus terjalin hingga akhirnya. Ketika Soeharto jatuh sakit kian parah, Mahathir memutuskan untuk melawatnya ke Indonesia. Hingga akhirnya pada 27 Januari 2008, Mahathir menerima berita bahwa sahabatnya tersebut meninggal dunia. Ia pun berkemas untuk hadir di upacara pemakaman. Dalam beberapa tayangan, Mahathir terlihat meneteskan air matanya.

Ketika ditanya mengenai tetesan air mata itu, Mahathir hanya tersenyum dan menjawab, “Ya, begitulah. Saya sedih kehilangan sahabat baik saya. Saya juga sedih ketika di sini (Indonesia), orang menghujat dia.”

Meski bersahabat secara pribadi, nyatanya kebangkitan ekonomi Malaysia terutama saat badai krisis menerpa Asia, membuat para warganya merasa di atas angin, apalagi saat melihat Indonesia susah payah mengatasi krisis. Menurut Musni Umar, Pakar Hubungan Indonesia-Malaysia, mengatakan generasi baru lahir di Malaysia, secara psikologis melihat Indonesia di bawah Malaysia. Setiap hari pula mereka melihat para Tenaga Kerja Indonesia menata Rumah Tangga, buruh bangunan, buruh perkebunan kelapa sawit, dan buruh di industri (kilang). Orang negara ini mengisi ruang-ruang pekerja kelas rendah di Negeri Jiran.

Sementara sebagian masyarakat Indonesia masih bernostalgia hubungan kedua negara pada masa pemerintahan Presiden Soeharto dan Tun Abdul Razak, sehingga perubahan terjadi sulit dipahami apalagi diterima. Kini, kondisi sudah berubah, persepsi orang Malaysia pun tampaknya sama seperti Mahathir, tak mau dipandang sebagai ‘adik’.

Psikologis merasa sejajar atau bahkan lebih tinggi dari generasi baru Malaysia, dan di sisi lain realitas historis sebagai bangsa “superior” di benak orang Indonesia, membuat keduanya dalam posisi rentan. Di titik ini pula, barangkali menjadi satu sebab mengapa gesekan kecil sekalipun, begitu mudah meledak. Padahal, jika dua kekuatan serumpun ini bersatu, bukan tidak mungkin akan menjadi kekuatan baru, sebuah kawasan Negara Melayu berpenduduk Muslim yang kuat yang disegani Asia, bahkan dunia.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here