Di Balik Pertemuan Marine Le Pen dan Vladimir Putin Jelang Pemilu Prancis

0
118

Nusantara.news Kandidat calon presiden Prancis dari partai sayap kanan Front Nasional (FN) Marine Le Pen menemui Presiden Rusia Vladimir Putin dalam kesempatan kunjungannya ke parlemen Rusia Jumat (24/3) lalu. Lantas apa makna di balik pertemuan yang dilakukan jelang pemilihan presiden Prancis pada 23 April mendatang?

Bagi publik Rusia, pertemuan Le Pen dengan Vladimir Putin tergolong tidak biasa. Menurut catatan editorial The Moscow Times Senin (27/3), pertemuan tersebut dapat dicatat sebagai “pelanggaran” protokol kepresidenan Rusia.

Biasanya, pertemuan langsung dengan Presiden Putin terbatas hanya untuk para kepala negara atau mantan kepala negara dan pemerintahan, menteri luar negeri dari negara-negara besar seperti AS, Jerman, Perancis dan Cina, CEO internasional dari perusahaan energi utama (BASF, ExxonMobil) dan teman-teman pribadi Putin seperti Henry Kissinger dari AS.

Sementara, pertemuan kali ini dengan seorang anggota biasa parlemen Eropa yang merupakan kandidat calon Presiden Prancis dari partai sayap kanan, Marine Le Pen. Lebih-lebih, pertemuan tidak dijadwalkan sebelumnya atau bisa dikatakan mendadak, karena kunjungan Le Pen ke Rusia sebetulnya dalam rangka mengunjungi anggota parlemen.

Apakah ada kaitan dengan Pemilu Presiden Prancis?

Santer terdengar kabar, Le Pen menjadi kandidat capres yang didukung Vladimir Putin sebagai upaya Rusia memiliki pengaruh di kawasan Eropa. Dukungan untuk Le Pen sebagai alternatif karena kandidat capres lain (juga dari partai kanan-tengah) yang sebetulnya lebih dekat dengan Putin, Francois Fillon, jeblok popularitasnya akibat skandal korupsi yang melibatkan istri dan kedua putrinya.

Namun demikian, sebagaimana dikutip AP, Presiden Putin menolak tudingan bahwa Rusia memiliki tujuan mempengaruhi pemilu Prancis untuk mengambil kepentingan politik dari salah satu negara di benua biru itu.

“Kami sama sekali tidak ingin mempengaruhi (pemilu Prancis), tetapi hak kami untuk bertemu dengan semua perwakilan dari semua kekuatan politik, seperti mitra kami di Eropa dan AS,” kata Putin.

Le Pen bertemu Putin setelah kunjungannya ke parlemen Rusia. Dalam pertemuan dengan anggota perlemen itu, Le Pen mendesak Rusia dan Perancis untuk bekerja sama menyelamatkan dunia dari globalisasi dan fundamentalisme Islam.

Le Pen telah beberapa kali melakukan kunjungan ke Rusia dan sudah sering  bertemu anggota parlemen Rusia. Moskow selama ini memang berupaya merayu sejumlah pihak dari kelompok sayap kanan di Eropa untuk memperoleh dukungan dalam konflik Ukraina dan perang di Suriah.

Masuk akal jika Rusia memberikan dukungan secara politik terhadap kelompok sayap kanan di Eropa maupun Amerika, termasuk terhadap Presiden Trump dan Le Pen, meskipun selalu tidak diakui oleh otoritas Rusia, termasuk terkait “campur tangan” pada Pemilu AS.

Moskow memiliki kepentingan geopolitik di Eropa dan Amerika terkait posisi Rusia di Crimea, Ukraina serta masalah sanksi Eropa dan Amerika terhadap Rusia. Pihak Barat sejauh ini begitu mengkhawatirkan campur tangan rahasia dari Rusia dalam pemilu-pemilu dan propaganda politik untuk meningkatkan kekuatan politik sayap kanan yang anti-Uni Eropa di sejumlah negara seperti Prancis, Jerman, Italia dan Belanda.

Sebuah laporan mengatakan, dalam pemilu Prancis Rusia akan menggunakan peretasan “berita palsu” untuk merusak kampanye Emmanuel Macron, kandidat capres terkuat yang mengambil sikap pro Uni Eropa dan mengkritik tindakan Rusia terhadap Ukraina dan Suriah.

Apa yang dilakukan Le Pen, persis seperti yang terjadi pada Pemilu AS tahun 2016 dimana Donald Trump, tokoh populis yang mendukung negara Eropa seperti Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit) diduga juga mendapat dukungan “rahasia” dari Putin. Penyelidikan FBI, menyebut indikasi adanya pertemuan tim Donald Trump dengan pihak Rusia sebelum Pemilu AS digelar dengan agenda memenangkan Donald Trump dengan melakukan peretasan terhadap kampanye Hillary Clinton, rival Trump dalam Pemilu AS.

Sebelum rahasia dukungan politik Rusia terhadap Trump dalam Pemilu AS bocor ke publik, hubungan Trump dan Putin sangat akrab dan seolah akan terbangun kerja sama AS – Rusia yang baik di bawah pemerintahan Trump. Namun, belakangan Trump tampaknya tidak mau mengambil risiko karena kedekatannya dengan pemimpin Rusia ternyata mendapat tentangan tidak saja dari partai oposisi, tetapi juga dari dalam partai yang mendukungnya, Partai Republik. Kini hubungan Trump dan Putin mulai membeku.

Kandidat capres Prancis Marine Le Pen berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin, Moskow 24 Maret 2017. (Foto: Kremlin Press Service)

Pertemuan Putin dengan Le Pen bisa dimaknai sebagai upaya alternatif Rusia dalam menunjukan pengaruhnya pada politik Prancis pasca-melorotnya popularitas Fillon, kandidat yang awalnya dijagokan Putin. Setidaknya, bagi politik dalam negeri Rusia, dengan adanya Le Pen, meskipun hasil jajak pendapatnya masih sedikit di bawah Macron, menciptakan kesan bahwa Putin selalu mampu ikut campur dalam berbagai pemilu termasuk di Eropa. Ini mengesankan bahwa dia benar-benar layak dianggap “orang paling berpengaruh” di dunia. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here