Di Bandara Kertajati, Aher Buktikan Mampu Berdikari

3
561
Presiden Jokowi didampingi Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan rombongan, saat mendengarkan detil Bandara Internasional Kertajati di Majalengka, Jawa Barat.

Nusantara.news, Jakarta – Per Juni 2018 operasional Bandar Udara (Bandara) Internasional Kertajati mulai beroperasi. Tak banyak yang tahu, pembangunan Bandar Udara Kertajati ini tanpa obligasi, tanpa APBN dan tanpa utang baik dalam maupun luar negeri. Benar kah?

Anehnya, Presiden Jokowi belakangan sibuk memamerkan bahwa Bandara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, ini adalah bagian dari kesuksesannya membangun infrastruktur. Memang benar, bahwa Kertajati ini adalah bagian dari 245 proyek strategis nasional (PSN), namun ternyata prosesnya benar-benar mandiri.

Bandara Internasional Kertajati merupakan bandara internasional yang diproyeksikan menjadi gerbang utama keluar masuk Provinsi Jawa Barat yang akan resmi beroperasi mulai Juni 2018.

Bandara ini terletak di Kabupaten Majalengka sekitar seratus kilometer di timur kota Bandung. Bandara Kertajati dibangun oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Provinsi Jawa Barat, PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB). BUMD ini sendiri lahir lewat instruksi langsung Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan melalui Peraturan Daerah No. 22/2013 yang ditandatangi pada 24 november 2014.

PT BIJB bertanggung jawab dalam pembangunan sisi darat serta pengembangan dan pengoperasian Bandara Internasional Jawa Barat, serta pengembangan kawasan aerocity.

Pembangunan Bandara Internasional Kertajati ini sejatinya didesain dengan mengolaborasikan kearifan lokal Sunda dengan gaya arsitektur modern. Hal ini bisa dilihat dari desain main roof terinspirasi dari pakaian Tari Merak dan Air Traffic Control (ATC)-nya terinspirasi dari senjata tradisional Sunda, yakni Kujang

Pembangunan bandara ini melalui dua fase, fase 1A dan fase ultimate. Pada fase IA ini akan selesai pada bulan Juni 2018. Landasan pacu (runway) yang akan beroperasi pada tahap 1A ini memiliki luas 2.500 x 60 meter persegi. Sedangkan pada tahap ultimate akan memiliki luas 3500 x 60 meter persegi yang menyebabkan landasan pacu bandara ini setara dengan landasan pacu terluas di Indonesia, Bandara Hang Nadim, Batam, Provinsi Kepualauan Riau.

Kapasitas terminal penumpang pada tahap IA mencapai 5 juta penumpang per tahun, sedangkan pada tahap ultimate mencapai 29,3 juta penumpang per tahun. Kapasitas penumpang tahap ultimate ini hampir setara dengan 50% kapasitas Bandara Soekarno-Hatta, yakni sebanyak 63 juta per tahun 2017.

Luas keseluruhan lahan bandara ini hampir setara dengan luas keseluruhan Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang menyebabkan Bandara Internasional Kertajati sebagai Bandara Internasional terbesar kedua setelah Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Provinsi Banten.

Tidak heran bahwa Provinsi Jawa Barat kini diakui sebagai salah satu provinsi termaju di NKRI berkat manajemen yang baik dari pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daaerah kota/kabupaten se-Jawa Barat.

Skema pembiayaan

Total pembiayaan pembangunan sisi darat sebesar Rp2,6 triliun, dengan skema pembiayaan bandara ini dipuji oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi karena sama sekali tidak mengandalkan kucuran dana dari pemerintah pusat atauAnggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pembiayaan pembangunan Bandara Kertajati melalui skema Pembiayaan Investasi Non Pemerintah (PINA). Investasi sebesar Rp906 miliar berasal dari gabungan perbankan syariah, yaitu Bank Jabar Banten, Bank Jateng Syariah, Bank Sumut Syariah, Bank Sulbar Syariah, Bank Kalbar Syariah, Bank Jambi Syariah, dan Bank Kalsel Syariah.

Sementara investasi sebesar Rp808 miliar berasal dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat selaku pemegang saham mayoritas, sisanya berasal dari ekuitas reksadana penyertaan terbatas (RDPT). Persisnya, skema pembiayaan ini menggunakan model kemitraan Pemprov Jawa Barat dengan swasta, terutama hadirnya sejumlah bank syariah.

Dari sini, pemerintah provinsi Jawa Barat memberikan keteladanan bahwa pembangunan infrastruktur dapat dilakukan tanpa utang luar negeri, bahkan melalui sinergisitas sesama anak bangsa. Negara ini baru bisa maju menjadi negara adidaya bila mampu berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) sesuai nasihat emas Presiden Soekarno dahulu.

PT BIJB selaku pelaksana pembangunan bandara dinilai mampu menghimpun dana yang tidak tergantung sepenuhnya pada kocek negara.

“BIJB ini bagus pada saat itu akan membuat (bandara) dan menentukan satu skema (pembiayaan),” kata Budi Karya Sumadi saat memberikan kuliah umumnya yang dihadiri sekitar 500 mahasiswa dari berbagai kampus, di Aula Barat, Institut Teknologi Bandung (ITB), Jalan Ganeca, Bandung, beberapa waktu lalu.

‎Seluruh suntikan alokasi tersebut digunakan untuk pembanguan infrastruktur yang hingga saat ini secara umum pembangunan Bandara Kertajati secara fisik sudah mencapai 90%. Target konstruksi fisik bisa selesai Juni 2018 mendatang.

Dia memuji dengan apa yang sudah dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan PT BIJB yang nantinya bertanggung jawab untuk mengelola kawasan aerocity. Pihaknya pun mendorong BUMD lainnya bahkan BUMN untuk bisa menerapkan skema sama dalam pembiayaan infrastruktur.

‎‎”Oleh karenanya kita dorong BUMN, BUMD, swasta ikut dalam pembangunan infrastruktur. Karena selama ini Bandara kita butuh. Gubernur (Jabar Ahmad Heryawan) ini tekadnya baik,” imbuhnya.

‎Dia menambahkan, kehadiran Bandara Kertajati yang akan beroperasi menjadi bandara masa depan. Bahkan diawal beroperasi pada 2018 mendatang bandara tersebut diyakini akan bisa melayani penerbangan haji dan umroh.

‎”Sedangkan (Bandara) Kertajati selama ini konsentrasi warga Jawa Barat ke Jakarta, sekarang menjadi pusat bandara baru di mana kita juga akan tetapkan haji asal Jakarta dan Jawa Barat ke sana semuanya,” tambah Budi.

Presiden Jokowi sendiri memuji keberhasilan pembangunan Bandara Internasional Kertajati, disamping karena menggunakan pembiayaan mandiri, prosesnya juga relatif cepat.

“‎Yang paling penting. Ini anggaran sudah‎ tidak sedikit untuk konstruksi, dan pembebasan lahan. Ini kerja sama Pemerintah Provinsi Jabar, swasta, pusat dan pengerjaannya cepat sekali ini kita senang,” kata Presiden Jokowi saat berkunjung ke Bandara Internasional Kertajati beberapa waktu lalu.

Jokowi juga memuji kerjasama antara Pemprov Jawa Barat, bank syariah, dan bank swasta, sehingga ketersediaan dana relatif cepat. Pada gilirannya membantu mempercepat penyelesaian pembangunan Bandara Internasional Kertajati.

“Kerja sama ini sebuah model bisnis yang mempercepat, pembiayaan, infrasuktur bisa cepat selesai. Ini setelah selesai (BIJB) skema-skema baru selalu jadi contoh ditempat lain,” demikian ungkap Presiden.

Ini adalah salah satu karya besar Gubernur Aher sehingga mendapat penghargaan sebagai Gubernur Terbaik di Indonesia. Bahkan tak hanya sampai disitu, Presiden Jokowi meminta Gubernur Aher mengampu 18 gubernur lain di Indonesia agar dapat ditularkan kreativitas dan kedisiplinannya.

Soal dianggap sebagai bagian capaian 245 proyek strategis nasional, Aher sendiri mengaku tidak masalah. Yang penting kehadiran Bandara Internasional Kertajati bisa menginspirasi Indonesia.[]

3 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here