Di Eropa Maupun Asia Tenggara, Aktivitas Terorisme Meningkat

0
109
Foto: Getty Images

Dalam 2 tahun, aktivitas terorisme di Eropa meningkat dua kali lipat

Nusantara.news Europol, sebuah lembaga penegakan hukum utama Eropa, menyebutkan dalam Laporan Tahunannya tentang Situasi dan Terorisme Uni Eropa baru-baru ini, bahwa aktivitas terorisme di Eropa telah meningkat dalam dua tahun terakhir.

Hal ini dapat dilihat dari data jumlah orang yang ditangkap di Eropa karena dicurigai melakukan aktivitas terorisme, naik hampir dua kali lipat dalam dua tahun terakhir. Ada sekitar 718 orang yang ditetapkan sebagai tersangka dari yang ditangkap Europol atas pelanggaran terkait terorisme pada tahun 2016, meningkat dari sebelumnya yang hanya sejumlah 395 pada tahun 2014.

Secara keseluruhan, menurut data Europol ada sekitar 142 orang lainnya yang gagal menyelesaikan serangan teror di Eropa sepanjang tahun 2016.

Menurut laporan Europol juga, sebagaimana dilansir dw.com Jumat (16/6), kendati secara jumlah, orang yang ditangkap mengalami kenaikan signifikan, tapi jumlah serangan yang dilakukan sedikit menurun, dari sekitar 17 kali serangan di tahun 2014 menjadi 13 kali pada tahun 2016, 6 serangan diantaranya terkait dengan kelompok “Negara Islam” (IS) atau ISIS.

Bukan hanya di Eropa peningkatan aktivitas terorisme juga terjadi di Asia Tenggara. Aksi terorisme terakhir, yang terkait juga dengan ISIS dan hingga sekarang belum berhasil di selesaikan, terjadi di Marawi, Filipina. Sebelumnya, “bom bunuh diri kembar” terjadi di Kampung Melayu, Jakarta Indonesia, diduga pelakunya terkait ISIS.

Menurut data Global Terrorism Index 2016, yang dirilis oleh lembaga think-thank asal London, Institute for Economics and Peace (IEP), Asia Tenggara bakal mengalami dampak terorisme yang terjadi secara global. Dari skala 10, dampak terparah dialami Filipina dengan indeks 7,098, sekarang sudah terbukti. Kemudian Thailad dengan 6,706, lalu Indonesia, 4,429, menyusul Myanmar (4,167) dan Malaysia (2,691). Sementara, Singapura dan Brunei Darussalam menjadi negara di Asia Tenggara yang paling tidak terdampak oleh aksi terorisme.

IEP menilai, kondisi demografis penduduk Muslim terbesar dunia, menjadikan Indonesia sering menjadi sasaran aksi terorisme berbasis agama maupun wadah perekrutan. Global Terrorism Index merupakan kajian tahunan yang mengukur dampak terorisme dari 4 faktor yaitu jumlah kejadian, korban tewas, korban luka-luka, dan kerusakan yang ditimbulkan.

Inspirasi perang Suriah dan Irak

Jika dilihat, misalnya, di Eropa dari jenis bahan peledak teroris di Eropa meniru atau terinspirasi dengan yang digunakan para teroris di Suriah maupun Irak, tentu saja inspirasi tersebut menjadi ancaman tersendiri bagi bagi aparat keamanan Uni Eropa, selain tentu  ancaman lainnya adalah pulangnya para kombatan perang Suriah dan Irak ke negara-negara Eropa itu, kata laporan Europol.

Dalam laporan Europol tercatat bahwa pemerintah Uni Eropa menemukan penggunaan bahan peledak pesawat tak berawak (drone) oleh kelompok jihadis di Irak. Dan para ekstremis Eropa yang berbasis rumahan itu juga berusaha untuk meniru senjata yang digunakan di sana (Irak).

Serangan teror diduga terkait ISIS di Eropa belum lama terjadi secara beruntun di London, Inggris. Sebelumnya, teror serupa juga kerap terjadi di Paris, Brussels, Berlin, Manchester. Kota-kota besar di Eropa telah semakin banyak menjadi target terorisme dalam beberapa tahun ini.

Europol juga mencontohkan pemboman yang menyerang konser Ariana Grande di Manchester Arena bulan lalu yang menggunakan bom ransel dilengkapi bantalan dan potongan logam kecil, mirip dengan bom yang biasa digunakan dalam serangan oleh kelompok al-Qaeda dan ekstremis ISIS.

Bom bunuh diri di Manchester Inggris pada 22 Mei lalu menewaskan 22 orang. Dua minggu kemudian, sebuah serangan pisau dari sejumlah pelaku yang mengendarai van di Jembatan London telah mengakibatkan delapan orang tewas.

“Jenis serangan yang digunakan ISIS di zona konflik, termasuk bom mobil mungkin dan lainnya, jika kemampuan teknis itu diketahui di dalam organisasi mereka maka akan berpotensi ditransfer ke skenario Eropa,” kata kepala Europol, Rob Wainwright kepada AP.

“Banyak orang Eropa telah meninggalkan ISIS di Irak maupun Suriah setelah mereka kecewa dengan kehidupan perang yang dialami,” kata Wainwright.

Oleh karena itu, “yang menjadi fokus Europol saat ini adalah bagaimana membedakan mereka (para kombatan) dengan yang lain, sementara mereka kembali secara sembunyi-sembunyi untuk membentuk jaringan baru,” tambah Wainwright.

“Ini ancaman serius yang kita hadapi di Eropa dan refleksi dari fakta yang ada, bahwa saya khawatir kita tidak bisa mengatasi ancaman itu sampai selesai,” kata Wainwright.

Setali tiga uang dengan Eropa, di Asia Tenggara serangan Marawi Filipina seolah menjadi front baru bagi eksistensi ISIS di kawasan ini. Mereka yang bertempur di sana diduga juga kombatan ISIS dari Suriah atau Irak. Jika datanya benar, ada sekitar 600 orang Indonesia yang berangkat ke Irak dan Suriah hingga kini belum diketahui keberadaannya, mereka kemugkinan sebagian bergabung dengan kelompok Isnilon Hapilon dan Maute bersaudara di Marawi.

Pada konferensi keamanan yang diselenggarakan pekan lalu di Singapura, menteri pertahanan Singapura, Ng Eng Hen, mengatakan, “Jika situasi di Marawi meningkat, akan menimbulkan beberapa masalah berikutnya.” Artinya, kekacauan bisa meyebar ke negara tetangga.

Mengacu video yang dirilis 2016 lalu, para milisi yang berbicara dalam bahasa Filipina dan Melayu telah mendesak rekan-rekan mereka untuk pergi ke Filipina, menjadikan kota Marawi itu sebagai wilayat atau provinsi ISIS.

Sebetulnya bukan hanya Filipina, ISIS dan afiliasinya pernah memperingatkan Singapura sebagai target serangan, menurut sebuah laporan. Sebuah rencana untuk meluncurkan roket di resor tepi laut Marina Bay Sands pernah digagalkan oleh pihak keamanan Indonesia. Malaysia juga pernah mengalami serangan ISIS, sebuah granat melukai delapan orang di tempat hiburan malam di ibukota Kuala Lumpur pada 2016 lalu.

Indonesia, negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia, sangat mengantisipasi ISIS yang menggunakan Filipina bagian selatan sebagai pintu gerbang untuk membangun pijakan di Asia Tenggara. “Sangat mudah untuk masuk dari Marawi ke Indonesia,” kata Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Sang jenderal juga mengingatkan, ada sekitar 16 sel tidur ISIS yang tersebar di Indonesia, meski tidak menyebutkan secara rinci di mana saja letaknya.

ISIS sebagai gerakan radikalisme global, pada akhirnya menjadi ancaman bersama. Di Eropa, Europol akan meningkatkan jalinan kerja sama antar negara-negara Eropa untuk berbagi informasi intelijen dan lain sebagainya. Di Asia Tenggara pun semestinya begitu. Upaya kerja sama memang tengah dilakukan, pekan lalu para menteri pertahanan se-ASEAN sudah melakukan pertemuan di Singapura, salah satunya membahas soal ISIS di Marawi. Selain itu, di Indonesia, RUU tentang terorisme sedang dibahas dan Presiden memintanya untuk dipercepat.

Butuh kerja sama semua pihak untuk mengantisipasi penyebaran paham ekstremisme dan radikalisme ke berbagai negara. Bagaimanapun, paham ini telah menjadi ancaman secara global yang begitu mengkhawatirkan, tidak peduli di Eropa ataupun Asia, apalagi penyebaran paham radikalisme saat ini ditopang dengan kemudahan alat komunikasi. Lihat saja misalnya, warga Indonesia yang tertarik pergi ke Suriah dan Irak, banyak dari mereka awalnya berkomunikasi via internet dengan orang-orang di sana.

Di Indonesia, menurut survei Pew Research Center tahun 2015, menunjukkan bahwa 4% populasi memiliki pandangan positif terdap ISIS. Itu artinya ada sekitar 10 juta orang, kata Sidney Jones, direktur Institut Analisis Kebijakan Konflik (IPAC) yang berbasis di Jakarta.

Di luar itu semua, perlu diingat bahwa baik di Eropa maupun Asia Tenggara, ISIS kerap berkolaborasi dengan kelompok separatisme lokal, yang memiliki kepentingan sama, walaupun berangkat dari ideologi berbeda. Di Eropa, radikalisme berbasis agama (Islam) kerap ditunggangi kepentingan kelompok separatis, dimana menurut data Europol kelompok di luar ISIS ini, masih kerap melakukan teror. Di Asia Tenggara kurang lebih juga sama, seperti kelompok separatis Maute di Filipina yang bergabung dengan ISIS, GAM di Aceh, dan sebagainya. Masalah separatisme selalu berangkat dari ketidakadilan dan kemiskinan, oleh karena itu, jangan lupa menangani terorisme hendaknya selaras dengan mengurangi ketidakadilan dan kemiskinan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here