Di Forum Ekonomi Dunia, PM China Tegaskan Dukung Perdagangan Bebas

0
53

Nusantara.news, Dalian – Perdana Menteri China Li Keqiang menegaskan dukungannya terhadap sistem perdagangan bebas. Hal itu dinyatakan dalam Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) yang diselenggarakan di Dalian, China 27-29 Juni 2017. Li mengatakan, sejauh ini China telah mengalami pertumbuhan ekonomi sesuai yang diharapkan.

Li Keqiang mengatakan dalam pidatonya bahwa China masih merasa berada di jalur yang tepat untuk memenuhi tujuan ekonomi utamanya tahun ini, namun sambil memperingatkan mengenai meningkatnya risiko geopolitik dan ancaman terhadap kemajuan global.

“Suara anti-globalisasi muncul, dan risiko geopolitik dunia mulai meningkat,” kata Li kepada para pejabat dan pemimpin bisnis di Pertemuan Tahunan Forum Ekonomi Dunia di kota pelabuhan timur laut China, Dalian pada Selasa (27/6) sebagaimana dilaporkan Bloomberg.

Li tidak menyebut secara jelas siapa yang dimaksud dengan anti-globalisasi. Tapi agaknya pernyataan tersebut ditujukan menyikapi fenomena Donald Trump, Presiden AS saat ini, yang banyak menarik diri dari sejumlah perjanjian baik trilateral maupun multilateral dengan sejumlah negara, dan lebih menyukai membicarakan ulang perjanjian secara bilateral. Selain juga, fenomena keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit). Keduanya, baik Trump maupun Brexit dianggap sebagai simbol kemunduran globalisasi.

Pidato Li merupakan pembelaan terhadap globalisasi, dan secara tersirat merupakan sanggahan bagi kebijakan-kebijakan yang diadopsi oleh Presiden AS Donald Trump, yang telah menuduh mitra dagang, termasuk China,  melakukan praktik perdagangan yang tidak adil. Pidato tersebut juga menegaskan sikap yang sama dari Presiden China Xi Jinping yang juga menggunakan acara WEF di Davos pada bulan Januari lalu, China juga menyuarakan hal yang sama pada pertemuan negara-negara G-20 di Jerman  bulan Maret lalu. Intinya, untuk melawan upaya AS, dan menolak proteksionisme yang digembar-gemborkannya.

Tanpa sistem perdagangan bebas, berbasis peraturan yang berlaku saat ini, tidak terbayangkan ekonomi China bisa masuk ke sistem perekonomian dunia, kata Li.

“Globalisasi ekonomi telah banyak memfasilitasi arus barang, modal dan personil,” jelasnya.

Li juga mengatakan, pemerintah China akan melonggarkan akses pasar ke sektor jasa dan manufaktur, untuk mengatasi keluhan utama pebisnis asing yang beroperasi di China. China juga berjanji akan  berbuat lebih banyak untuk menarik investasi dan “memotong pita merah” bagi perusahaan asing.

“Negara ini akan memperlakukan bisnis domestik dan asing dengan cara yang sama,” katanya.

Tidak ada batasan

Dengan disaksikan eksekutif perusahaan asing seperti International Business Machines Corp. dan McKinsey & Co di antara para audiens, Li menanggapi kekhawatiran bahwa kontrol modal ketat yang diterapkan China untuk menjaga agar mata uang tetap stabil akan membatasi perusahaan untuk memindahkan keuntungan mereka keluar dari perbatasan. Investasi langsung asing turun pada bulan Mei dan April dari tahun sebelumnya.

“Tidak akan ada batasan pada arus keuntungan Anda,” kata Li.

Li mengakui bahwa manfaat globalisasi memang belum dirasakan semua orang, tapi menurutnya solusinya adalah memperkuat peraturan dan institusi perdagangan global, memperhitungkan masalah yang dirasakan oleh mitra dagang dan menghindari permainan yang salah.

“Sama seperti halnya saat kita menyengat pergelangan kaki saat berjalan di sebuah jalan, kita seharusnya tidak menyalahkan jalannya sehingga menghentikan perjalanan,” katanya.

“Kita perlu beradaptasi,” jelas Li.

Negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia ini diperkirakan akan melambat ekonominya daripada kuartal pertama, meskipun masih berada di atas target pertumbuhan, setidaknya 6,5%.

Pengangguran di China rendah

Li mengatakan bahwa ekonomi China telah mempertahankan pertumbuhan yang stabil di kuartal kedua, dan China akan dapat mempertahankan ekspansi dalam kisaran yang wajar. Tingkat pengangguran yang disurvei turun menjadi 4,9% di bulan Mei, “Angka terendah dalam beberapa tahun,” katanya.

Menurut sebuah Laporan dari Kantor Berita China, Xinhua, lebih dari 2.000 perwakilan dari kelompok politik, bisnis, masyarakat sipil, akademisi dan seni menghadiri konferensi yang diselenggarakan tanggal 27-29 Juni, yang juga dikenal sebagai ‘Summer Davos’, untuk membahas topik-topik dari pertumbuhan inklusif hingga ke “revolusi industri baru”.

Di tengah meningkatnya “keraguan” tentang globalisasi, baik di Amerika maupun Eropa, China seperti ingin meyakinkan dunia bahwa globalisasi dengan ‘pasar bebas’ sebagai instrumennya, masih merupakan jalur yang tepat menuju pertumbuhan ekonomi. Akankah China memimpin ekonomi global, setelah AS “menarik diri” dari globalisasi? Ataukah AS tengah menyiapkan strategi baru menghadapi  China yang mulai mendominasi dunia? Pertarungan dua raksasa mungkin masih panjang. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here