Di Malang, Jokowi Disambut Orasi Tuntutan Mahasiswa

0
110
Ilustrasi Demo Aliansi (Sumber: Pinterest)

Nusantara.news, Malang  – Kunjungan Presiden RI, Ir Joko Widodo (Jokowi) ke Kota Malang dalam rangka keberlanjutan pemberian Kartu Indonesia Pintar (KIP) di beberapa sekolah Kota Malang yang kemudian dilanjutkan memberikan sambutan serta orasi ilmiah terkait wawasan kebangsaan di Dome Universitas Muhammadiyah Malang.

Kunjungannya disambut dengan beberapa tuntutan oleh sejumlah mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Malang (AMM). Sekumpulan mahasiwa tersebut menggelar aksi di sebrang gapura UMM pada Sabtu, (3/6/2017) sekitar pukul 08.43 WIB.

Dengan isu besar yang diambil terkait Pengawalan Pemerintahan dalam Kebijakan Hukum, mereka melayangkan beberapa poin tuntutan yakni: 1. Hentikan komersialisasi pendidikan melalui Undang-Undang Perguruan Tinggi; 2. Hentikan perampasan tanah, upah, lapangan kerja dan hak masyarakat; 3. Cabut PP 78 berikan upah layak; 4. Berikan pelayanan gratis untuk masyarakat; 5. Hentikan isu SARA yang ramai di tanah air kini.

Aliansi Mahasiswa Malang terdiri dari organisasi BEMU Unisma (Universitas Islam Malang), BEMU UM (Universitas Negeri Malang), BEMU Unikama (Universitas Kanjuruhan Malang), FMN (Front Mahasiswa Nasional), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), dan PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Kanjuruhan.

Namun sekitar pukul 11.40 WIB, aksi mahasiswa tersebut sempat terjadi gesekan dengan pihak aparat pengamanan kedatangan Presiden. Pihak aparat sempat merampas megaphone milik peserta aksi. Pasalnya, pihak aparat menduga aksi tersebut tanpa mengantongi izin yang lengkap.

Perwakilan IMM Malang Raya, Fajrin Fadlillah menjelaskan, pembubaran yang dilakukam tersebut disertai dengan perampasan beberapa perlengkapan aksi. Seperti megaphone, bendera, dan poster. “Bahkan sempat terjadi pemukulan pada salah seorang anggota yang ikut berdemo.” jelasnya.

Padahal, sebelum menggelar aksi, menurutnya mereka telah mengantongi izin lengkap dengan surat-suratnya. Namun dalam pembubaran, aparat tidak memberi alasan apapun terkait pembubaran tersebut.

Aparat yang membubarkan kami bilang karena ini RI 1 yang datang maka harus di sterilkan dan diamankan dari berbagai bentuk ancaman. “Padahal aksi kita hanya mimbar bebas dengan tujuan propaganda. Tidak sampai memblokade atau mengganggu Jokowi dan agenda pengajian di Dome,” tandas Fajrin.

Dalam aksinya itu, mereka menuntut agar kesejahteraan rakyat Indonesia diperhatikan, mulai dari pendidikan sampai dengan upah pekerja. Namun sebelum kedatangan orang nomor satu di Indonesia itu ke kampus putih, massa dibubarkan.

Pihaknya merasa kecewa atas sikap represif aparat di negara demokrasi ini. “Seharusnya kami bebas menyuarakan suara kami, dan sudah dijamin pada UUD berhak menyatakan pendapat didepan umum dan kebebasan berekspresi, padahal pemberitahuan sudah kami layangkan,” tuturnya.

Ia membingungkan, sebenarnya siapa yang salah dan melanggar peraturan apabila kondisi seperti ini, “Kebebasan berekspresi dan unjuk rasa serta menyatakan pendapat didepan umum seakan dibungkam, seperti jaman Orba saja.” tutup Aktivis UMM tersebut.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here