Di Pakistan, Pengusaha Lokal Terganggu Ekspansi Ekonomi Cina

0
232
Sebuah truk melintasi Jalan Raya Persahabatan China-Pakistan di kawasan pegunungan Karakoram dekat Tashkurgan provinsi Xinjiang, Cina barat. Foto: AFP

Nusantara.news – Ekspansi ekonomi Cina ke seluruh dunia kerap merugikan pelaku usaha lokal atau kalangan pribumi. “Penguasaan” ekonomi  dengan cara investasi besar-besaran kerap kali membuat Cina, secara sewenang-wenang, merasa dapat memaksakan kehendak “mengatur” negara penerima  investasi. Ini terjadi di banyak negara, salah satunya di negara yang berbatasan dengan Cina, Pakistan.

Dalam kerangka One Belt One Road (OBOR), ambisi Cina untuk membangun jalur sutra baru (new silk road) Cina berinvestasi sejumlah infrastruktur di Pakistan dalam kerja sama China-Pakistan Economic Coridor (CPEC). Salah satu programnya, membangun jalan raya yang terbentang antara Cina-Pakistan sepanjang lebih dari 1.300 kilometer.

Bagi Cina proyek tersebut adalah investasi untuk mewujudkan ambisi menghidupkan jalur sutra kono yang akan menghubungkan perusahaan-perusahaan Cina ke pasar global di seluruh dunia. Pada tahun 2013 Beijing dan Islamabad menandatangani perjanjian senilai USD 46 miliar untuk membangun infrastruktur transportasi dan energi di sepanjang koridor tersebut. Cina telah memperbaiki jalan-jalan raya di pegunungan Pakistan Karakoram.

Investasi Cina juga tidak terbatas di Pakistan, Cina juga berambisi untuk melakukan kerja sama trilateral dengan Afganistan, negara tetangganya yang lain. Pakistan dan Afganistan adalah dua negara yang saling bermusuhan. Faktor keamanan menjadi tantangan bagi Cina, tapi Cina punya kepentingan lebih besar di dua negara ini sebagai jalur ke pasar global.

Saat ini sedikitnya ada 6 proyek yang digadang-gadang sebagai kerja sama trilateral Cina, Pakistan, dan Afganistan seperti motorway Peshawar-Kabul, kereta Landi Kotal-Jalalabad, kereta Boldak Chaman-Cardiff, bendungan pembangkit listrik tenaga air di Sungai Kunar, jalur transmisi listrik Turkmenistan-Afghanistan-Pakistan, dan jalan Raya trans-Afghan ke Asia Tengah dari Peshawar, Pakistan. Proyek ini, bersama dengan jalur kereta api Logar-Torkham menjadi bagian dari CPEC.

Apakah proyek-proyek investasi Cina itu menguntungkan warga Pakistan? Secara teori seharusnya demikian, jika kerja sama antara Pakistan dengan Cina bersifat adil.

Tapi fakta kadangkala tidak selalu sesuai dengan teori. Sebagaimana dilansir sebuah media India The Economic Times, pembangunan jalan raya Cina-Pakistan sepanjang lebih dari 1.300 kilometer itu tidak banyak menguntungkan pengusaha lokal di Pakistan bahkan cenderung menghancurkan impian kesejahteraan mereka.

Bagi Cina, jalan raya itu mungkin melambangkan kemitraan dua arah yang berkembang antar-kedua negara, di mana Cina telah mengeluarkan puluhan miliar investasi untuk infrastruktur.

Tapi bagi kebanyakan pengusaha Pakistan yang tinggal dan berusaha di wilayah perbatasan Cina-Pakistan, jalan itu semacam jalan satu arah belaka.

“Cina mengatakan persahabatan kita setinggi Himalaya dan sedalam lautan, tapi mereka tidak punya hati,” kata pengusaha Pakistan Murad Shah di Tashkurgan, wilayah perbatasan Cina-Pakistan.

“Tidak ada keuntungan bagi Pakistan, ini semua tentang perluasan pertumbuhan China,” kata Shah, saat ia merapikan barang dagangannya, batu mulia, sebagaimana dilansir The Economic Times (3/8).

Jadi, ketika kedua negara mengklaim bahwa proyek investasi tersebut saling menguntungkan, sementara data menunjukkan cerita yang berbeda.

Faktanya, ekspor Pakistan ke Cina turun hampir delapan persen pada paruh kedua tahun 2016, sementara impor Pakistan dari Cina melonjak hampir 29 persen.

Pada bulan Mei lalu, Pakistan menuduh Cina membanjiri pasarnya dengan baja kualitas rendah dan mengancam akan meresponsnya dengan tarif yang tinggi.

“Ada semua harapan dan impian tentang ekspor Pakistan,” kata Jonathan Hillman, peneliti  di Pusat Studi Strategis dan Internasional di Washington.

“Tapi jika Anda terhubung dengan China, apa yang akan Anda ekspor?” kata peneliti itu menyimpulkan bahwa kerja sama Cina-Pakistan hanya semata-mata mewujudkan ekspansi ekonomi Cina.

Produk khas yang dibawa para pedagang Pakistan ke Xinjiang hanyalah barang-barang konsumsi kecil seperti obat-obatan, perlengkapan mandi, batu semi mulia, permadani dan kerajinan tangan.

Para pengusaha Pakistan di Xinjiang pun melihat hanya sedikit manfaat dari CPEC, bahkan mereka justru mengeluhkan pengetatan keamanan di perbatasan yang mengganggu, serta adanya pengaturan bea cukai yang berubah-ubah.

“Jika Anda membawa sesuatu dari Cina, tidak akan bermasalah,” kata Muhammad, seorang pedagang di kota jalur sutra kuno Kashgar.

Tapi menurutnya, tarif barang impor dari Pakistan tidak pernah jelas. “Hari ini lima persen, besok mungkin 20 persen. Terkadang, mereka (petugas bea cukai di perbatasan) hanya mengatakan ini tidak diperbolehkan,” keluhnya.

Tiga tahun yang lalu, sebelum ada CPEC Shah hanya dikenai antara delapan hingga 15 yuan per kilo untuk membawa dagangan batu mulianya, sejenis batu biru. Sekarang, katanya, telah melonjak hingga menjadi 50 yuan per kilonya.

Sementara pejabat bea cukai berkilah dan mengatakan kepada AFP bahwa unsur-unsur yang mempengaruhi harga tarif amat banyak, tergantung barang yang dibawa, sehingga tidak mungkin memberikan perincian yang pasti.

“Pada saat importir skala besar dapat memangkas tarif, pedagang kecil justru hanya mendapat sedikit keuntungan dari CPEC,” kata Hasan Karrar, profesor ekonomi politik di Universitas Manajemen Ilmu Pengetahuan Lahore.

Alessandro Ripa, seorang ahli proyek infrastruktur Cina di Ludwig Maximilian University Munich, mengatakan bahwa jalan raya tersebut sejatinya tidak begitu relevan dengan perdagangan secara keseluruhan karena rute laut sebetulnya lebih murah dan lebih cepat.

Oleh karena itu, menurutnya, proyek infrastruktur ini lebih dipahami sebagai “alat” bagi Cina untuk mempromosikan kepentingan geopolitiknya dan membantu perusahaan yang kelebihan barang ekspor.

Pengetatan keamanan

Para pedagang Pakistan juga menghadapi pengamanan super ketat di Cina setelah CPEC. Misalnya, selama setahun terakhir, Beijing telah mengirimkan ke Xinjiang, dengan populasi Muslim besar, puluhan ribu petugas keamanan dan menerapkan peraturan ketat dengan alasan mencegah ekstremisme.

Para pengusaha Pakistan mengeluh, mereka tidak diizinkan beribadah di masjid-masjid lokal, sementara toko-toko juga dapat dikenai sanksi ditutup selama satu tahun ketika ketahuan mengimpor barang dagangan dengan huruf Arab.

Pada bulan Juni lalu, dalam perjalanan sepanjang 300 kilometer antara Kashgar dan Tashkurgan, pengemudi harus berhenti di enam pos pemeriksaan polisi, sementara para penumpang mereka harus berjalan melalui detektor logam dan menunjukkan kartu identitas.

Dari Kashgar, Muhammad, seorang pebisnis lokal berharap bahwa CPEC akan membuat hidup mereka lebih baik, tapi dia yakin jika sistem keamanan di perbatasan hingga Xinjiang malah menindas mereka, hal itu akan tetap menjadi kendala. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here