Di Tengah Krisis Qatar, Latihan Militer dengan Iran, Masihkah China Netral?

0
126
Armada kapal China berlabuh di kota pelabuhan Iran mulai hari Kamis lalu

Nusantara.news Sebagai negara besar dan relatif tidak terlibat secara langsung dalam krisis diplomatik negara-negara Teluk, China diharapkan bisa berperan sebagai mediator yang dapat mengakhiri krisis. Tapi beberapa hari ini, China dilaporkan mengadakan latihan militer bersama dengan Iran di Selat Hormuz, kawasan teluk Persia. Alih-alih meredakan ketegangan, China bisa memantik kecurigaan Arab Saudi bahwa negara itu memihak ke salah satu kubu, yakni Iran.

Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, yang lalu disusul oleh negara-negara Teluk lainnya serta Mesir dan Maladewa, salah satunya karena menuding Qatar bekerja sama dengan Iran menyokong pendanaan bagi terorisme di kawasan tersebut. Latihan militer dengan Iran, di saat situasi krisis Teluk belum mereda, tentu saja akan membuat situasi krisis semakin runyam. Lebih-lebih lagi, sebelum itu militer Qatar dan AS juga melakukan latihan bersama di Teluk Persia. Ini bisa menambah krisis baru di kawasan Teluk.

Xu Guangyu, seorang mantan jenderal China, mengatakan bahwa latihan terbaru antara Iran dan China sebagai pertanda bahwa hubungan kedua negara tetap bersahabat. Senada dengan yang selama ini dinyatakan pemerintah China, bahwa dalam hal konflik Timur Tengah China bersikap netral.

“Alih-alih berada dalam satu kubu antara Qatar dan negara-negara tetangganya di Timur Tengah,  China selalu bersikap netral,” katanya sebagaimana dilansir South China Morning Post.

Namun demikian, ketika China tampak lebih dekat ke Iran, dengan melakukan latihan bersama baru-baru ini, bukankah malah berisiko menimbulkan tudingan China berpihak ke salah satu kubu?

China dan Iran telah melakukan latihan angkatan laut bersama di di dekat Selat Hormuz, sebuah selat  strategis di Teluk Persia di tengah meningkatnya ketegangan di wilayah tersebut. Menurut kedua belah pihak, latihan ini hanyalah kegiatan rutin saja karena Iran dan China telah bekerja sama militer sejak lama.

Laksamana Muda Iran Hossein Azad mengatakan kedua angkatan laut tersebut telah berkolaborasi dan bertukar informasi mengenai pemberantasan pembajakan, mempertahankan armada perdagangan dan operasi penyelamatan.

Sementara itu, Komandan Angkatan Laut Iran Laksamana Muda Habibollah Sayyari mengatakan kepada wartawan pada hari Minggu lalu bahwa latihan angkatan laut baru-baru ini antara Iran dan China bertujuan untuk memastikan keamanan di Samudera Hindia utara dan Teluk Aden.

Kantor berita resmi Iran IRNA mengatakan latihan berlangsung pada hari Minggu (18/6) yang melibatkan sebuah kapal perang Iran dan dua kapal perusak (destroyer) milik China, sebuah kapal logistik dan satu helikopter. Angkatan Laut Iran mengirim kapal perusak Alborz, sebuah helikopter dan sekitar 700 personil dalam latihan tersebut.

Armada kapal China berlabuh di kota pelabuhan Iran mulai hari Kamis (15/6) lalu setelah sebelumnya berada di pelabuhan Karachi Pakistan, tempat kapal-kapal tersebut berlabuh dalam sebuah misi pelatihan.

Mengapa penting bagi China akhiri krisis Qatar?

China sebetulnya punya kepentingan besar, dalam hal ini kepentingan bisnis dan perdagangan, untuk menghentikan Krisis Qatar. Mengingat sebagian besar impor minyak ke China dari Timur Tengah melewati Selat Hormuz di Teluk Persia. Itulah sebabnya, China seharusnya mendorong perdamaian di kawasan tersebut, bukan malah terkesan “memanas-manasi” atau menaikkan suhu di antara pihak yang bertikai dengan, misalnya, melakukan latihan militer bersama Iran, apapun alasannya.

Negara-negara Teluk yang dipimpin Arab Saudi telah memutus hubungan diplomatik dengan Qatar, menuduhnya mendukung kelompok teroris yang didukung Iran. Dengan demikian langkah Saudi terhadap Qatar juga dipandang sebagai upaya untuk mengisolasi negara Syiah tersebut. Iran dan Arab Saudi telah lama mempunyai hubungan yang buruk.

Oleh karena itu, China memperluas hubungannya dengan Timur Tengah untuk menciptakan keseimbangan antara Arab Saudi dan Iran. Bahkan pada saat kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud beberapa waktu lalu, Presiden China Xi Jinping telah berjanji untuk mendorong perdamaian antara Arab Saudi dan Iran.

Hubungan Beijing dengan Riyadh dan Teheran sangat baik. Beijing telah menandatangani kesepakatan perdagangan yang menguntungkan dengan Riyadh, tapi juga mengatakan mendukung keinginan  Teheran untuk bergabung dengan Shanghai Cooperation Organization (SCO), sebuah blok keamanan yang terdiri dari negara-negara China, Pakistan, India dan Asia Tengah, yang secara luas dipandang sebagai penyeimbang bagi NATO.

Mengakhiri krisis diplomatik negara-negara Teluk dengan mengisolasi Qatar adalah penting bagi China. Collin Koh, pengamat urusan militer dari Nanyang Technological University Singapura, mengatakan latihan tersebut mencerminkan keinginan China untuk mengambil peran lebih besar baik secara ekonomi maupun strategis.

“Kita bisa melihat latihan gabungan tersebut sebagai manifestasi dari keseimbangan kepentingan Beijing di Timur Tengah, dimana mereka tidak hanya memiliki kepentingan ekonomi, tapi juga strategis,” kata Koh.

“Ini akan membuat kepentingan strategis China, karena sangat bergantung pada akses yang aman  untuk pasokan energi dari kawasan tersebut, untuk terus menumbuhkan hubungan dekat dengan Teheran,” tambahnya.

China mengatakan kepada Iran, bahwa mengingat krisis dengan Qatar, stabilitas di Teluk adalah yang terbaik.

Sementara itu, Anthony Wong Dong, pakar urusan militer yang berbasis di Makau, mengatakan bahwa China siap untuk meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah untuk mendukung inisiatif “Belt and Road” atau OBOR dan akan banyak melibatkan wilayah tersebut.

China, sebetulnya bisa mengambil inisiatif lebih jauh dengan menjadi mediator antara negara-negara Teluk untuk menghentikan, atau setidaknya mengurangi krisis diplomatik yang terjadi di kawasan ini. Apalagi China punya hubungan baik dengan Arab Saudi maupun Iran. Bukan hanya terkesan sekadar “mengamankan” jalur ekonomi dan perdagangan yang terkait langsung dengan China. Sebab, jika kawasan Teluk ini aman, maka bisnis China di kawasan ini juga aman, apalagi inisiatif OBOR akan melibatkan negara-negara Arab. China, jelas punya kepentingan dan potensi agar menjaga kawasan Teluk tetap aman dan kondusif, tanpa mengesampingkan potensi dari negara besar lain, termasuk Indonesia yang tampaknya masih berdiam diri saja. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here