Diaspora Indonesia di Belanda Cemaskan Hasutan Wilders

0
435
Umat Islam Indonesia dalam sebuah acara di Masjid Al Hikmah milik komunitas Indonesia di Den Haag.

Nusantara.news, Den Haag – Masjid Al Hikmah yang berlokasi di Medlerstraat, Den Haag, adalah pusat kegiatan muslim asal Indonesia di Belanda. Setiap Sabtu malam mereka mengisi liburan dengan main rebana bakda shalat maghrib.

Masjid yang sebelumnya adalah reruntuhan gereja tua itu dibangun berkat sumbangan komunitas muslim, pengusaha dan pejabat Indonesia dan diresmikan tahun 1996.

Malam itu, Sabtu (9/3), Al-Hikmah kedatangan tamu seorang profesor perempuan asal Jepang yang ingin belajar makanan halal. Ada juga tamu warga Belanda yang baru memeluk Islam setelah menikahi gadis asal Indonesia. Suasana ruang pertemuan menjadi tak asing bagi siapa pun warga Indonesia yang berkunjung ke sana.

Diaspora Muslim

Namun menguatnya pengaruh Partij voor de Vrijheid (PVV), partai sayap kanan yang didirikan Geert Wilders tahun 2005 yang anti-Islam dan antipendatang membuat umat Islam asal Indonesia di Belanda cemas.

Eddy Sandino sudah memiliki partai politik pilihannya yang anti-Wilders

Takmir Masjid Al-Hikmah Eddy Sandino

Sebut saja Eddy Sandino, pria asal Indonesia yang sudah 35 tahun bermukim di Belanda. “Ya agak khawatir juga walau tidak menjadi ketakutan. Soalnya masalah-masalah seperti itu baru muncul belakangan. Dulu rasanya tidak ada,” ujar Eddy yang selain mengelola masjid Al-Hikmah juga menjabat Wakil Ketua Persatuan Muslim Eropa.

Namun Eddy meyakini, partainya Wilders pada Pemilu Rabu (15/3) siang tadi tidak akan menjadi partai pemerintah atau masuk koalisi partai pemerintah seperti yang sudah-sudah.

“Saya punya partai yang saya dukung, tapi sebetulnya ada beberapa partai yang hampir sama, mirip-mirip, yaitu anti-Wilders karena cara pikirnya itu tidak logis,” tambah Eddy yang sejak menjadi warga negara Belanda 2 tahun lalu akan menggunakan hak pilih untuk pertama kalinya.

Selama 35 tahun tinggal di Belanda, Eddy tidak pernah mengalami insiden rasisme atas warga Muslim Indonesia yang tinggal di Den Haag. Bahkan dia mengklaim, kondisi di Den Haag lebih tenang untuk beribadah ketimbang sejumlah tempat di tanah air.

“Kalau saya mau jujur, saya (lebih) mengalami diskriminasi di Indonesia daripada di Belanda. Kita lihat beberapa tahun yang lalu kan ada ribut antara agama Islam dengan agama yang lain. Ada yang disogok untuk bikin rusuh,” tudingnya.

Bagaimana dengan nasib muslimah di Belanda? Wati Cahyono yang juga seorang anggota jamaah Al-Hikmah mengaku sudah puluhan tahun tinggal di Belanda dan berhijab. Sebagai muslimah, Wati mengaku hanya sekali-kali menghadapi masalah di tempat kerjanya.

“Alhamdulillah selama saya memakai jilbab tidak ada yang pernah mengganggu. Tapi di kantor saya pernah ditanya ‘kenapa kamu harus pakai jilbab. Saya menjawab karena saya Muslim, saya pribadi wajib mengenakan jilbab’. Mereka mengerti dan tidak ada masalah lagi.”

Namun Wati enggan bicara soal politik saat ditanya BBC tentang jargon-jargon antipendatang dan anti-Islam yang diteriakkan pendukung Wilders. “Saya tidak mau bicara soal politik karena saya kurang mengerti,” tepisnya.

Diaspora Non Muslim

Namun bagi warga asal Indonesia yang beragama Kristen, tantangannya tentu tidak sesulit yang dihadapi warga muslim. Murni Yanti Hutagaol, misalnya, yang menikah dengan pria Belanda memang ingin suatu saat nanti tetap pulang ke Indonesia, tapi lebih karena urusan cuaca semata.

Penguasaan bahasa Belanda, menurut Murni Yanti Hutagaol, merupakan faktor yang membantu integrasi.

Murni Yanti Hutagaol yang bercita-cita pulang ke Indonesia

“Di sini dingin, dan kalau sudah pensiun kami mungkin mau pulang ke Indonesia,” ujar Murni yang bekerja di kantor pekerjaan umum di Den Haag. Karena keinginannya pensiun di tanah air, Murni tetap mempertahankan kewarganegaraan Indonesianya.

Yanti mengakui tidak banyak masalah yang dihadapi warga keturunan Indonesia di Belanda, antara lain karena rata-rata orang keturunan Indonesia bisa berbahasa Belanda.

“Lain dengan orang Maroko, misalnya, banyak yang tidak lancar Bahasa Belanda, jadi kan susah berintegrasi sama masyarakat setempat. Mereka banyak yang masih berbahasa Arab. Kalau orang Indonesia sepertinya tidak ada masalah.”

Namun Yanti bisa memahami pandangan Wilders tentang para pendatang yang menurutnya memang semakin banyak di Belanda. “Saya kira bagi banyak orang Belanda, pandangannya mungkin ada benarnya. Tapi masalahnya Wilders itu terlalu rasis,” “terang Yanti.

Kebangkitan Sayap Kanan

Dalam pandangan Guru Besar Universitas Leiden Profesor Henk Schulte Nordholt, ada tiga penyebab bangkitnya gerakan populis aliran kanan di Belanda, satu diantaranya justru karena tidak adanya lagi politik aliran di Belanda.

Hasil gambar untuk professor henk schulte nordholt

Guru Besar Universitas Leiden Profesor Henk Schulte Nordholt

Sebelumnya, ungkap Henk, Belanda seperti halnya Indonesia. Politik aliran begitu eksis. Ada golongan Kristen Protestan, Kristen Katolik, aliran liberal, aliran sosialis. Dunia itu aman, ada konformasi, ada toleransi terhadap aliran lain.

Namun sistem aliran itu mulai kehilangan pengaruh sejak sekularisasi yang berjalan begitu cepat sejak 1960-an. “Sistem aliran itu bukan kelas karena orang yang miskin masuk dalam aliran yang sama juga, sehingga ada perasaan aman dilindungi bapak-bapak di atas. Waktu aliran runtuh, tidak ada bapak lagi dan banyak orang yang di bawah merasa tertinggal, mereka merasa menjadi yatim piatu,”terang Henk.

Kedua adalah faktor neoliberalisme. Selama ekonomi tumbuh mungkin tidak begitu masalah. Namun begitu ada stagnasi ekonomi, dan juga ada globalisasi maka orang merasa terancam dan tidak terlindungi lagi. Perbatasan dibuka dan ada pengaruh globalisasi. Jadi neoliberalisme juga faktor yang amat penting.

Bersamaan dengan globalisasi, ada pendatang yang masuk, dan ada Islam, yang sebenarnya juga merasa terancam oleh globalisasi. Tapi semua ancaman dari luar disebut Islam, walaupun ancaman dari luar itu jelas lebih luas, lebih rumit.

Dan ketiga ada persoalan meritokrasi. Itu yang membuat kenapa banyak pengikut Wilders begitu marah terhadap elite? Karena ada perbedaan meritokrasi yang muncul, seperti di Amerika Serikat. Banyak orang yang pendidikannya tidak terlalu tinggi juga merasa tertinggal.

Meritokrasi modern -manajemen politik yang modern- sama sekali tidak mengerti kehidupan dan pengalaman sehari-hari orang tua, yang tidak bisa masuk internet, misalnya.

“Jadi ada keruntuhan aliran, muculnya meritokrasi, dan globalisasi. Itu tiga proses yang menimbulkan gerakan populis,”tandas Henk.

Henk juga menambahkan, bagi banyak pendukung Wilders, bukan isu Islam yang paling penting. Wilders memang selalu menegaskan masalah Islam, tetapi saya kira kebanyakan pengikutnya lebih pada perasaan tertinggal.”

Wilders Tidak Menang

Namun meskipun banyak masyarakat di Belanda yang tidak begitu yakin, PVV yang anti pendatang dan anti Islam akan memangkan pemilu, namun sentimen yang dibangun Wilders akan menjadi persoalan tersendiri di masa depan.

Sebut saja di sekitar kampus Universitas Leiden, PVV tidak akan mendapatkan banyak dukungan. Sebab Leiden dikenal sebagai basis partai sayap kiri, seperti GroenLinks (Partai Hijau) dan Partai Sosialis.

Di luar stasiun kereta api -tak jauh dari para pegiat partai DD66, GroinLinks, Partai Sosial- Rachel Manuhutu -yang lahir di Belanda dari ayah dan ibu orang Indonesia- sedang ngobrol dengan kedua temannya.

Bersama temannya, Rachel Manuhutu (kanan berkacamata) bersemangat menggunakan hak pilih mereka yang pertama.

Rachel Manuhutu, kanan berkaca-mata, pemilih Partai Sosialis

Mahasiswa jurusan Therapy Music yang berusia 18 tahun ini akan memilih untuk pertama kalinya dalam pemilu 2017-dan mengaku bersemangat untuk memberikan suaranya.

“Saya akan memilih karena perlu untuk ikut memberi perhatian kepada pemerintahan. Kalau saya bilang, saya tak milih karena kawan saya saja yang milih, bisa jadi kawan saya juga mikir seperti itu. Jadi tidak ada yang ikut milih,” katanya dalam Bahasa Indonesia yang sesekali dicampur dengan Bahasa Inggris karena beberapa kata yang dia sudah lupa.

Pilihannya adalah Partai Sosialis dengan prinsip kesetaraannya dan menyediakan pendidikan untuk semua kalangan, “Jadi bukan hanya orang kaya saja yang bisa mendapat pendidikan tinggi.”

Terlepas dari kecilnya peluang partai pimpinan Wilders merebut kekuasaan, tetap muncul kekhawatiran, jelas Lea Pamungkas, mantan wartawan Indonesia yang kini bekerja di sebuah rumah produksi film di Amsterdam.

“Sopan santun politik itu rasanya tidak ada lagi. Bayangkan partai politik melakukan perdebatan tentang agama, kan rasanya tidak tepat.”

Lea Pamungkas menyayangkan hilangnya sopan santun politik di Belanda.

Lea Pamungkas sayangkan hilangnya sopan santun politik

Lea yakin bahwa isu sebenarnya bukan Islam namun kedatangan para pengungsi dari negara-negara Islam yang dilanda perang, yang menjadi beban ekonomi bagi pemerintah-pemerintah daerah sehingga berdampak pada munculnya persepsi berkurangnya perhatian pada masyarakat setempat.

“Di beberapa kampung, misalnya, ada yang jumlah warganya sekitar 1.500 namun menerima pengungsi sampai 2.000-an,” jelas perempuan yang aktif sebagai sukarelawan dalam Pengadilan Rakyat untuk kasus pembunuhan massal 1965 yang digelar di Den Haag akhir 2015 lalu.

Bagaimanapun sebagai warga Indonesia, Lea secara pribadi mengaku tidak khawatir akan menghadapi diskriminasi di tengah meningkatnya politik kanan di Belanda.

“Kalau orang Asia, seperti Indonesia, Cina, dan Thailand, tidak menghadapi masalah tapi Turki dan Maroko mungkin saja, karena prasangka rasial Wilders itu ditujukan kepada warga Arab dan Islam.” []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here