Dibawa ke Rutan KPK, “Bakpao” di Kepala Setnov Menghilang

0
3897
Tersangka kasus korupsi KTP Elektronik Setya Novanto tiba di gedung KPK, Jakarta, Minggu (19/11). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean/foc/17.

Nusantara.news, Jakarta – Malam ini, Senin (20/11) dini hari, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memindahkan Setyo Novanto dari ruang perawatan ke kantor KPK. Dengan mengenakan rompi oranye sudah dipastikan Novanto bukan sekedar menjalani pemeriksaan, melainkan secara resmi telah menjadi tahanan KPK.

Kepastian itu didapat saat Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan dalam jumpa pers di Ruang Kencana, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Salemba, Jakarta Pusat, Minggu (19/11) pukul 23.00 malam. Üntuk pemindahan direncanakan dilakukan mala mini,”ucapnya.

Turut hadir mendampingi Febri dalam jumpa pers itu, antara lain Direksi RSCM dan perwakilan dari IDI yang melakukan supervisi atas pemeriksaan kesehatan terhadap Setnov. Hasil dari pemeriksaan dokter menyebutkan, Setnov tak perlu menjalani rawat inap lagi.

Sebelumnya, saat Setnov dipindahkan pemeriksaannya dari RS Media Permata Hijau ke RSCM dengan alasan MRI rusak, KPK tidak ingin buruannya kembali lepas dengan menetapkannya sebagai tahanan KPK yang dibantarkan ke RSCM. Dengan demikian seluruh biaya perawatan ditanggung oleh KPK.

Mengutip keterangan Direktur RSCM Dr.dr. CH Soejono, SpDP, berdasarkan hasil serangkaian pemeriksaan menyebutkan kondisi kesehatan Novanto membaik, sehingga tidak diperlukan lagi rawat inap.

“Benar adanya, bahwa sejak Jumat yang lalu pasien SN itu dikirim dari RS sebelumnya ke RSCM untuk dilakukan serangkaian pemeriksaan. Dan kemudian Jumat tersebut, Sabtu sampai Minggu ini serangkaian wawancara medis dan pemeriksaan jasmani dan beberapa pemeriksaan penunjang dilakukan untuk menyimpulkan bagaimana kondisi kesehatan dan memberikan pentatalaksanaan sesuai yang dibutuhkan,”terang Soejono.

Bakpaonya Mana

Tak lama setelah itu, Setnov yang telah mengenakan rompi oranye dengan menggunakan kursi roda langsung dibawa ke mobil KPK. Paling tidak untuk penjemputan Setnov malam itu KPK telah menyiapkan 7 mobil. Satu mobil tahanan dan lainnya mobil pengawal.

Meskipun didorong menggunakan kursi roda, tapi saar dibawa ke KPK tidak ada perban lagi membalut kepala Setnov sebagaimana gambar di ponsel yang ditunjukkan pengacaranya kepada wartawan. Setnov dibawa ke rutan KPK sekitar pukul 23.30.  Sejumlah wartawan berebut mengabadikan kejadian itu.

Seperti tampak pada gambar, Setnov tampil dengan rompi oranye. Tubuhnya tampak sedikit kurus dengan raut muka tidak berkenan. Tidak terlihat sosok Fredrich Yunadi yang mendampingi saat Setnov tiba di kantor KPK. Mungkin dia berada di antara kerumunan di belakangnya. Sebab sebelum mengenakan seragam oranye di RSCM, Fredrich masih tampak mendampingi kliennya.

Bekas benjolan sebesar bakpao sebagaimana diilustrasikan oleh pengacaranya, Fredrich Yunadi tidak terlihat lagi di kepalanya. Padahal sebelumnya, Fredrich Yunadi menyebut kecelakaan tunggal itu membuat Setyo Novanto yang duduk di tengah dalam kondisi parah. “Mobilnya hancur cur,”begitu kata Fredrich berusaha meyakinkan wartawan.

Tapi kejadian itu justru ditanggapi masyarakat dengan parodi “Tiang Listrik”dengan berbagai versi. Padahal tiang listrik yang dikabarkan ditabrak mobil yang membawa Setyo Novanto tetap tegak. Hanya terlihat sedikit lecet. Sepanjang Sabtu hingga Minggu siang tiang listrik itu menjadi tontonan warga.

Desakan Munaslub

Dengan ditahannya Setyo Novanto yang masih menjabat Ketua Umum Partai Golkar, tuntutan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) dari berbagai daerah semakin kencang. Sebagai indikasi saat Sekjen DPP Partai Golkar Idrus Marham dengan didampingi fungsionaris DPP Yahya Zaini mengundang DPD I Golkar pada Kamis (16/11) lalu hanya di hadiri oleh 12 DPD I dan ada diantaranya yang hadir bukan Ketua.

Di acara Musyawarah Nasional (Munas) Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) di Medan, Sumatera Utara, pada Sabtu (18/11) lalu, Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Golkar Akbar Tanjung mendesak partainya segera menggelar Munaslub terkait kasus hukum yang menjerat Ketua Umum DPP Partai Golkar Setyo Novanto.

“Yang paling efektif, paling memiliki legitimasi tinggi dan efentif melalui Munas,”terang Akbar Tanjung di sela-sela Munas Kahmi ke-10 di Medan.  Munas itu penting, lanjut Akbar, karena elektabilitas partai yang pernah dipimpinnya it uterus merosot ke angka di bawah 6 persen. “Kalau sudah di bawah 4 persen bahaya. Golkar bisa tidak mengirimkan wakilnya di DPR,” tegasnya.

Calon pemimpin Golkar ke depan, lanjut Akbar, harus membawa tema baru dan menjauhkan diri dari kepentngan pribadi. Sedangkan Novanto, saran Akbar, lebih baik fokus menjalani proses hukum setelah KPK kembali menetapkannya sebagai tersangka. Terlebih, lanjut Akbar, dalam persidangan nama sejumlah perusahaan Novanto disebut-sebut terlibat proyek pengadaan KTP elektronik.

Desakan Munaslub juga menggema di kalangan kader muda Partai Golkar. Sebut saja kelompok yang menamakan diri Inisiator Gerakan Muda Partai Golkar yang dipimpin oleh Mirwan BZ Vauly. “Saya kira penting bagi Partai Golkar segera mengambil tindakan strategis dan tegas dalam waktu sesingkat-singkatnya, paling lambat Desember, Munaslub dilaksanakan,”ujarnya.

Hal senada diungkapkan kader senior Partai Golkar, Agung Laksono yang sekarang menjabat Ketua Dewan Pakar.  Mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar versi Munas Ancol itu berharap Munaslub Golkar diselenggarakan paling lambat akhir tahun 2017. “Minggu depan baru diputuskan. Tapi saya berharap Munaslub dapat dilaksanakan akhir tahun ini juga,” ujarnya.

Desakan Munaslub kabarnya sudah didukung oleh 21 diantara 34 DPD I Partai Golkar se-Indonesia. Dengan ditahannya Setnov yang kini berseragam oranye di Rutan KPK, desakan diperkirakan akan terus menguat pada pekan ini. Namun apa pun mekanisme yang nanti digunakan yang jelas Cerita Setnov sudah tamat.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here