Dibubarkan, dan Foto Bareng

0
194
Foto: caknun.com

Di tahun 1991 sesudah hampir dua puluh tahun tidak ada demonstrasi mahasiswa, sahabat-sahabat muda Mbah Markesot bikin acara demo besar di Boulevard Universitas Gadjah Mada, yang diberi judul “Anti Kekerasan”. Ada sesi pembakaran patung Pak Harto. Orator aktivis mahasiswa yang naik panggung adalah Taufiq Rahzen, Rizal Mallarangeng, dan Brotoseno. Begitu masing-masing selesai pidato, sudah disiapkan kendaraan untuk membawa mereka ke suatu tempat yang aman.

Ternyata pasukan TNI dan Polri datang dalam jumlah besar, dipimpin langsung oleh Danrem dan Kapolda. Ketika demo selesai, para orator sudah diangkut menghilang. Massa yang selama sejam lebih teriak riuh rendah, teriak-teriak, mengacung-acungkan tinju: surut pelan-pelan. Tinggal Mbah Markesot. Kenapa dia kok masih di situ? Apakah Mbah Sot seorang pemberani sehingga pasang badan? Tidak. Sama sekali tidak.

Speaker butut yang dipakai untuk pidato-pidato di acara demo itu memakai accu Jeep kuno bututnya Mbah Sot. Jadi kalau Mbah Sot mau lari, harus mengangkutnya dulu dari area demo menuju tempat parkir yang lumayan jauh, kemudian memasang kembali di mesin Jeep. Dengan sekedipan mata pasukan akan dengan mudah menangkapnya. Sebab dengan mudah ketahuan bahwa orang tua ini provokator demo itu. Apalagi Pak Harto enak-enak duduk di Istana merokok klobot, kok dibikin patung di Yogya, lantas dibakar. Itu penghinaan kepada Kepala Negara.

Maka daripada Mbah Sot salah tingkah, ia berjalan mendatangi Pak Danrem dan Pak Kapolda. Mbah Sot tanya kepada beliau berdua, “Bagus enggak Pak acara tadi?” Ternyata beliau berdua spontan menjawab, “O bagus! Bagus!” Mungkin memang bagus betul menurut penilaian beliau berdua, atau mungkin spontan terkena sugesti Mbah Sot.

Menurut Pakde Tarmihim, Mbah Sot itu seperti siluman. Bukan siapa-siapa, tapi ternyata temannya sangat banyak. Bukan tokoh, tapi nongol di mana-mana. Termasuk di kalangan mahasiswa. Banyak teman-teman di sekitar yang tidak paham-paham amat apa yang sebenarnya dilakukan atau diperjuangkan oleh Markesot. Ketika dikejar, Markesot hanya menjawab, “Fa idza faraghta fanshab, wa ila Robbika farghab”.

Suatu ketika para aktivis mahasiswa Islam berkumpul di sebuah Masjid dekat kampus Unibraw Malang, dan entah bagaimana ceritanya kok Mbah Sot yang bicara. Tapi tiba-tiba Ketua Panitia setengah berlari mendatangi Mbah Sot di depan, menginformasikan bahwa ada tamu Dandim dengan sejumlah prajurit. Mbah Sot langsung lompat dan berlari keluar ruangan, menemui beliau Komandan.

Mbah Sot menyalami dan merangkulnya sambil berbisik, “Pak kita sama-sama orang tua. Percayakan kepada saya menemani anak-anak kita ini belajar ber-Negara dan melatih kecerdasan Demokrasi. Kapan-kapan undang mereka ke rumah dinas Sampeyan, disembelihin ayam untuk jamuan makan siang atau malam. Sampeyan tunggu di sini, insyaallah aman semua. Nanti kita cari makan bareng dengan para prajurit.” Kemudian Mbah Sot balik ke ruangan dan meneruskan acara. Entah bagaimana pimpinan prajurit itu duduk-duduk saja di luar dan menunggu Mbah Sot selesai acara. Kemudian mereka pergi bersama seperti teman lama.

Sejumlah teman membuntuti ke mana mereka pergi, tapi kehilangan jejak. Ketemu-ketemu di kantor Kodim mereka sedang foto-foto. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here