Dicari Gubernur Federal Reserve Sekualitas Greenspan

0
74
Federal Reserve pada Februari 2018 akan memiliki Gubernur baru, bisa jadi calon-calon kuat yang bakal memimpin, tapi tak menutup kemungkinan Janet Yellen kembali terpilih

Nusantara.news, Jakarta – Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat–The Federal Reserve–Janet Yellen aka mengakhiri masa jabatannya pada Februari 2018 mendatang. Sejumlah kandidat dinominasikan untuk menggantikan Yellen yang menjabat Gubernur The Fed sejak Februari 2014.

Dengan persoalan moneter yang cukup serius, Amerika hari ini sebenarnya membutuhkan sosok gubernur yang kuat. Publik di negeri Paman Sam mendambakan sosok gubernur bank sentral sekualitas Ben Bernanke, tapi lebih banyak lagi yang menginginkan sosok sekualitas Alan Greenspan.

Pertumbuhan ekonomi pada pertengahan awal 1990-an hingga 2003 mencapai rekor yang hanya tertandingi oleh angka pertumbuhan pada awal 1960-an. Alan Greenspan dianggap berhasil menciptakan sebuah kondisi moneter yang stabil dan predictable, yang memungkinkan terjadinya pertumbuhan ekonomi setinggi itu. Sebagian pengagumnya bahkan memberinya julukan sebagai the greatest central banker of all time.

 Para pengkritiknya, seperti Paul Krugman, mungkin benar dalam beberapa hal mengenai ketidakmampuan Greenspan dalam mencegah Presiden George W. Bush menggelembungkan defisit anggaran, atau dalam meramalkan terjadinya bubble di sektor perumahan sekian tahun lalu, yang menyebabkan terjadinya krisis di AS sekarang ini.

Namun, kalau toh hal-hal ini adalah sebuah kesalahan yang layak ditimpakan kepadanya, ia tak mengaburkan begitu banyak langkah-langkah Greenspan yang dianggap tepat dan konstruktif selama 18 tahun kepemimpinannya.

Saat ini, sedikitnya ada empat calon kandidat Gubernur The Fed untuk periode mendatang. Presiden AS Donald Trump sudah bertemu dengan empat calon pengganti Yellen tersebut dan akan segera mengambil keputusan.

Salah satu calon yang sudah bertemu Trump adalah  Kevin Warsh, mantan angota Dewan Gubernur The Fed. Warsh menjadi anggota Dewan Gubernur The  Fed periode 2006 hingga 2011. Namun kemudian ia mengundurkan diri karena menentang program pembelian obligasi oleh bank sentral atau yang dikenal dengan program quantitative easing yang diterapkan pasca krisis keuangan 2008 silam.

Warsh disebut-sebut memiliki kans cukup besar untuk dipilih Trump. Kebetulan pula sang ayah mertua Warsh yakni Ronald Lauder merupakan teman lama Trump, sebagaimana dilaporkan Reuters.

Warsh diketahui memiliki karakter yang sangat kontras dengan Yellen. Warsh spektrumnya lebih keras dan agresif dalam kebijakan (hawkish). Berbeda dengan Yellen yang lebih lentur dan pro pasar. Sepertinya dia kandidat terkuat meski bukan hal yang pasti dia akan dinominasikan, Warsh sering diidentikan dengan Greenspan.

Kandidat lain, Jerome Powell, salah satu anggota Dewan Gubernur The Fed periode sekarang juga masuk bakal calon pemimpin The Fed. Powell sudah bertemu dengan Trump pada awal pekan ini. Hanya saja, Trump tidak memberikan rincian soal pertemuan dengan Powell. Di The Fed, Powell lebih banyak mengurusi soal peraturan keuangan.

Selain Warsh dan Powell, ekonom Stanford University John Taylor dalam daftar kandidat untuk mengisi kursi Gubernur The Fed. Ada juga Gary Cohn, Ketua Penasihat Ekonomi Trump yang juga memiliki kans cukup kuat. Cohn merupakan seorang bankir, bekas petinggi Goldman Sach dan juga donatur Partai Republik.

Taylor, disebutkan memiliki karakter kebijakan yang mirip-mirip Greenspan, sehingga termasuk yang dinominasikan menduduki jabatan prestisius tersebut.

Trump sebelumnya juga disarankan agar menominasikan kembali Janet Yellen sebagai Gubernur The Fed. Trump pernah menyatakan, dia menghormati Yellen. Namun, agaknya Trump sudah punya pilihan lain.

Di bawah Yellen, The Fed telah menaikkan suku bunga dan kini menyiapkan rencana untuk mengecilkan neraca The Fed yang menggelembung hingga US$4,5 triliun. Neraca The Fed membesar akibat progarm pembelian obligasi. Menurut Yellen, program quantitative easing itu membantu mencegah penurunan ekonomi AS lebih dalam.

Guncang pasar

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo mencermati pergantian pimpinan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang dikhawatirkan memberikan sedikit guncangan di pasar keuangan. Dikhawatirkan juga ikut menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Kami mencermati pergantian pimpinan The Fed. Kalau belum ada kejelasan, bisa cukup bergejolak,” kata Agus beberapa waktu lalu.

Agus menilai, para pelaku pasar keuangan kini sudah tidak lagi dihantui ketidakpastian normalisasi neraca keuangan The Fed, maupun rencana reformasi perpajakan yang akan dilakukan Presiden AS Donald Trump. Justru yang kini menjadi perhatian adalah pergantian pimpinan The Fed.

Belum lagi kondisi geopolitik dan situasi di semenanjung Korea yang dikhawatirkan memberikan sentimen negatif terhadap rupiah. Namun, terlepas dari hal itu, BI meyakini, kondisi perekonomian domestik masih cukup kuat menahan gejolak eksternal.

“Secara umum, Indonesia menunjukkan pemulihan. Semoga bisa lebih cepat,” kata mantan menteri keuangan itu.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate BI, rupiah pada hari ini berada di level Rp13.639 per dolar AS.

Agus menyebut, level rupiah di kisaran itu telah mencerminkan kondisi fundamental ekonomi yang sebenarnya. BI pun menegaskan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai dengan nilai fundamentalnya, dan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar.

“Nilai tukar rupiah sekarang kompetitif. Kami di BI selalu ingin kurs mencerminkan fundamentalnya. Kondisi sekarang Rp13.500, tentu lebih kompetitif bagi Indonesia,” katanya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here