Diduga Keras Mafia Migas Berkomplot Memecat Dwi Soetjipto

0
1524
foto national geographic

Nusantara.news, Jakarta – Sejak Dwi Soetjipto menjabat Dirut Pertamina pemain-pemain kakap yang semula menguasai bisnis pengadaan dan pengolahan migas merasa gerah. Bisnisnya sering terganjal oleh kebijakan Dwi yang menempatkan profesionalisme di atas segala-galanya.

Berkat profesionalismenya, Dwi yang semula sukses membenahi PT Semen Indonesia (Tb) kembali mengukir prestasi cemerlang saat dipercaya menjabat Dirut Pertamina pada 28 November 2014. Saat itu Dwi menggantikan Karen Agustiawan yang mengundurkan diri. Selama 2 tahun 3 bulan memimpin, Pertamina mampu membukukan laba  USD 2,5 miliar (Rp 40 Triliun) pada 2016 lalu. Jauh mengungguli Petronas yang hanya mampu mencetak laba USD 1,6 miliar.

Nah, di tengah prestasi menggembirakan itu Dwi Soetjipto dipecat dengan alasan ada persoalan personal (tidak harmonis) dengan wakilnya. “Dalam memimpin Pertamina, jika terjadi ketidakcocokan bisa membahayakan perusahaan,” ulas Rini pas hari pemecatan, Jumat (3/2) lalu.

Baca : Guru Besar ITS : Sesungguhnya Rini itu Bekerja untuk Siapa ?

Padahal ketidakharmonisan itu sebagai akibat restrukturisasi yang mengesahkan dibentuknya jabatan Wakil Direktur Utama pada RUPS 20 Oktober 2016. Kewenangan Dirut untuk urusan pengolahan dan hilir, termasuk pengadaan diberikan ke wakilnya, Ahmad Bambang. Dirut hanya tukang stempel saja.

Sejak itu terjadi perang dingin diantara keduanya. Dwi Soetjipto yang tidak pernah diajak berembug soal restruktursasi terperangkap dalam alur permainan para mafia yang memang berkomplot untuk itu.  Maka Guru Besar ITS Mukhtasor menilai restrukturisasi hanya diada-adakan sebagai alat atau sarana pendongkelan.

Tudingan Mukhtasor yang masih satu almamater dengan Dwi Soetjpto memang masuk akal. Sebab, lima bulan sebelum  restrukturisasi sudah gencar kabar pemecatan Dwi Soetjpto. Bahkan mengutip isu yang berkembang di kalangan anggota dewan ketika itu Ahmad Bambang sudah dipersiapkan menjadi Dirut.

Terus siapa yang pantas diduga berkomplot mengusir lelaki kelahiran Surabaya 10 November 1955 itu dari Pertamina? Mengutip keterangan  Wakil Ketua Komisi VII DPR Inas Nasrullah Zubir kepada eksplorasi.d, sebelum Dwi Soetjipto menjadi dirut Pertamina, bisnis migas perseroan pernah dikuasai oleh Mohammad Riza Chalid dan Ari Hernanto Soemarno.

Dwi Soetjipto,  beber Inas,  kerap kali menolak campur tangan Ari Soemarno (AS). “Misalnya, RUPS pada 20 Oktober 2016 terjadi setelah dua juta barel minyak jenis Mesla-Sarir ditolak oleh Dwi Soetjipto,” terang Inas kepada wartawan Eksplorasi.id melalui pesan WhatsAppnya.

Penolakan, lanjut Inas, karena minyak jenis Mesla-Sarir off-spec pada Septemper 2016, di mana kemudian pemasoknya yakni Glencore kemudian di banned (dilarang/ diblokir).

“Jika kita menilai kinerja perusahaan sejak dipimpin oleh Dwi Soetjipto justru menunjukan peningkatan yang signifikan,” jelas dia.

Inas pun mempertanyakan apakah adanya jabatan wakil dirut Pertamina sebelumnya terkait dengan ditolaknya minyak jenis Mesla-Sarir.  “Glencore di banned oleh Dwi untuk sementara waktu tidak disertakan dalam tender. Nah ini perlu juga diselidiki,” ujar dia.

Glencore masuk daftar hitam Pertamina karena diduga melakukan pemalsuan spek. Contohnya saat  Kapal MT Tataki dan MT Stavanger Blossom mengapalkan minyak Sarir dan Mesla dari Libya. Minyak mentah itu semula akan dipasok sejumlah empat kargo untuk kebutuhan kilang Pertamina sebanyak 1,2 juta barel.

Pada saat awal, komposisi minyak tersebut adalah 70 persen minyak Sarir dan 30 persen minyak Mesla. Faktanya, yang komposisi yang dikapalkan justru terbalik, minyak Sarir 30 persen dan Mesla 70 persen. Selain itu, Glencore juga melakukan blending kedua minyak itu bukan di kilang milik PT Perusahaan.

Glencore memiliki pertautan yang kental dengan AS. AS adalah kakak kandung Rini Soemarno yang sebelumnya pernah menjabat Dirut Pertamina. AS yang memiliki kedekatan dengan Mantan Menteri ESDM Soedirman Said juga disebut-sebut sebagai tokoh di balik layar pembubaran Pertamina Energy Trading Limited ( Petral) dan menggantinya dengan Integrated Supply Chain (ISC).

Kendati dibangga-banggakan ISC dapat menghemat biaya USD 103 juta, namun sejumlah kalangan yang pesimis menilai pembubaran Petral hanya semacam ular bertukar kulit. Kebiasaan patgulpat tidak akan pernah surut seiring perginya Reza Chalid. Tapi karena kebiasaan buruk itu maka terusirlah Dwi Soetjipto?

Untuk menjawab dugaan miring di atas nusantara.news akan melakukan penelusuran lebih lanjut. Nantikan kabar selanjutnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here