Digosipkan Renggang, Jokowi Unjuk Kemesraan dengan JK

0
243
Presiden Joko Widodo (kiri) bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla (ketiga kanan), Mensesneg Pratikno (kedua kanan) dan Seskab Pramono Anung (kedua kiri) tertawa lepas saat menuju ruang Teratai untuk memimpin rapat terbatas tindak lanjut KTT One Belt One Road di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (22/5). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/foc/17.

Nusantara.news, JakartaPresiden Joko Widodo tampil mesra dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Bogor pada Senin (22/5) siang tadi. Kemesraan itu seolah menepis rumor kerenggangan hubungan antara RI-1 dan RI-2 paska kekalahan pasangan Basuki Tjahaja Purnama – Djarot pada Pilkada DKI sebulan lalu.

Mengutip isu yang berkembang, dan isu itu sendiri dicetuskan ke publik oleh Ketua MPR Zulkifli Hasan yang menyebutkan ada peran JK dalam pencalonan Anies Baswedan, Presiden Joko Widodo merasa kurang nyaman dengan sepak terjang politik wakilnya. Namun ketidak-nyamanan itu seolah terbantah saat keduanya tampil menjelang rapat terbatas kabinet di Istana Presiden siang tadi.

Bahkan keduanya tampak cair, bahkan bercanda tawa sebelum memasuki ruang rapat terbatas. “Hubungan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla itu sangat baik sekali, tidak ada apa-apa. Yang dipersepsikan (isu yang berkembang selama ini) salah,” beber Sekretaris Kabinet Pramono Anung di Istana Bogor, Senin (22/5) tadi.

Hubungan keduanya, lanjut Pram sangat kuat. Jadi tidak ada ruang bagi siapa pun untuk memecah kepemimpinan Jokowi-Jusuf Kalla.

Isu keterlibatan Wapres JK dalam pencalonan Anis dalam Pilkada DKI Jakarta diungkap Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) yang juga Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan saat Seminar Nasional Kebangsaan Gerakan Mubalig dan Sosialisasi Empat Pilar di Gedung MPR, Selasa (2/5) lalu.

Di forum itu Zulkifli menyebut tidak ada satu pun Partai Politik yang ingin mengusung Anis Baswedan menjadi Gubernur DKI Jakarta. Namun karena ada intervensi Wapres JK, akhirnya Anis Baswedan diusung menjadi Calon Gubernur dipasangkan dengan Sandiaga Uno yang sejak penjaringan memang sudah menjadi calon terkuatnya Prabowo.

Bahkan Zulkifli menyebutkan, sebelumnya Sandiaga Uno akan diduetkan dengan Agus Harimurti Yudhoyono. Namun rencana itu batal karena tidak adanya kesepakatan antara Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum.

Namun pernyataan yang menyebut ada kata intervensi itu dibantah oleh Wapres JK. Apa yang dilakukan hanya sebatas pembicaran dengan Ketua Umum partai. “Kalau intervensi, saya memaksakan keputusan saya. Tidak, Yang mengambil keputusan kan ketua partai,” bantah Wapres JK di Jakarta, Kamis (4/5) lalu.

Ketua Umum Partai yang disebut JK adalah Prabowo Subianto. Bagi JK, siapapun yang mengajaknya berbicara tidak ada persoalan. Dia menganggapnya sebagai teman. “Saya hanya bicara, apa ini salah?” kecam Wapres JK.

Namun dampak dari pernyataan itu ternyata melebar kemana-mana. Wapres JK mendapat serangan yang luar biasa di media sosial. Pelakunya diduga para Ahoker yang belum mau menerima kekalahan calonnya. Jusuf Kalla pun dianggap biang keladi kekalahan pasangan Ahok-Djarot. Tudingan sebagai pemimpin rasis langsung saja tersemat padanya.

Pemicunya adalah unggahan sebuah akun di facebook atas nama Hasanudin Abdurahman yang juga seorang alumnus Universitas Gajahmada (UGM). General Manager sebuah perusahaan Jepang yang berkantor di Summitmas, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, ini mengunggah akun yang menyebutkan Jusuf Kalla sebagai dalang kerusuhan SARA di Makassar pada 1967.

Ketika itu Jusuff Kalla menjabat Ketua Umum HMI Cabang Makassar. Dalam akunnya, Hasanuddin menuduh Jusuf Kalla memprovokasi massa Islam untuk menyerang umat Kristiani yang berujung pembakaran sejumlah fasilitas gereja. Kang Hasan, begitu sebutan yang sering dia cantumkan dalam tulisannya, menyebut apa yang ditulis bersumber dari berita yang disadur dari Majalah Hidayatullah.

Tentu saja tulisan Kang Hassan memicu kemarahan kader-kader HMI. Mereka menuding akun facebook yang menjadi viral secara berantai itu adalah fitnah. Karena peristiwa 1967 itu sendiri masih minim data itu dihubungkan dengan peristiwa politik yang terjadi sekarang.

Akibatnya Wapres JK mendapat serangan masif di media sosial. Bahkan saat berkunjung ke Oxford University, Inggris, dikabarkan Wapres JK didemo oleh mahasiswa di sana. Padahal yang mendemo, mengutip sumber yang pro Anis-Sandi, hanya seorang. Atau paling tidak hanya segelintir.

Pemberitaan tentang keterlibatan JK dalam Pilkada DKI itu yang dikabarkan membuat hubungan Presiden Jokowi dan Wapres JK merenggang. Namun isu kerenggangan hubungan itu ditepis dengan unjuk kemesraan di Istana Bogor tadi siang.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here