Diincar Bakrie, Energi Panas Bumi Kabupaten Madiun Direalisasi Pada 2020

0
159
Pembangkit Listrik Panas Bumi Sarulla di Tapanuli Utara yang sudah beroperasi.

Nusantara.news, Madiun – Ketersediaan bahan bakar fosil saat ini semakin menipis. Hal ini disebabkan tingginya pemakaian bahan bakar untuk transportasi dan industri. Karena itu, pemerintah kini gencar mencari energi baru terbarukan yang diharapkan bisa menggantikan bahan bakar fosil sekaligus mendorong upaya-upaya konservasi energi tanpa menghambat kegiatan industri dan ekonomi.

Selama ini Indonesia dikenal sebagai salah satu penghasil minyak, gas, dan batubara di dunia. Kekayaan tersebut sebenarnya merupakan modal untuk menjadi negara besar. Tapi jangan lupa, Indonesia masih bisa memanfaatkan energi lain dari energi panas bumi. Ini sebuah revolusi teknologi menuju energi bersih.

Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) sebenarnya merupakan keniscayaan global dan timbal balik di bidang energi di mana menjadi hal tidak terelakkan bagi keberlangsungan ke depan.

Potensi EBT di Indonesia, cukup besar. Kementerian ESDM mencatat, untuk mikrohidro dan minihidro potensinya mencapai 19.385 MW, panas bumi mencapai 29.544 MW, tenaga surya mencapai 207.898 MW, angin 60.647 MW, energi laut 287.822 MW dan bio energi mencapai 32.653 MW.

Dewan Energi Nasional bersama pemerintah sudah merumuskan kebijakan energi nasional dalam PP no 79 tahun 2014 untuk menjamin keamanan suplai energi dengan mendorong pemanfaatan EBT hingga 23 persen di tahun 2025, dan 31 persen pada tahun 2050. Klik tautan ini

Memang banyak masyarakat belum mengenal energi alternatif yang satu ini. Masyarakat hanya popular dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) atau Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Energi panas bumi juga dikenal dengan nama energi geothermal. Energi ini sendiri dihasilkan dan disimpan di dalam inti bumi. Jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil, energi geothermal merupakan sumber energi bersih dan hanya melepaskan sedikit gas rumah kaca.

Sumber energi panas bumi ini biasanya ditemui di daerah gunung berapi yang masih aktif. Hingga saat ini Indonesia menempati posisi ketiga setelah Amerika dan Filipina dalam hal pemanfaatan energi panas bumi sebagai sumber energi listrik.

Di Indonesia sendiri, energi panas bumi adalah salah satu kekayaan alam Indonesia yang terbarukan, ramah lingkungan, dapat mendukung pembangunan rendah karbon dan sangat sustainabel.

Potensi energi panas bumi cukup besar, bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, guna mengaliri 8,5 juta rumah tangga di Indonesia yang belum teraliri listrik. Rumah tangga itu tersebar di 2.519 desa dan 136 kecamatan di seluruh Indonesia.

Nah, berbicara soal energi panas bumi, di Kabupaten Madiun, setidaknya diketahui ada dua titik sumur panas bumi yang dapat diekplorasi. Letaknya di Desa Mendak, Kecamatan Dagangan.

Pemerintah Kabupaten Madiun jauh hari sudah mendeteksi potensi sumber daya alam tersebut. Terbukti, pihak Pemkab Madiun mengundang Bakrie Group melalui PT Bakrie Darmakarya Energi selaku pemenang proyek pengerjaan energi panas bumi untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan awal proyek yang dilihat dari kelengkapan perizinan.

Dikatakan Kepala Bidang ESDM, Aris Budi, tim dari Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu (KPPT) Kabupaten Madiun ingin memastikan tahapan dari ekplorasi energi panas bumi.

“Kami hanya ingin memastikan. Ini masih tahapan yang panjang. Rapat seperti ini akan kami sampaikan secara berkala. Bakrie akan melaporkan setiap progres di lokasi,” kata Aris dalam rapat antara Pemkab Madiun dan perwakilan PT Bakrie Darmakarya Energi, Kamis (24/8/2017).

Menurut Aris, seluruh proses terkait perizinan ditangani di tingkat provinsi. Sementara pihak Kabupaten Madiun, hanya memberikan fasilitas. Karena cakupan wilayah eksplorasi di Madiun lebih luas serta memiliki dua titik sumur, maka Pemkab Madiun berharap kantor serta fasilitas proyek dibangun di Madiun, bukan di Ponorogo. “Kami sudah menyiapkan fasilitas, berupa lahan seluas lima hektar di sekitar lokasi,” lanjutnya.

Pertemuan pihak Pemkab dengan Bakrie Group, katanya, masih butuh proses pembuktian terlebih dahulu. Aris menegaskan bahwa tindakan lanjutan yakni eksplorasi di Kabupaten Madiun masih akan menunggu hasil di Ponorogo.

Aris menambahkan, salah satu manfaat yang akan dirasakan oleh Kabupaten Madiun adalah pendapatan di sektor non pajak dari upaya eksplorasi. Keberadaan pembangkit listrik tenaga panas bumi ini bisa meningkatkan perekonomian masyarakat Madiun. Diperkirakan nilainya mencapai Rp 100 miliar per tahun. “Perkiraan tahun 2020 sudah bisa dirasakan manfaatnya,” pungkasnya.

Manfaat tersebut tentunya, masih akan menunggu pembuktian ada atau tidaknya energi panas bumi di wilayah Desa Mendak Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun. Jika terbukti, kemungkinan Desa Mendak bisa saja akan menjadi kawasan perkotaan tersendiri.

Pemanfaatan Geothermal di Jawa Timur Belum Optimal

Bagi PT Bakrie Darmakarya Energi, keberadaan dua titik panas bumi di Kabupaten Madiun ibarat ladang ‘harta karun’. Sebelumnya pihak Bakrie menyatakan satu titik di wilayah Ngebel, Ponorogo telah masuk dalam rencana realisasi proyek panas bumi.

Disampaikan Senior Field Operation PT Bakrie Darma Karya Energi, Saiful Anwar, luas wilayah kerjanya berada di dua wilayah Kabupaten tersebut mencapai 31.880 hektare. Dan dari total luas itu, ada tiga titik sumur yang nantinya akan dieksplorasi. “Satu titik di wilayah Ponorogo, sedangkan dua titik lainnya berada di wilayah Kabupaten Madiun,” ujarnya.

Saat ditanya lebih lanjut soal hasil pertemuannya dengan pihak Pemkab Madiun, Saiful hanya menyampaikan jika dalam pertemuan tersebut pihak Pemkab baru sebatas menanyakan waktu kapan perkiraan akan dilakukan eksplorasi. Namun oleh Saiful, disampaikan jika untuk wilayah Kabupaten Madiun, eksplorasi baru akan dilakukan setelah menunggu hasil dari eksplorasi di kawasan Ngebel Kabupaten Ponorogo.

Saiful melanjutkan, eksplorasi di kawasan Ngebel didahulukan karena ada bukti sumber air panas di Desa Talun, sekitar telaga Ngebel Ponorogo.

“Ngebel kita dahulukan untuk membuktikan jika perkiraan di atas kertas benar atau tidak. Serta untuk mengetahui potensinya sesuai harapan atau tidak. Pokoknya satu-satu dulu. Kami meminimalkan kegagalan. Biaya untuk pengeboran juga tidak murah. Sejak survei engineering untuk urusan bawah tanah sampai pembuktian dengan cara pengeboran,” urai Saiful.

Meski begitu untuk di Kabupaten Madiun, Saiful mengaku hingga kini persiapan juga terus dilakukan, termasuk proses perizinan seperti izin lingkungan yang sudah ada, serta akan dilakukan uji amdal.

Jika nanti dua sumur panas bumi di Desa Mundak dikerjakan, menurut kalkulasi Saiful, ditargetkan setiap sumur potensi kandungan panas bumi sebesar 3 x 55 megawatt. Dijelaskan, proses eksplorasi sendiri diawali melalui survei yang sudah dilakukan, seperti survey Geo Fisika maupun Geo Kimia.

Karena itu, nantinya PT Bakrie akan melebarkan jalan dan me-review engineering dan dampak sosial proyek ini. Selama operasi proyek akan menggunakan jalan desa yang telah disepakati.

Jawa Timur selama ini terpantau memiliki potensi panas bumi atau volcano geothermal di 11 titik. Panas bumi tersebut berpotensi dikembangkan menjadi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Selain digunakan untuk energi di sektor industri juga bisa dikembangkan menjadi daya tarik wisata.

Kepala Laboratorium Geofisika Universitas Brawijaya Malang Sukir Maryanto di Malang melaporkan pada tahun 2015, sebanyak 5 persen potensi panas bumi di Indonesia ada di Jawa Timur.

Potensi panas bumi di Jawa Timur itu diperkirakan menghasilkan energi sebesar 1.206 megawatt listrik atau MWe. Potensi panas bumi tersebar di Gunung Welirang, Gunung Wilis, Gunung Ijen, Gunung Bromo, Gunung Semeru, dan sejumlah gunung lain di Jawa Timur. Namun, sejauh ini pemanfaatan energi panas bumi di Jawa Timur belum optimal. “Pemerintah hanya mengatur eksplorasi tapi pemanfaatannya tak digerakkan,” katanya.

Tak hanya di Jawa Timur, Indonesia baru memanfaatkan energi panas bumi sebesar empat persen dari potensi yang ada. Sebagai kawasan ring of fire atau cincin api yang dikelilingi gunung berapi, Indonesia merupakan negara dengan jumlah gunung api terbesar sebanyak 127 gunung api. Padahal uap air panas yang dihasilkan bisa menggerakkan generator untuk pembangkit listrik.

Selain itu, pemanfaatan panas bumi juga bisa meminimalisasi bencana alam. Pasalnya limbah geothermal, bisa dimanfaatkan dengan membuat sumur sehingga energi panas bumi juga bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar kawah gunung api. Jika energi panas bumi terakumulasi dalam waktu lama tanpa pemanfaatan berpotensi terjadi letusan gunung berapi.

Energi panas bumi selain bisa menghasilkan listrik, energi ini sangat bersih, dan dapat beroperasi pada suhu yang lebih rendah daripada PLTN. Soal keamanan, tentu saja aman, bahkan energi panas bumi adalah yang terbersih dibandingkan dengan nuklir, minyak bumi dan batu bara.

Meskipun tergolong ramah lingkungan, namun beberapa hal perlu dipertimbangkan apabila Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) ingin dikembangkan sebagai pembangkit dengan skala besar. Beberapa parameter yang harus dipertimbangkan adalah kandungan uap panas dan sifat fisika dari uap panas di dalam reservoir dan penurunan tekanan yang terjadi sebagai akibat digunakannya uap panas di dalam reservoir.

Indonesia Punya PLTP Terbesar di Dunia

Prinsip kerja PLTP sama dengan PLTU. Hanya saja yang digunakan pada PLTP adalah uap panas bumi yang telah dipisahkan dari air, yang berasal langsung dari perut bumi. Karena itu PLTP biasanya dibangun di daerah pegunungan dekat gunung berapi.

Biaya operasional PLTP juga lebih murah dibandingkan dengan PLTU, karena tidak perlu membeli bahan bakar, namun membutuhkan biaya investasi yang cukup besar untuk biaya eksplorasi dan pengeboran perut bumi. Pengeboran dilakukan di atas permukaan kantong uap di perut bumi, tepatnya, di atas lapisan batuan yang keras di atas penggerak generator, hingga uap dari dalam akan menyembur keluar.

Pada tanggal 19 Juni 2017, pemerintah sudah menetapkan pulau Flores sebagai pulau panas bumi. Penetapan tersebut dituangkan dalam Keputusan Menteri ESDM nomor 2268 K/30/MEM/2017 tentang Penetapan Pulau Flores sebagai Pulau Panas Bumi.

Meski tak disebutkan secara rinci kapan pembangunannya akan dilaksanakan, sejauh ini pencanangannya sudah dilakukan. Salah satu proyek panas bumi juga disebutkan bernama Waisano.

Sebagai catatan, Pemerintah saat ini sudah membangun PLTP Sarulla yang berada di Tapanuli Utara sebagai PLTP terbesar di dunia. Sarulla Unit 1 telah beroperasi sejak 18 Maret 2017.

Sarulla Unit 1 yang sumur-sumurnya berada di Silangkitang atau SIL saat ini berhasil memproduksi listrik sebesar 110 MW.

Sementara Sarulla Unit II atau disebut Namora I Langit (NIL 1) akan beroperasi atau commercial on date (CoD) November 2017. Sedangkan Sarulla Unit III atau NIL 2 akan beroperasi pada Mei 2018.

Presiden Director PT Medco Energi Power fazil E Alfitri mengatakan, Sarulla akan menjadi pembangkit listrik tenaga geothermal terbesar di dunia. “Sarulla akan menjadi pembangkit listrik tenaga panas bumi yang terbesar di dunia,” tegas Fazil E alfitri.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana menjelaskan, Sarulla bisa menjadi terbesar di dunia karena memiliki potensi kandungan panas bumi yang cukup besar serta menggunakan teknologi paling efisien.

“Potensi kandungan panas bumi di Sarulla sangat besar. Sarulla ini berada di sekitar kawasan Gunung Toba yang kini tinggal menyisakan kaldera berbentuk danau terbesar di dunia. Kandungan panas bumi dari eks Toba inilah yang sekarang, salah satunya dieksplorasi di Sarulla,” jelas Rida.

Gunung Toba yang meletus sekitar 7400 tahun lalu, memang menjadi erupsi terbesar di sepanjang sejarah dunia dan hampir memusnahkan seluruh manusia dan hewan di muka bumi. Dan kemungkinan, kandungan panas bumi di sekitar eks Toba juga sangat besar, mengingat magma di Toba saat meletus 7400 tahun lalu sangat luar biasa.

Sarulla menggunakan tiga metode dalam pembangkitannya, yaitu condensing, bottomic, dan binary sehingga sangat efisien dalam memanfaatkan uap dan produk uap (brine). Tingkat efisiensi PLTP Sarulla mengalahkan tiga PLTP lain di Tanah Air, yaitu PLTP Darajat, PLTP Kamojang, dan PLTP Wayang Windu.

Yunus Saefulhak, Direktur Panas Bumi Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM mengatakan uap sumur yang dimanfaatkan untuk PLTP Sarulla 1 hanya 65 megawatt (MW) tapi bisa menghasilkan listrik dengan kapasitas terpasang 110 MW.

“PLTP Sarulla memang paling efisien, beda dengan beberapa PLTP lainnya seperti PLTP Kamojang, PLTP Darajat, atau Wayang Windu yang hanya menggunakan satu metode, yaitu condensing. Dengan metode ini, uap yang tersedia harus lebih besar. Misalnya, untuk menghasilkan listrik 110 MW dibutuhkan uap dari sumur sebesar 130 MW,” ujar Yunus.

Dengan metode ini, uap yang telah terpakai lantas diinjeksi lagi ke dalam perut bumi, maka kekhawatiran pembangkit ini merusak lingkungan justru terbantahkan. Justru ketika uap yang telah dikondesasikan dan lantas dimasukkan lagi ke bumi, semakin membuat kondisi air di dalam tanah tetap terjaga dengan baik. Bahkan di PLTP yang sudah berjalan, kondisi hutan makin lebat karena untuk butuh uap itu asalnya dari air tanah yang panas karena magma. Jadi hutan harus bagus.

Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan, PLTP Sarulla ini baru beroperasi setelah 27 tahun semenjak proyek ini dilelang. Pembebasan lahan dan perizinan menjadi salah satu penyebab lamanya pengembangan wilayah kerja panas bumi Sarulla ini. “Kenapa sampai 27 tahun? Sebenarnya ini bukan kendala. Eksplorasi panas bumi ini sama dengan migas, butuh waktu lama dan biayanya mahal,” jelas Jonan.

Menteri ESDM Jonan saat meninjau PLTB Sarulla di Tapanuli Utara.

Jonan juga berharap, seemakin besar produksi listriknya, maka harga listrik yang dijual Sarulla ke PLN semakin murah. Jonan juga berharap, seemakin besar produksi listriknya, maka harga listrik yang dijual Sarulla ke PLN semakin murah. Inilah yang nantinya juga diterapkan di berbagai daerah, khususnya di Jawa Timur.

Ya, pantas ditunggu bagaimana revolusi teknologi energi bersih itu bisa optimal di Jawa Timur. Sekiranya pemerintah, pelaku industri, pakar energi, dan pemangku kepentingan harus duduk bersama untuk membahas kerangka kerjasama regional maupun internasional, baik pandangan perusahaan, industrI, dan masyarakat terhadap ketahanan energi nasional.

Juga terkait hambatan dan kesulitan yang dihadapi akibat kebijakan pemerintah, kesiapan Indonesia dalam menghadapi krisis energi, pemanfaatan energi baru terbarukan sebagai bahan bakar dan kontribusinya terhadap ketahanan energi Indonesia, serta peluang bisnis di bidang energi terbarukan.[]

 

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here