Dilema Cina di Korea Utara

0
201
Pimpinan Korea Utara Kim Il-sung menghadiri perayan ulang tahun ke-5 RRC tahun 1954. Dia diapit Mao Zedong dan Zou Enlai. Foto: SCMP

Nusantara.news – Bagi Cina, Korea Utara adalah saudara dekat, sekutu ekonomi utama, bahkan terkadang menjadi alat “negosiasi” untuk menakut-nakuti lawan politik di tingkat global, yakni Amerika Serikat.

Mao Zedong pernah menyebut Cina dan Korea Utara sebagai “sedekat bibir dan gigi”, tapi sekarang, pemimpin Korea Utara Kim Jong-un tampak sulit dikendalikan, bahkan oleh Beijing sekalipun. Walhasil, uji coba rudal antar benua (ICBM) pada Sabtu (26/8) lalu pun membuat tampak kebingungan harus bersikap apa.

Di satu sisi, sebagai sekutu di kawasan Beijing tidak mungkin meninggalkan Korea Utara, tapi di sisi lain Cina mendapat banyak tekanan, terutama dari negara  tujuan perdagangan terbesarnya, Amerika, karena dianggap membiarkan Korea Utara. Meskipun sebetulnya, Cina sudah mengutuk keras aksi uji coba nuklir Korea Utara di Dewan Keamanan PBB.

Sebagaimana dilansir South China Morning Post, awal pekan ini, atau tepatnya hari Minggu (27/8) Cina kembali berang karena mendapat tekanan dari AS terkait sanksi baru terhadap Korea Utara, dimana menargetkan enam entitas perusahaan Cina dan satu individu asal Cina yang dianggap mendukung program nuklir Korea Utara.

Beijing meminta agar Washington merevisi sanksi tersebut, dimana ini berarti membuka kritik baru dari AS bahwa Cina tidak serius dengan komitmennya untuk memberikan tekanan yang lebih besar kepada tetangganya, Korea Utara.

Melihat hal ini tampaknya hubungan Cina dan rezim tertutup Korea Utara semakin rumit, terjadi di saat dunia internasional cenderung mendukung penjatuhan sanksi terhadap program senjata nuklir Korea Utara.

Kedua negara, Cina dan Korea Utara, sejatinya adalah sekutu sepanjang sejarah, dimana Mao Zedong mengibaratkan ikatan persaudaraan mereka sedekat bibir dan gigi. Tapi uji coba rudal balistik yang terbaru pada Sabtu lalu, dan mengganggu ketenangan AS yang sebelumnya sudah bersedia bernegosiasi, menciptakan dilema yang sangat serius bagi Beijing.

Hubungan Cina dan Korea Utara

Cina dan Korea Utara adalah sekutu lama yang tidak hanya berbagi perbatasan sepanjang lebih dari 1.400 km, tapi juga memiliki hubungan ekonomi dan diplomatik yang sangat signifikan.

Cina-Korea Utara masih terikat oleh sebuah perjanjian pertahanan tahun 1961 untuk “gotong royong dan kerja sama” yang akan diperbaharui kembali pada tahun 2021. Selain itu, Cina juga hingga saat ini tetap merupakan mitra dagang terbesar bagi Korea Utara, menyumbang sekitar 90 persen dari perdagangan luar negerinya, dan menyediakan jalur kehidupan ekonomi yang penting bagi negara yang mengisolasi diri tersebut.

Sanksi yang dijatuhkan Cina, karena tekanan AS dan dunia internasional, beberapa waktu lalu akan merugikan Korea Utara sebesar USD 1,5 miliar, meskipun tampaknya tidak akan mengubah atau menyurutkan ambisi Kim Jong-un mewujudkan ambisi senjata nuklirnya.

Beijing menghentikan perdagangan batubara dengan Korea Utara, dan baru-baru ini, setelah menyatakan tekanan di Dewan Keamanan PBB, Cina juga melarang impor bijih besi, timah dan makanan laut dari Korea Utara.

Cina dan Korea Utara memiliki akar ideologis yang sama: komunis, dan punya akar sejarah tentang Perang Korea, namun hubungan Korea Utara-Cina bergerak fluktuatif pada beberapa dekade terakhir.  Misalnya, selama Revolusi Kebudayaan, Pengawal Merah Cina dengan nada mengejek menjuluki Kim Il-sung seorang “revisionis gemuk”, tapi itu tidak mengubah hubungan erat Korea Utara-Cina, setidaknya hingga era Kim Jong-un.

Tapi beberapa tahun terakhir hubungan Korea Utara-Cina dinilai menurun. Pemimpin Korea Utara hari ini, Kim Jong-un, merupakan satu-satunya kepala negara yang konon belum pernah bepergian ke luar negeri, bahkan untuk mengunjungi rekannya di Cina. Berbeda dengan ayahnya Kim Jong-il, yang mengunjungi Cina beberapa kali selama masa pemerintahannya.

Pengamat menilai, hubungan Korea Utara-Cina semakin tegang karena perilaku Kim Jong-un yang sukar  diprediksi dan suka berperang, Jong-un menjadi sorotan ketika mengeksekusi pamannya sendiri pada tahun 2013 karena dianggap mengancam rezim, kemudian diikuti dengan pembunuhan saudara tirinya Kim Jong-nam di Malaysia, Jong-nam selama itu tinggal di pengasingannya di Macau.

Meski mengalami hubungan yang fluktuatif, tapi Korea Utara tetaplah penting bagi Cina dalam konteks geopolitik.

Oleh karena itu, Cina begitu mengkhawatirkan situasi terakhir di semenanjung Korea dan takut terjadi destabilisasi di Korea Utara. Kekhawatiran tersebut sangat beralasan, karena jika rezim Kim ambruk, Beijing tentu harus repot mengatasi kekacauan yang terjadi, dari masuknya jutaan pengungsi Korea Utara melintasi perbatasan Cina di utara, serta kemungkinan Korea yang bersatu kembali bersahabat dengan AS, ini tentu kerugian bagi Cina secara geopolitik.

Oleh karena itu, Cina sangat berhati-hati dalam memboikot kerja sama perdagangan dengan Korea Utara untuk menghindari meningkatnya risiko keruntuhan rezim Kim. Sebab di saat yang sama, AS telah menjatuhkan sanksi baru terhadap sejumlah  perusahaan Cina dan Rusia untuk memutus mata rantai dukungan terhadap Korea Utara.

AS juga memiliki kekhawatiran yang sama seperti Beijing. Tapi tujuan mereka agar Pyongyang tidak memiliki akses terhadap senjata nuklir. Sebab nuklir Korea Utara akan membuat AS meningkatkan pasukannya di wilayah semenanjung Korea, selain juga akan memancing Jepang dan Korea Selatan mengejar senjata nuklir mereka.

Kenapa Korea Utara jadi sumber ketegangan Cina-AS?

Setelah Donald Trump terpilih sebagai presiden AS, negara itu melihat Cina tidak serius dalam mengendalikan program nuklir Korea Utara, terutama dengan berkali-kali diluncurkan uji coba balistik antar benua (ICBM) yang menurut AS sangat mengancam itu.

Korea Utara juga berkali-kali mengancam AS dengan menyatakan akan meluncurkan rudal ke daratan Amerika, salah satunya ke pangkalan AS di Pulau Guam. Akibatnya, AS menjatuhkan banyak sanksi, termasuk memberi sanksi terhadap perusahaan dan individu Cina yang ditengarai membantu mendanai program senjata dan nuklir Korea Utara.

Akankah Korea Utara bakal menyebabkan Cina dan AS berhadap-hadapan?

Tentu saja, masih butuh proses yang panjang untuk sampai pada berhadap-hadapan secara langsung antara AS dan Cina. Kedua negara sebetulnya juga tengah menempuh berbagai upaya untuk mencari solusi atas Korea Utara, di tengah dua kepentingan yang berbeda. Cina memiliki prioritas pada stabilitas rezim Korea Utara, dan AS fokus pada masalah kemampuan nuklir Pyongyang.

AS, meski Presiden Trump menanggapi keras Korea Utara tapi Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mendorong upaya diplomasi. Sementara Cina juga sedang mengupayakan negosiasi diplomatik multilateral secara berkala, dengan harapan dapat memulai kembali perundingan enam negara antara Korea Utara, Rusia, AS, Korea Selatan dan Jepang. Semua tentu berharap, perang fisik tidak akan terjadi, meskipun di era para pemimpin dunia yang “sulit diprediksi” ini kemungkinan terjadinya gesekan fisik menjadi lebih besar. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here