Dilema Partai Koalisi di Pemilu Serentak

0
60

Nusantara.news, Jakarta – Pemilu 2019 telah menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi sejumlah partai politik. Kekhawatiran paling ekstrem adalah kemungkinan untuk tidak lolos ambang batas parlemen (parliamentary threshold). Kekhawatiran moderatnya, perolehan kursi di Senayan turun.

Tak ayal, sejumlah partai politik lebih berkonsentrasi memenangkan calon legislatornya ketimbang habis-habisan berkampanye untuk pasangan calon presiden dan wakil presiden. Kondisi ini di satu sisi sebetulnya bisa dimaklumi, sebab kemenangan kandidat presiden memang tak identik dengan lonjakan suara buat partai pendukung. Sejumlah survei bahkan memastikan: hanya partai asal sang calon yang bakal memanen keuntungan elektoral.

Hasil survei—misalnya survei yang digelar Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny J.A.— memperlihatkan bahwa PDI Perjuangan sebagai partai pengusung utama Joko Widodo bakal menduduki peringkat tertinggi perolehan suara dan kursi di DPR. Peringkat kedua ditempati Partai Gerindra, yang mengajukan Prabowo Subianto sebagai penantang Jokowi.

PDIP dan Partai Gerindra dinilai mendapat berkah elektoral dari popularitas dan elektabilitas masing-masing capresnya yang berlaga di Pilpres 2019 tersebut. Jokowi sebagai kader PDIP mendongkrak perolehan suara PDIP, dan Prabowo sebagai kader Gerindra mendongkrak raihan suara Gerindra. Inilah yang dinamakan efek ekor jas yang mencemaskan partai-partai lainnya.

Namun di sisi yang lain, sikap parpol yang lebih fokus ke pemilihan legislatif (pileg) ketimbang pilpres, tentu saja membuat keberadaan partai dalam koalisi menjadi kacau dan terkesan setengah hati (ogah-ogahan), utamanya bagi partai yang tak punya kader sebagai capres-cawapres.

Karena itulah, ogah-ogahan-nya koalisi partai menjajakan Joko Widodo-Ma’ruf Amin, misalnya, sudah bisa diperkirakan sejak awal. Kader partai pengusung tak bisa diharapkan secara swadaya bergerak memenangkan kandidat presiden. Hanya limpahan logistik dari tim kampanye nasional di Jakarta yang bisa ala kadarnya menggerakkan mesin partai di daerah.

Berantakannya kerja sama partai-partai pengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno juga sama saja. Saling tuding antara Partai Demokrat dan Partai Gerindra sepekan terakhir menunjukkan persaingan sengit kedua partai. Gerindra menuding Agus Harimurti Yudhoyono tak optimal mengkampanyekan Prabowo-Sandiaga.

Sebenarnya, partai-partai yang merasa tak mendapatkan keuntungan dari capres-cawapres yang diusung bukan Demokrat saja. Tetapi, ada beberapa partai lainnya. Misalnya, sejumlah caleg PAN di daerah pada Oktober lalu, yang berdasarkan keterangan Sekjen PAN Eddy Soeparno, yang menolak mengakmpanyekan Prabowo-Sandi karena tak sesuai dengan keinginan konstituen mereka.

Itu artinya, para caleg tersebut khawatir jika mengkampanyekan Prabowo-Sandi mereka tidak akan dipilih menjadi anggota legislatif oleh konstituennya. Selain itu, ada juga kepala daerah asal PAN yang menyatakan terang-terangan mendukung Jokowi-Ma’ruf.

Tidak hanya dari kalangan partai pendukung Prabowo-Sandi, tetapi ada juga ulah yang dibuat oleh sejumlah caleg Partai Golkar yang merupakan pendukung Jokowi-Ma’ruf pada awal Oktober lalu yang menyatakan mendukung Prabowo-Sandi.  Alasannya sama, caleg yang membelot itu merasa suara Golkar tak akan naik jika mendukung Jokowi-Ma’ruf. Mereka beralasan, Prabowo-Sandi lebih memiliki kedekatan dengan karakter Golkar.

Bagaimana Seharusnya Capres Bersikap?

Pileg dan pilpres yang digelar serentak memang memiliki kelebihan dari segi efisiensi pelaksanaan (meski dari segi anggaran sama bengkaknya). Namun, dampak lainnya mengharuskan partai membagi konsentrasi dan energi untuk memperjuangkan keduanya. Di situ tantangannya bagaimana menyinergikan antara memenangkan pilpres dengan memenangkan pileg.

Bagi partai-partai yang tak terkena ‘efek ekor jas’, terlebih partai yang terancam tak lolos parliamentary threshold versi sejumlah survei, maka fokus ke pileg adalah hal yang realistis. Sebab, mesin partai terletak pada kerja para caleg itu sendiri. Jika caleg tak maksimal memenangkan pileg atau terkendala dengan wilayah konstituen yang pro-capres lawan, itu artinya seperti menggali kuburan bagi partai tersebut.

Dalam konteks ini, koalisi di kubu petahana memang terlihat sepertinya solid. Namun persoalan yang dihadapi partai koalisi Jokowi sebenarnya tak jauh berbeda dengan kubu Prabowo. Bedanya, sikap di tingkat pimpinan pusatnya. Untuk Partai Golkar, dengan tegas DPP-nya memecat caleg-calegnya yang membelot, karena tak sesuai dengan arah kebijakan partai. Sementara DPP PAN dan Demokrat, justru memberi dispensasi yang membolehkan caleg-calegnya tak memenangkan Prabowo-Sandi di daerah tertentu.

Selain iu, kubu Jokowi-Ma’ruf juga lebih tegas terhadap kesolidan partai-partai pendukungnya. Beberapa hari lalu, Sekretaris Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Hasto Kristiyanto bahkan mengancam akan memberikan sanksi bagi caleg-caleg dari partai politik pengusung Jokowi-Ma’ruf yang tidak mengkampanyekan Jokowi-Ma’ruf. Sementara tim Prabowo, khususnya Gerindra selaku ‘pemimpin koalisi’ tak bersikap tegas baik teguran maupun sanksi.

Dengan kondisi partai seperti itu, Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf perlu bertemu untuk bernegosiasi ulang tentang apa-apa yang perlu disepakati. Dengan begitu, kerapuhan-kerapuhan yang terlihat selama ini, terutama di koalisi Prabowo, bisa berkurang dan publik melihat bahwa koalisi ini adalah koalisi yang serius untuk bisa menyeimbangkan antara pileg dengan pilpres.

Capres-cawapres juga akhirnya mau tidak mau harus lebih menggerakan mesin-mesin politik di luar partai koalisi, misalnya dengan mengaktivasi relawan-relawan. Dengan bergantung ke partai yang diterpa kecemasan dan mesin politik riilnya (para caleg) tengah sibuk menyelamatkan diri masing-masing ke Senayan, tentu saja tak membantu bagi pemenangan capres.

Di luar itu, sebagai ‘sanksi’ terhadap partai koalisi yang setengah hati dan ogah-ogahan bekerja untuk Pilpres, capres pemenang barangkali tidak perlu memberi atau setidaknya mengurangi jatah menteri bagi partai bersangkutan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here