Dilema PDIP: Pendaftar Bacawali Kota Malang dari PDIP Bertambah

0
24
Pemberian berkas Bacalon Walikota Malang, di Sekretariat PDIP Kota Malang

Nusantara.news, Kota Malang – Sebagai salah satu partai terbesar di Kota Malang, yang meraup suara terbanyak di Pilkada Kota Malang 2013 lalu, PDIP kini menunjukkan taringnya kembali di Pilkada Kota Malang 2018 mendatang.

PDIP Kota Malang, menduduki kursi terbanyak di DPRD sebanyak 11 kursi. Namun sayang, suara tersebut tidak sinkron dengan calon Walikota yang diusung oleh PDIP kala itu. Rumor yang beredar, PDIP pada masa itu terjadi dualisme kubu dan suara.

Kini, PDIP akan bersatu kembali untuk meraih kemenangan di Pilkada Kota Malang 2018, setelah sosok yang digadang-gadang tersendat kasus suap dan tindak korupsi APBD-P Kota Malang tahun anggaran 2015. PDIP tetap optimis untuk menjaring dan membuka seluas-luasnya kepada khalayak masyarakat yang ingin mencalonkan diri sebagai Walikota Malang (N-1), dan Wakil Walikota Malang (N-2).

Beberapa nama telah masuk sebagai bursa bacalon N-1 dan N-2 dari PDIP, yaitu bacalon N-1 ada nama Sutiaji, M Arief Wicaksono, Gandung RH, Wahyu Eko S, Eddy Wahjudi, dan Agus Subagyo. Sedangkan di deretan bacalon N-2 ada Daniel Sitepu dan I Wayan Sutama.

Di luar itu, pendaftar bertambah yakni Ahmad Wanedi yang memang sudah lama menjadi perbincangan di kalangan elit politik. Salah satu kader terbaik PDIP Kota Malang tersebut baru saja mengembalikan formulir pendaftaran calon Wakil Walikota Malang melalui Tim V PDIP setelah sebelumnya mengambil formulir dari DPP PDIP pada Senin (13/11/2017) lalu.

Pihaknya sengaja memilih mendaftar sebagai calon Wakil Walikota Malang dibanding sebagai Calon Wali Kota Malang. “Saya merasa dipanggil oleh masyarakat Kota Malang serta para kader PDIP sebagai bakal calon Wakil Walikota Malang,” jelas Pria berusia 48 tahun tersebut.

Selain itu, ada Ir Hadi Prajoko MH yang mendaftar sebagai bakal calon N1 dan N2 sekaligus di kantor DPC PDIP Kota Malang. Sebelumnya, Prajoko juga mendaftar sebagai bakal calon N2 di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Ia berharap kekuatan riil dari pembangunan bangsa adalah bersatuyta kekuatan nasionalis dan religius, hal tersebut juga dapat memberi suasana harmonis di Kota Malang kedepannya.

Ketua Tim V Made Rian mengatakan Hadi Prajoko mendaftar sebagai N1, tapi juga siap sebagai N2. “Terkait beliau juga mendaftar di partai lain, itu sepenuhnya wewenang DPP untuk menentukan,” terangnya.

Ia menegaskan pada dasarnya kota Malang perlu perbaikan terus menerus agar lebih baik.“Ibarat pohon harus ada regenerasi, harus ada estafet dalam politik, semangat nasionalisme sejak saya mahasiswa kini waktunya untuk diterapkan pada politik riil,” jelas mantan Aktivis GMNI tersebut.

Menurutnya, masing-masing pendaftar dalam Tim V memiliki potensi dan peluang yang sama untuk mendapat rekomendasi. Sehingga dia siap apabila mendapat rekomendasi dan dicalonkan dengan siapa saja.

Dilema antara Berdikari atau Koalisi

kondisi banyaknya pendaftar N-1 dan N-2 tersebut membuat PDIP memiliki dua opsi dalam menyikapi Pilkada tahun mendatang, yakni berkoalisi dengan partai atau maju sendiri secara berdikari dengan menampilkan kader terbaiknya serta para tokoh yang sudah mendaftar.

Tokoh dan sosok yang digadang-gadang maju N-1, serta memiliki pengaruh dan pamor besar di Kota Malang, yakni M Arief Wicaksono, masih belum bisa untuk turut serta dalam Pilkada Kota Malang 2018. Pasalnya, dirinya masih terjerat dalam pusaran kasus dugaan suap APBD-P Kota Malang. Kondisi tersebut seakan menambah dilema bagi partai banteng dengan putih.

Sosok selain M Arief Wicaksono yang masih memiliki potensi dan pengaruh di Kota Malang yakni, sosok Sri Rahayu yang pada tahun 2013 lalu pernah maju sebagai bacalon wali kota dan Sri Untari yang kini menjabat sebagai Anggota DPRD, Jatim, bisa saja diajukan sebagai bacalon wali kota.

Belum lagi dari beberapa tokoh yang mendaftar ke PDIP,  yakni ada Sutiaji (Wakil Walikota Malang Petahana), Gandung Rafiul Huda, Wahyu Eko Setiawan, Wayan Sutama, Daniel Sitepu, dan terakhir Ahmad Wanedi dan Hadi Prajoko.

Wacana koalisi pun terdengar yaitu dengan menggandeng calon petahana M Anton. Komunikasi beberapa waktu telah dilakukan oleh pihak PDIP dan PKB untuk mencari pasangan petahana. Tinggal, menentukan kepastian untuk menjadi pendamping dari calon koalisya, entah Sri Rahayu, Sri Untari, atau Abdul Hakim sudah menguat menjadi pendamping petahana dari kubu PDIP.

Namun, sayangnya hingga kini belum ada kepastian soal kelanjutan rencana koalisi itu. Kolaisi PDIP – PKB atau yang akrab disebut ‘Bangjo’ atau ‘Abang-Ijo’ sudah ramai dibicarakan karena sinergis dengan koalisi di Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018. Kita tunggu saja.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here