Diplomat Top Cina Temui Trump, Bahas Apa?

0
59
Penasehat Negara Cina Yang Jiechi (Foto: Reuters)

Nusantara.news, Washington – Penasihat Negara Cina Yang Jiechi, yang juga diplomat top Cina menemui Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Senin (27/2). Apa agenda penting yang mereka bicarakan dalam pertemuan singkat, sekitar tujuh menit di Gedung Putih itu? Pastilah satu hal yang penting bagi kelanjutan hubungan AS-Cina.

Seorang pejabat senior pemerintah AS, sebagaimana dilansir Reuters (28/2) mengatakan pembicaraan singkat Yang dan Trump salah satunya membahas kerja sama bilateral dan kemungkinan mengatur pertemuan langsung antara Trump dan Xi Jinping, meskipun belum ada kesepakatan tanggal yang ditetapkan.

Pejabat itu mengatakan, pertemuan singkat antara Yang dan Presiden Trump terjadi setelah Yang melakukan pembicaraan dengan penasihan Keamanan Nasional AS yang baru HR McMaster, dan juga penasihat senior yang tak lain menantu Trump Jared Kushner, serta kepala strategi Gedung Putih Steve Bannon. Ketiga orang tersebut saat ini sebagai “juru kunci” dari kebijakan-kebijakan Trump.

Bagi Trump, Presiden AS yang sebelumnya selalu “menyerang” Cina dalam isu-isu perdagangan mauoun jalur internasional Laut Cina Selatan, ini adalah pertemuan fisik pertama dengan pihak Cina yang diwakili oleh diplomat sebagai wakil dari pemimpin Cina.

Pihak Gedung Putih mengatakan pertemuan tersebut menjadi momentum awal untuk mendiskusikan soal-soal kepentingan keamanan bersama antara AS dan Cina. Pertemuan juga menjadi awal bahwa pertemuan Trump dan Jinping bakal segera terwujud.

Juru bicara Gedung Putih Sean Spicer menyebutnya sebagai “sebuah kesempatan untuk say hello untuk Yang ke Presiden Trump.

“Ini adalah kesempatan untuk memulai percakapan dan berbicara dengan mereka tentang kepentingan keamanan nasional bersama,” katanya dalam konferensi pers rutin.

Kementerian Luar Negeri Cina, seperti disampaikan Yang mengatakan kepada Trump bahwa Cina bersedia meningkatkan kerja sama dengan Amerika Serikat di semua level, memperluas koordinasi dan kerja sama serta menghormati kepentingan strategis satu sama lain.

“Memastikan pembangunan hubungan Cina-AS sehat dan stabil sehingga pasti menguntungkan kedua bangsa dan juga dunia secara keseluruhan,” kata kementerian yang diungkapkan oleh Yang, sang diplomat.

Yang, adalah orang pertama yang diutus menteri luar negeri Cina, mengunjungi Gedung Putih sejak Presiden Trump menjabat pada 20 Januari 2017.

Kunjungan tersebut menyusul panggilan telepon antara Yang dan Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson pekan lalu, dimana keduanya menegaskan pentingnya hubungan yang konstruktif antara AS-China.

Pertemuan Yang dan Trump adalah perkembangan paling terakhir dari upaya membangun kembali hubungan dua negara ekonomi terbesar dunia pasca-terjerembab dalam ketegangan selepas kemenangan Trump dalam Pemilu AS November 2016 lalu.

rump pada saat itu telah menjadi kritikus Beijing yang sangat memekakkan telinga pemerintah Cina. Trump menuduh kebijakan perdagangan Cina tidak adil, mengkritik pembangunan pulau di Laut Cina Selatan yang strategis, dan menuduhnya tidak melakukan upaya yang cukup untuk mengendalikan tetangganya, Korea Utara.

Pada akhir tahun 2016, Beijing marah setelah Trump menelepon presiden Taiwan dan mengatakan AS tidak perlu lagi mengikuti kebijakan “Satu China”, padahal selama ini Washington mengakui posisi Cina yang hanya ada satu, dimana Taiwan adalah bagiannya.

Namun Trump, dalam komunikasi teleponnya dengan Presiden Cina Xi Jinping, lalu menyepakati untuk menghormati kebijakan “Satu Cina”.

Tapi apakah setelah itu Trump berhenti mengkritik Cina?

Ternyata tidak. Dalam sebuah wawancara dengan Reuters pada Kamis lalu, Trump mendesak Cina untuk berbuat lebih banyak dalam mengendalikan program nuklir dan rudal Korea Utara. Trump mengatakan Beijing bisa mengatasi masalah tersebut, “Sangat mudah jika ingin,” kata Trump.

Namun Cina menolak pernyataan Trump dan mengatakan pada Jumat bahwa inti masalah itu adalah perselisihan antara Washington dan Pyongyang. Beijing sejauh ini telah berulang kali menyerukan untuk kembali pada perundingan antara Pyongyang dan AS.

Jika melihat hal ini, hubungan AS dan Cina tampaknya masih akan fluktuatif, dan tugas para diplomat dari kedua negara-lah untuk membuatnya menjadi stabil.

Seperti halnya Yang, diplomat resmi utusan Cina yang mengadakan pembicaraan di Gedung Putih, pejabat senior dari AS, Jepang dan Korea Selatan juga bertemu di kantor Departemen Luar Negeri AS untuk membahas langkah-langkah yang dibutuhkan untuk mematahkan pendanaan bagi program senjata nuklir Korea Utara.

Mereka sepakat bahwa program nuklir dan rudal balistik Korea Utara secara langsung mengancam keamanan mereka dan tekanan internasional yang kuat diperlukan untuk mendorong kesepakatan dengan Pyongyang.

Namun rencana AS untuk memulai pembicaraan dengan Korea Utara pekan lalu justru dibatalkan setelah Departemen Luar Negeri AS membatalkan visa utusan Pyongyang, sebagaimana dilaporkan Wall Street Journal, Sabtu. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here