Diskusi di Surabaya, Australia Serukan Kerjasama Berantas Illegal Fishing

0
40

Nusantara.news, Surabaya – Pencurian ikan atau illegal fishing terutama di zona biru (blue zone) sangat meresahkan, bukan hanya Indonesia, tetapi juga negara negara yang memiliki pantai.

Oleh sebab itu Indonesia perlu bekerja sama dengan negara-negara lain untuk memberantasnya. Kalau perlu, pemberantasan dilakukan dengan pendekatan militer.

Hal ini dikemukakan pengajar The University of Western Australia Oceans Institute Prof Erika Techera dalam diskusi panel bertema “In The Zone “The Blue Zone: Environment, Security, and Resources in the Indo-Pacific Maritime Realm,” yang diselenggarakan dalam rangka Sister-Province Antara Jawa Timur dan Australia Barat, sekaligus bagian dari Konferensi Tahunan “In The Zone” yang digelar Perth USAsia Centre, di Aula Garuda Mukti Kantor Manajemen Universitas Airlangga, Senin (22/5/2017).

Hadir dalam acara itu Konsul Jenderal (Konjen) RI untuk Perth-Australia Barat, Ade Padmo Sarwono serta pengajar Unair sekaligus Sekretaris Jenderal (Sekjen) Konsorsium Mitra Bahari Jawa Timur Prof Sri Subekti Bendryman.

Sedangkan dari Australia, hadir Prof Gordon Blake sebagai moderator, j mantan Menteri Hubungan Luar Negeri dan Pertahanan Australia Prof Stephen Smith dan pengajar The University of Western Australia Oceans Institute Prof Erika Techera.

Erika Techera menegaskan, berbicara tentang ketahanan pangan tidak akan berhasil kalau tidak memerangi penangkapan ikan secara ilegal. Australia, bersama negara-negara di kawasan blue zona Indo-Pasifik, harus bisa berkolaborasi secara intensif untuk memerangi illegal fishing itu.

Kolaborasi itu perlu juga dilakukan di ranah akademik. Dalam hal ini, kalangan akademisi, khususnya dari Indonesia, bisa memberikan rekomendasi kebijakan yang lebih baik kepada para perumus regulasi. Sehingga ada perencanaan kebijakan perikanan dan kelautan dan aneka potensi maritim lainnya yang bisa dimaksimalkan.

Erika Techera mengatakan potensi lestari perikanan sekitar 6,4 juta ton per tahun. Dari angka itu, yang bisa dioptimalkan seebsar  5,4 juta ton per tahun, sesuai dengan aturan internasioal yang hanya membolehkan penangkapan ikan sebesar 80 persen atau  (5,12 ton). “Jadi ada peluang untuk meningkatkan potensi perikanan sekitar 720 ribu ton per tahun,” katanya.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan yang juga pengajar di Fakultas Perikanan dan Kelautan Unair, Prof Sri Subekti, sependapat dengan pendapat Erika. Kemiskinan masih menjadi masalah utama masyarakat pesisir di Indonesia. “Karena itu, pemerintah Indonesia harus bisa bekerja sama dengan negara lain memberantas illegal fishing untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir, seperti nelayan,” katanya. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here