Ditabrak Tongkang, Jembatan Ampera Terancam Ambruk

0
2473
Warga menonton kapal tongkang bermuatan batu bara yang menabrak tiang Jembatan Ampera di Sungai Musi, Palembang, Sumatra Selatan, Rabu (17/5). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/kye/17

Nusantara.news, Palembang – Ironis memang. Saat Presiden Joko Widodo sibuk membangun infrastruktur di sejumlah wilayah Indonesia, di saat yang bersamaan pengamanan atas infrastruktur yang ada terabaikan.

Buktinya, Jembatan Ampera yang menjadi ikon Kota Palembang, Rabu (17/5) siang tadi sekitar pukul 11.15 WIB ditabrak kapal tongkang yang terlepas dari kapal penariknya (tug boat). Diduga tongkang yang mengangkut batubara itu kelebihan muatan.

Selain menabrak tiang jembatan, mengutip kesaksian sejumlah warga yang berjejal padat menyaksikan peristiwa itu, tongkang juga menabrak speedboat yang melintas dan menenggelamkannya.

“Benturannya keras. Kami khawatir rubuh,” ujar Iksan warga Cempaka Dalam yang sedang melintas di Benteng Kuto Besak (BKB) saat peristiwa terjadi.

Berdasarkan kesaksian Ketua Dewan Kesenian Kota Palembang Vebri Al-Litani yang berkantor di kompleks BKB, ini bukan peristiwa yang pertama kali terjadi. Sebelumnya Jembatan Ampera juga sudah pernah ditabrak tongkang bermuatan semen. “Seingat saya sudah berkali-kali tabrakan terjadi,” beber Vebri yang aktif bergiat di sastra, musik dan teater ini.

Dalam catatan Walhi Sumsel, sepanjang 2009-2010 saja terjadi empat kali kapal menabrak tiang jembatan. Pada 28 Maret 2016 lalu juga terjadi kejadian serupa, kapal tongkang bermuatan semen yang terseret menabrak kaki jembatan.

Mengutip cerita Vebri, Jembatan Ampera dibangun dengan biaya pampasan perang dari pemerintah Jepang. Jembatan sepanjang 1.117 meter dengan lebar 22 meter itu berdiri di atas Sungai Musi, menghubungkan kawasan ilir dan kawasan ulu Kota Palembang.

Pembangunan jembatan yang diresmikan Presiden Soekarno tahun 1965 itu sebenarnya sudah digagas pemerintah Hindia Belanda sejak 1906. Gagasan itu coba diwujudkan oleh Walikota Palembang era Kolonial Le Cocq de Ville tahun 1924, namun menguap seiring terusirnya Pemerintah Hindia Belanda dari Indonesia pada 27 Desember 1949.

Pada 29 Oktober 1956, DPRD Peralihan Kota Palembang lewat sidang plenonya dengan modal awal Rp30 ribu mengusulkan pembangunan jembatan. Maka dibentuklah tim terdiri dari Gubernur Sumsel H.A. Bastari, Pangdam IV Sriwijaya Harun Sohar dan Walikota Palembang M. Ali Amin yang kemudian menghadap Bung Karno untuk mmeinta dukungan rencana pembangunan jembatan.

Bung Karno setuju dengan syarat, ada ruang terbuka di kedua sisi jembatan (sekarang disebut pelataran BKB di seberang ilir dan Kampung Kapiten di seberang ulu). Akhirnya dengan modal dana pampasan perang dari Jepang pada 14 Desember 1961 ditandatangani kontrak pembangunan Jembatan senilai 4,5 juta dolar AS. Jembatan itu mulai dibangun tahun 1962 dan selesai tahun 1965.

Jembatan itu, beber Vebri, awalnya bernama Jembatan Bung Karno dan berwarna merah. Namun seiring berlangsungnya De Soekarnoisasi era Orde Baru, nama jembatan berubah menjadi Jembatan Amanat Penderitaan Rakyat  yang disingkat Ampera. Warnanya pun sempat berganti dari merah ke kuning.

“Dulu jembatan itu bisa naik turun. Kalau ada kapal besar yang lewat jembatan dinaikkan. Tapi sekarang fungsi hidroliknya sudah rusak,” kenang Vebri.

Namun Vebri belum tahu seberapa parah kerusakan jembatan akibat tabrakan Rabu ini. “Kontruksinya memang kokoh. Sudah berkali-kali ditabrak tongkang dan ponton tapi tetap kokoh berdiri. Namun kalau terlalu sering ditabrak tongkang bukan tidak mungkin jembatan ini ambruk. Sekarang saja kalau melintas di tengah jembatan goyangannya sudah terasa lebih keras,” ungkap Vebri.

Jadi sangat disayangkan, saat presiden sibuk membangun infrastruktur namun aparat pemda setempat justru mengabaikan keselamatan infrastruktur yang sudah ada, termasuk pengamanan Jembatan Ampera yang berkali-kali ditabrak kapal pengangkut batubara. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here