Ditarget Sindikat Narkoba Cina, Kapolda Jawa Timur Siap Perang 

0
69

Nusantara.news, [Lokasi] – Dengan status provinsi yang tergolong paling banyak penduduknya, Jawa Timur jadi magnet jaringan narkoba internasional tancapkan pengaruh. Tantangan ini disadari Irjen Pol Machfud Arifin, Kapolda Jawa Timur yang baru dilantik Kamis (5/1/2017). Mantan Kepala Divisi Teknologi dan Informasi Mabes Polri tersebut dengan tegas siap perangi siapapun yang menjadi kaki tangan jaringan narkoba internasional.

“Fokus saya kalau untuk kejahatan adalah memberantas narkoba. Selama saya menjadi kapolda, Jawa Timur harus diminimalisasi dari peredaran narkoba,” tegasnya kepada wartawan. Warning ini diikuti janji tidak akan pandang bulu menyikat habis terutama orang asing yang membawa narkoba dengan target generasi muda Jawa timur.

Kendati tidak mendominasi, namun penyelundupan narkoba oleh orang asing ke Jawa Timur trendnya selalu meningkat tiap tahun. Data yang didapat redaksi nusantara.news, untuk sepanjang 2013-2016 saja Bea dan Cukai Juanda Surabaya mengungkap 49 kasus penyelundupan narkotika, psikotropika dan prekusor (NPP). Jumlah itu diprediksi bisa menyelamatkan sebanyak 176.105 jiwa generasi muda.

Kepala Bea dan Cukai Bandara Juanda Moch Mulyono merinci pihaknya berhasil menyita beberapa barang bukti seperti 35.221 gram methamphetamine, 260 butir ekstasi dan 20 ribu butir pil happy five, yang coba diselundupkan dengan berbagai macam modus operandi. Terbaru, Mulyono menyebutkan jajarannya menggagalkan upaya penyelundupan narkoba jenis sabu-sabu asal Kuala Lumpur Malaysia dengan berat total 415 gram.

Kristal haram itu disembunyikan pelaku berinisial MA di dalam gagang koper yang terdeteksi ketika melewati lorong pemeriksaan Bandara Internasional Juanda, setelah turun dari pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan XT-8298. “Kejadiannya 18 Desember 2016. Namun pintu masuk lain tentu masih banyak ke Jawa Timur. Kini kami masih mendalami jaringan pelaku termasuk asal narkoba yang dibawa,” sebutnya.

Sindikat 11 Negara dan Oknum Aparat

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Budi Waseso dalam pernyataannya di Batam (6/1/2017), menyebutkan aliran narkoba yang masuk ke Indonesia berasal dari 11 negara melalui 72 jaringan internasional. “Ada 11 negara mensuplai narkoba ke Indonesia. Narkoba itu muaranya di Indonesia. Ini fakta yang terjadi saat ini,” katanya.

Dilihat dari negara asalnya, selain sindikat dari kawasan Afrika dan Amerika Latin, penyuplai asal Cina menempati posisi teratas saat ini. Kondisi ini memang mengkhawatirkan dan perlu  segera ditindaklanjuti dengan kebijakan lintas sektoral. Sebab, menurut perwira dengan tiga bintang ini, reaksi Indonesia terlalu lembek dibandingkan negara lain kendati sudah gembar-gembor darurat narkoba.

“Semua mengirim narkoba ke Indonesia. Meski begitu masih banyak pihak yang tenang-tenang saja. Sementara kalau ada sedikit saja narkoba yang sampai ke Australia, negara tersebut langsung protes dan mengatakan Indonesia mensuplai ke negara itu,” kata dia.

Budi Waseso mengajak semua pihak agar peduli dan sama-sama memerangi peredaran gelap narkoba. Dia bahkan memuji komitmen Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantio. “Panglima TNI (Jenderal Gatot Nurmantio) sudah sepakat bila ada anggotanya yang terlibat sindikat langsung dipecat dan diproses. Ini komitmen yang luar biasa,” kata Budi Waseso.

Ia mengatakan maraknya narkoba di Indonesia memang tidak terlepas adanya oknum-oknum dari berbagai lembaga yang terlibat. Hal tersebut memang sudah menjadi incaran dari jaringan narkoba yang beroperasi di Indonesia sehingga bisnis yang dijalankan bisa lancar. “Tanpa adanya oknum-oknum yang terlibat tidak mungkin itu terjadi. Jadi butuh komitmen semua lembaga untuk membasminya,” kata dia.

Lontaran kekhawatiran lebih dalam bahkan diungkap Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta. Dia menilai, peredaran narkoba di berbagai daerah merupakan bentuk intervensi asing. “Intervensi asing ke dalam negeri sudah sangat luar biasa. Salah satunya dalam bentuk peredaran narkoba,” katanya.

Ini diperkuat indikasi jika Indonesia bukan lagi sekedar negara transit namun sudah jadi tujuan pemasaran. Jika ini terus berkelanjutan secara masif, nasib bangsa Indonesia jadi pertaruhan besar. “Karena melalui narkoba merupakan cara paling gampang menghancurkan sebuah bangsa,” katanya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here