Djoko Santoso, Dirigen Politik Prabowo-Sandi

0
143

Nusantara.news, Jakarta – Parpol pengusung capres-cawapres Prabowo-Sandiaga Uno, Selasa (18/9) lalu, telah menetapkan nama koalisinya dengan sebutan Koalisi Indonesia Adil Makmur (KIAM). Sekjen Partai Gerindra, Ahmad Muzani, menjelaskan bahwa penamaan KIAM karena saat ini yang menjadi masalah bangsa adalah keadilan ekonomi dan hukum, serta masih terjadi ketimpangan sosial.

“Pertama, nama Koalisi Indonesia Adil Makmur disepakati hari ini. Dan taglinenya, ‘Adil Makmur Bersama Prabowo-Sandi’. Kedua, ketua tim (pemenangan) adalah Pak Djoko Santoso,” ujar Muzani.

Ditunjuknya Djoko Santoso sebagai pengarak panji Prabowo-Sandi memang tak terlalu mengejutkan. Sebab, nama mantan Panglima TNI itu sudah disebut-sebut sejak jauh hari. Tentu saja, munculnya nama Djoko bukan tanpa alasan. Waketum Gerindra, Edhy Prabowo, mengungkapkan, Djoko disepakti menjadi ketua timses karena dia adalah tokoh nasional, punya dedikasi, punya kemampuan melobi, dekat dengan semua kelompok, dan bisa diterima oleh semua kalangan.

Tak hanya itu, dipilihnya Djoko Santoso yang kabarnya permintaan langsung dari Prabowo karena Djoko dikenal sebagai “orang kepercayaan” Prabowo sejak sama-sama di militer. Djoko adalah lulusan Akmil 1975, sedangkan Prabowo adalah seniornya satu tingkat. Ketika Prabowo menjadi komandan di Batalyon Infanteri Lintas Udara 328 Kostrad, Djoko menjadi wakilnya.

Kedekatannya berlanjut selepas pensiun. Djoko sempat mendukung Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014 lalu. Hingga kemudian ia pun memutuskan masuk Gerindra. Kini, Djoko duduk di jajaran anggota Dewan Pembina.

Prabowo sendiri memuji Djoko sebagai sosok yang loyal dan seorang ksatria. Pujian itu ia lontarkan misalnya saat perayaan ulang tahun Djoko Santoso, Sabtu (8/9), seraya memberikan keris sebagai  bentuk penghargaan. “Saya beri kenang-kenangan sebuah keris sebagai tanda ksatria, seorang senopati, panglima. Dan begitu beliau pensiun, beliau juga nggak berhenti, dia masih mau berjuang dengan saya. Dan bahkan beliau bersedia kembali jadi wakilnya bintang tiga,” ucap Prabowo.

Prabowo juga menceritakan, sebelum Djoko menjadi Jenderal bintang empat, Djoko adalah bawahannya. Dan meski Prabowo dikenal keras, tetapi hampir tak pernah marah pada Djoko. Sebab, menurutnya, Djoko selalu mengerjakan tugasnya dengan baik. “Saya katakan beliau adalah prajurit yang saya katakan terbaik, yang pernah dimiliki oleh TNI, beliau sangat idealis, beliau ingin jadi prajurit sejati,” imbunya.

Djoko Santoso (kiri) diberi kenang-kenangan keris oleh Prabowo Subianto di perayaan ulang tahun Djoko Santoso

Jenderal Djoko Santoso memang termasuk salah satu jenderal muda dan progresif saat masih aktif di militer. Ia menaiki kariernya dengan memotong dua angkatan lulusan Akademi Militer. Karier Djoko yang melejit itu di antaranya karena faktor Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang terpilih sebagai presiden pada 2004. Djoko diangkat SBY menjadi KSAD pada 18 Februari 2005 mengalahkan dua pesaingnya, Letjen Djaja Soeparman dan Letjen Hadi Waluyo, yang notabene seniornya dari angkatan 1972.

Begitu ia menjadi KSAD, Djoko langsung membuat gebrakan di internal TNI AD. Salah satu polemik besar saat itu adalah penggeledahan rumah (alm) Brigjen Koesmayadi yang ditemukan 103 senapan, 42 pistol, 6 granat, dan 30 ribu peluru. Pembenahan internal dilakukan secara masif oleh Djoko. Ia memaksa TNI menertibkan semua senjata yang diduga diselundupkan ke luar TNI. Djoko juga membongkar penggelapan dana tabungan perumahan prajurit TNI sebesar Rp129 miliar.

Pilihan SBY menunjuk Djoko dari KSAD hingga menjadi Panglima TNI bukan tanpa sebab. Selain karena keberanian dan kualitas kerja Djoko, keduanya juga sudah menjalin keintiman ketika SBY masih menjabat sebagai Kepala Staf Teritorial pada 1998. Saat itu Djoko dipercaya sebagai wakil SBY. Kedekatan itu terjalin dengan baik sampai SBY akhirnya menjadi presiden.

Kini, ia berada di antara dua senior yang amat dihormatinya, SBY dan Prabowo, di koalisi Prabowo-Sandi. Amanahnya sebagai ketua tim pemenangan bisa jadi ajang pertaruhan bagi nama baiknya. Mempersembahkan kemenangan Prabowo-Sandi kepada Prabowo yang dikenal sebagai ‘senior yang keras’ dan kepada SBY sebagai ‘senior yang cerdas’, adalah tantangan tersendiri bagi Djoko Santoso.

Lantas, sejauh mana kelihaian mantan Pangdam Pattimura dan Kasdam Dipenegoro yang dikenal ahli strategi ini mengomandoi tim ‘tempur’ Prabowo-Sandi?

Plus- Minus Djoko Santoso

Sebagai mantan Panglima TNI, tentu pengalamannya di dunia militer sudah cukup memberikan dirinya kemampuan untuk mengatur strategi-strategi yang bisa mewujudkan kemenangan bagi Prabowo-Sandi. Bahkan Prabowo Subianto menyebut Djoko sebagai ahli strategi. Barangkali karena hal ini yang membuat Djoko didaulat sebagai ketua tim sukses Prabowo, selain faktor kedekatan keduanya.

Dengan latar belakang militer dari matra Angkatan Darat dan pengalamannya memimpin wilayah, Djoko sudah terbiasa memetakan medan operasi dan lihai memainkan taktik memenangkan suatu pertarungan di tengah kondisi perlengkapan yang terbatas. Jika spirit ini diinjeksikan di kubu timnya, maka kekuatan ‘raksasa’ di kubu Jokowi bukan tak mungkin bisa ditumbangkan.

Selain itu, kemampuannya juga dibutuhkan untuk meramu strategi, pemetaan friends-enemies, aksi intelijen dan kontra-intelijen, hingga membangun aliansi dan koalisi. Sistem komando dan doktrin yang lazim digunakan di dunia militer juga bisa dengan efektif digunakan untuk mengerahkan loyalitas dan totalitas tiap-tiap bagian dari tim pemenangan Prabowo-Sandi.

Djoko Santoso, semasa menjabat Panglima TNI

Kelebihan lain, Djoko Santoso disebut-sebut memiliki kedekatan dengan berbagai pihak dan dierima oleh banyak kalangan. Networking ini merupakan modal awal untuk mengkonsolidasikan dengan kelompok lainnya. Modalitas ini makin sempurna jika dipadukan dengan kapabilitas Djoko dalam melakukan lobi. Harapannya, Djoko mampu menjadi pelobi agar Prabowo-Sandi mendapatkan dukungan yang dibutuhkan dari segala segmen pemilih dan tokoh berpengaruh untuk memperkuat kepentingan politik Prabowo dalam memenangkan Pilpres 2019.

Di luar itu, Djoko Santoso cukup memiliki basis organisasi dan komunitas. Dia tercatat pernah menjadi Ketua Dewan Penasihat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Ketua Dewan Pembina Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Ketua Dewan Penasihat Forum Sekretaris Desa Indonesia (Forsekdesi), Ketua Dewan Penasihat Pandu Petani Indonesia (Patani), dad pendiri Gerakan Kebangkitan Indonesia (GKI).

Djoko juga sempat mendirikan gerakan Indonesia ASA (Adil, Sejahtera, Aman) dan Partai Pribumi. Di sana Djoko mengumpulkan banyak alumni gerakan mahasiswa. Dari kelompok Cipayung hingga kelompok yang paling kiri. Bahkan sebelum melabuhkan politiknya ke Prabowo di Pilpres 2014, ia tercatat salah satu deklarator ‘Relawan Jokowi Mania’. Simpul-simpul suara ini, jika mampu diaktivasi oleh Djoko dan timnya, akan manambah bonus elektoral bagi Prabowo-Sandi.

Hanya saja, kelemahannya Djoko Santoso ialah politisi yang berasal dari Gerindra, partai yang menjadi tempat Prabowo (capres) dan Sandiaga Uno (cawapres) berasal. Dalam konteks distribusi power ke ragam kekuatan yang berkoalisi, tampak sekali power-nya kumulatif di Gerindra. Jika tak diantisipasi dengan baik, hal itu bisa berpotensi meletupkan ketidakpuasan, ego sektoral partai-partai pengusung lain, akibat peran yang tak terdistribusi dengan baik. Efek lanjutnya, mesin koalisi parpol di luar Gerindra berpotensi tak bekerja secara all out, terlebih fokus partai juga terbelah dengan pemilihan legisltaif.

Selain itu, secara personal, Djoko Santoso sepertinya bukan orang dengan gaya komunikasi equalitarian style yang luwes dan mobile dengan ragam jangkar kekuatan di masyarakat. Dia juga tak segesit dulu karena faktor usia dan kesehatan. Kekurangan lain, penampilannya tak cukup menjadi magnet bagi pemilih pemula atau generasi milenial. Karena itu, kelemahan-kelemahan itu harus ditutup dan diperbaiki personalia lainnya di tim pemenangan.

Pada akhirnya, kekuatan tim pemenangan bukan ada pada perseorangan. Tim secara keseluruhan harus bergerak bersama memenangkan kandidatnya. Ada tim sukses dan tim relawan yang tidak seluruhnya berasal dari partai. Namun, memang figur ketua tim pemenangan punya peran sangat menentukan, sebab ia adalah dirigen bagi sebuah orkestra politik.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here