Doa Nenek Penjual Ikan Asin untuk Presiden Jokowi

0
202

Nusantara.news, Surabaya – Sore hampir gelap, saat Nusantara.news masuk areal Sentra Ikan Bulak di Kenjeran, Surabaya. Tak banyak pedagang yang terlihat, sudah sepi. Namun, seorang nenek masih setia duduk di belakang bedak (tatakan sederhana dari tripleks dengan penyangga sejumlah  bekas ukuran besar, bekas cat). Di atasnya tertata bermacam jenis ikan asin, dagangannya.

Kedua sudut alisnya kemudian mengernyit, diikuti kedua matanya mengarah ke sosok yang datang menghampiri. Layaknya para pedagang di pasar, nenek itu dengan ramah menyapa sambil menawarkan ikan dagangannya.

Sejurus kemudian, sederet nama jenis ikan asin disebutkan. Ada ikan asin jenis Layur disebutkan harganya Rp80 ribu/kg, ikan Kempit Rp30 ribu/kg, ikan Bulu Mentok Rp60/kg, ikan Keting Bakar Rp40/kg, ikan Teri Rp7.500/kg, ikan Teri (Geragu) yang biasa dipakai membuat peyek Rp5/kg, dan ada sejumlah jenis ikan lainnya, termasuk ada terasi bungkusan sedang seharga Rp5 ribu dan Rp10 ribu untuk kemasan lebih besar. Sesaat kemudian, tangan keriput dengan garis-garis otot menonjol, gemetaran menimbang sejumlah jenis ikan asin yang dibeli Nusantara.news.

Nenek yang mengaku telah 20 tahun ditinggal mati suaminya itu menyebutkan namanya, Hasanah, sambil mengatakan umurnya 83 tahun. Memiliki 3 orang anak yang sudah dewasa dan memiliki 3 cucu. “Anak saya kerja kuli bangunan,” katanya.

Cerita pun mengalir, mulai penderitaan masa kecilnya di jaman penjajahan Belanda. Tidak bisa sekolah lantaran kedua orang tuanya berpencar setelah bercerai. Kemudian, ia diasuh suami-isteri Kasiani dan Sahal yang miskin. Hasanah kecil tidak dapat sekolah, lantaran harus membantu bapak tirinya, mencari ikan dan mengolahnya saat sampai di rumah. Kisah lainnya, harus mencuri waktu, keluar diam-diam dari rumah mengintip teman seumurnya yang belajar mengaji di kampung lingkungan tinggalnya.

“Tidak bisa sekolah, bapak ibu saya miskin, setiap hari membantu mencari ikan,” ucap Hasanah mengenang masa kecilnya. Meski begitu, dia tak menyerah. Mencuri kesempatan keluar rumah ia berjalan ratusan meter ke rumah guru mengaji. Mengintip, dan menyimak serta mendengarkan anak-anak sebayanya mengaji. Bekal ilmu itulah yang dia pegang sampai sekarang.

“Saya ingin bisa mengaji, mendengarkan saja dari samping rumah,” katanya.

Tak pelak, saat kembali ke rumah dia kena marah. Tak hanya diomeli, juga disuruh bercerita apa saja yang didengar di tempatnya mengintip anak-anak mengaji. Tak hanya itu, hasanah juga kena pukul ayah tirinya akibat “ulahnya” keluar rumah yang dianggap menghindar dari pekerjaan rumah, yakni mengolah ikan yang kemudian untuk dijual.

Menginjak remaja, dia menjadi penjual ikan yang berpindah-pindah di sejumlah pasar di Surabaya. Dikisahkan olehnya, pekerjaan itu dilakukan setiap hari, berangkat subuh berjalan kaki. Pekerjaan itu dilakoninya hingga dewasa dan menikah. Namun, setelah dikaruniai 3 anak, suaminya meninggal dunia. Untuk kelangsungan hidup, ia menjadi penjual ikan, profesinya yang sejak kecil  terus dilakoni hingga kini.  

Meski mengaku buta aksara, tetapi dia hafal penggalan ayat dan alur kalimat mengaji yang pernah dia dengar. Diantaranya, dia kemudian mengalunkan penggalan syair ‘Perjalanan Mati’. Dikatakannya, manusia pasti mati, harus memahami hakekat hidup. Hidup untuk apa, mencari apa, dan mau kemana, semua perjalanan itu akan berakhir, yakni kematian. Dengan fasih Ia pun melafalkan syair itu:

“Atene mati, gak tentu larane…

Dhiluk lan suwe enteng sarane…

Ilingo, nek ngono iku…

Gak arep mangan, gak arem ngombe bengi lan awan…

Wujud’e lemon pahit nok lambe…

Empuk’e kasur entek rasane…

Banyu lan sego sengit rasane …

Dhapak wes susut kabeh badan’e…

Aduh mbok, anak siro tak tinggal…

Bojo lan anak ojok oleh nakal…

Gelem’o pasrah nang Pangerane…

Sambathe mayet, aku ndak kuat…

Sambat panas aku ndak kuat…

Modin moro ngadusi, mayit e sambat…

Tumpak ane kereto Jowo, rudane ruda manungso…

Jujukane guwo, ora bantal ora ono kloso…

Ditutupi anjang-anjang…

Diuruki, disiram, kembang…

Bolo-bolo nangis kelangan…

Panutan kito iku Kanjeng Nabi…

Allah Ta’ala, kang Maha Suci…

Nenek yang asli warga kampung nelayan Kenjeran itu balik bertanya kepada Nusantara.news, kenapa hingga petang di lokasi itu. Mendapat jawaban sengaja melihat lokasi yang akan disambangi Presiden Joko Widodo, dia terperanjat. Meski mengaku tidak kenal dan  tidak pernah melihat wajah Presiden Jokowi lantaran tidak memiliki televisi, dia mengatakan setiap hari selalu mendoakan presidennya (Joko Widodo) agar diberi kekuatan memimpin negeri ini.

Sakbendino, (setiap hari-red) saya mendoakan dia (presiden-red),” katanya dengan mimik serius. “Mau kesini ta? Saya ingin melihat, supaya ikan saya juga dibeli,” ucapnya sambil mengatakan semoga dia bisa bersalaman dengan Jokowi dan berharap ikan dagangannya dibeli oleh Jokowi.

Untuk Presiden Jokowi, dia berpesan agar selalu mendengarkan sulitan rakyat kecil. Keberhasilan pemimpin lanjutnya, juga karena rakyat. Siapa pun orangnya, sebagai pemimpin bangsa harus mau mendengarkan atau memahami kesulitan rakyat, utamanya rakyat yang susah dan miskin.   

Sosok Jokowi menurutnya adalah nama yang Njawani. Orang baik, yang mengerti dengan nasib rakyatnya. Kemudian, dia kembali menyampaikan agar pesannya tersampaikan ke Jokowi. Dikatakan olehnya, kalau ketemu dia akan meminta restu untuk bisa berangkat haji, sambil mengatakan kalau dirinya terus menabung.

Dari hasil berjualan ikan, Hasanah bisa menabung, untuk biaya umroh. Tampaknya aneh, kenapa dia punya keinginan bersalaman dengan Jokowi dan meminta mantan Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta itu ikut mendoakan agar bisa menunaikan ibadah haji?. Dia pun berpesan agar diberitahu jika Jokowi tiba di lokasi tersebut (Sentra Ikan Bulak di Kenjeran). Sambil mengatakan,, kalau Jokowi lewat di pasar ikan tersebut, dirinya akan memberikan ikan. “Kalau lewat sini, saya beri ikan,” katanya.

Setelah mengucap kalimat itu, nenek Hasanah menambah kalimat ucapannya. Kalau janji tidak boleh bohong, maksudnya Jokowi telah berjanji untuk rakyat akan membantu mensejaterahkan rakyat, membantu wong cilik.

“Janji-mu, yo janji-mu, mulo sedoyo kudu netepi, ndunyo lan akherat (Janji-mu ya janji-mu, untuk itu semua yang telah berjanji harus ditepati, dunia dan akherat-red),” ucap nenek Hasanah itu dengan mimik memberi pengertian.

Entah apa yang tersirat, obrolan dengan nenek Hasanah tak terasa lebih dari satu jam. Hujan deras dan angin harus menghentikan semua obrolan. Seorang lelaki remaja datang tergopoh, dengan pakaian kumuh kemudian dibantu Nusantara.news merapikan dagangan ikan nenek Hasanah, di tutup plastik agar terlindung dari percikan air akibat diterpa angin.

Setelah beranjak, dan bertanya ke sejumlah orang, didapat keterangan Jokowi tidak jadi hadir di hari itu, 16/2/2017. Sejumlah orang menyebut, rencana kedatangan Presiden ke wilayah itu diundur, 21/2/2017.

“Kemarin terop sudah berdiri, dan akhirnya dibongkar lagi,” ucap seorang lelaki. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here