DOJ Selidiki Penyusup di Tim Kampanye Trump

0
31
Presiden AS Donald J Trump

Nusantara.news, Washington – Departemen Kehakiman (DOJ/ Department of Justice) sedang mengusut tindakan Biro Penyelidik Federal (FBI/Federal Bureau Investigation) yang diduga melakukan penyusupan – atau mengawasi – Tim Kampanye Donald J Trump pada Pemilihan Umum Presiden Amerika Serikat (AS) pada tahun 2016.

“Jika ada yang melakukan infiltrasi atau mengawasi peserta dalam kampanye kepresidenan untuk tujuan yang tidak pantas, kami perlu mengetahuinya dan mengambil tindakan yang tepat,” ujar Wakil Jaksa Agung Rod Rosenstein, Senin Legi (21/5) kemarin.

Selidiki Penyusup

Pernyataan DOJ itu muncul setelah Presiden AS Donald J Trump berang dan menuding Tim Kampanye Kepresidenannya disusupi oleh mata-mata. Trump bahkan menuding “Mantan Presiden Barrack Obama telah memata-matai kampanye Trump” – sebuah tudingan yang mengarah kepada keterlibatan mantan Jaksa Federal Andrew McCarthy dalam memata-matai kampanye Trump.

Senin kemarin Inspektorat Jenderal – yang bertugas mengawasi penyelidikan oleh FBI dan Jaksa – diarahkan oleh Presiden menyelidiki tuduhan-tuduhan itu.

“Departemen telah meminta Inspektur Jenderal untuk memperluas peninjauan yang sedang berlangsung dari proses aplikasi FISA untuk memasukan penyelidikan apakah ditemukan unsur-unsur ketidakpantasan atau motivasi politik dalam investigasi FBI terhadap orang-orang yang dicurigai terlibat dengan agen Rusia yang diduga ikut campur dalam pemilihan presiden AS 2016,” beber Juru Bicara DOJ Sarah Isgur Flores dalam sebuah pernyataan.

“Seperti biasa, Inspektur Jenderal akan berkonsultasi dengan Jaksa AS yang sesuai jika ditemukan adanya potensi tindak pidana,” tambahnya.

Wakil Jaksa Agung Rod Rosenstein yang mengawasi Penasehat Khusus Penyelidikan Robert Mueller dalam kasus dugaan campur tangan Rusia dalam kampanye pemilu 2016 dan kemungkinan dugaan keterlibatan Trump dengan Moskow – menambahkan, jika ada yang menyusup atau mengawasi peserta dalam kampanye presiden untuk tujuan yang tidak pantas, kita perlu mengetahuinya dan mengambil tindakan yang tepat.”

Senin sore kemarin Trump dijadwalkan bertemu Rosenstein dan Direktur FBI Christopher Wray, serta Kepala Staf Gedung Putih John Kelly dan Direktur Intelejen Nasional Dan Coats untuk membahas tanggapan mereka terhadap permintaan Kongres mengenai berbagai topik, jelas Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders kepada NBC News.

Pertemuan itu sudah dijadwalkan sebelum Trump melontarkan tweet yang menyerukan penyelidikan DOJ selama akhir pekan lalu, tandas Sanders.

Pengawas internal DOJ telah memeriksa keluhan Partai Republik tentang kesalahan FBI pada tahap awal investigasi dugaan keterlibatan Rusia dalam pemilihan umum presiden AS. Sebagai tindak lanjut, bulan Maret lalu Inspektur Jenderal Michael Horowitz telah mengumumkan penyelidikan atas permintaan Jaksa Agung Jeff Sessions dan anggota Kongres dari Partai Republik.

Kedua lembaga itu mendesak Horowitz mengusut dugaan penyalahgunaan pengawasan oleh FBI dan DOJ dengan menggunakan informasi yang dikumpulkan oleh Christopher Steele – mantan mata-mata Inggris – sebagai bagian dari dasar untuk membenarkan adanya pengawasan terhadap Carter Page – mantan penasehat Tim Kampanye Trump.

Identitas Penyusup

Pengumuman terbaru DOJ datang setelah Trump pada hari Minggu – melalui akun Twitter – menuntut penyelidikan. Partai Demokrat mengkritik Trump yang disebutnya melakukan intervensi kepada DOJ.

“Selama berbulan-bulan, @realDonaldTrump telah menghina dan mencoba mendiskreditkan laki-laki dan perempuan di FBI maupun DOJ dalam upaya melayani diri sendiri untuk mengalihkan dari skandal Trump-Rusia,”tulis Ketua Minoritas DPR Nancy Pelosi – Demokrat asal California. “Fantasi konspiratorialnya tidak boleh dibiarkan merusak fungsi sistem peradilan kita.”

Hal senada diungkap Senator Dianne Feinstein – seorang Demokrat yang dipilih dari negara bagian California – yang memposting: “Departemen Kehakiman bukanlah bagian dari Gedung Putih. Departemen Kehakiman bersifat independen dan melayani rakyat AS.”

“Tugasnya adalah mengikuti fakta dan hukum. Investigasi penegakan hukum harus dimulai dan dilakukan bebas dari campur tangan politik,” tandas Feinstein.

Pada Sabtu Wage (19/5) lalu The New York Times melaporkan setidaknya ada satu informan pemerintah bertemu beberapa kali dengan Page dan George Papadopoulos – mantan penasehat kebijakan luar negeri dalam tim kampanye Trump.

The New York Times – mengutip pernyataan sejumlah pejabat FBI – melaporkan informan itu berbicara kepada Page dan Papadopoulos karena FBI menemukan sejumlah kontak yang mencurigakan terkait dengan Rusia. Papadopoulos tahun lalu didakwa oleh penyelidik Mueller dan mengaku bersalah karena telah berbohong kepada FBI. Dia telah setuju untuk bekerja sama dengan jaksa.

Selama berhari-hari Trump uring-uringan dan menyebarkan tweet tuduhan serupa. Pada Jumat Pon (18/5) lalu Trump menuduh Departemen Kehakiman menempatkan “mata-mata” di dalam kampanye kepresidenannya sebagai bagian dari upaya menjebak kasus kejahatan yang dia katakan “tidak pernah dia lakukan”.

“Rupanya DOJ menempatkan mata-mata dalam Kampanye Trump. Ini belum pernah dilakukan sebelumnya dan dengan cara apa pun yang diperlukan, mereka keluar untuk membingkai kejahatan Donald Trump yang tidak pernah dilakukannya,” tulis Trump di akun Twitternya.

Selanjutnya kakek 72 tahun yang masih uring-uringan itu menandaskan, jika laporan itu benar, itu akan menjadi “skandal politik terbesar sepanjang masa”.

Rudy Giuliani – pengacara Trump yang pernah menjabat walikota New York pada Jumat Pon kemarin mengatakan tim pengacara telah diberitahu seorang informan “off the record” – namun dia menambahkan tidak tahu apakah informasi itu benar. Informan itu, tulis The New York Times yang juga dibenarkan oleh The Washington Post, adalah seorang akademisi asal AS yang bekerja di Inggris.

Sedangkan FBI secara tegas menolak memberikan bukti kepada para pemimpin Kongres tentang informan yang diberitakan. Mereka berpendapat hal itu akan menempatkan kehidupan informan – kontaknya – berada dalam bahaya. Namun Presiden Trump bisa memerintahkan Departemen Kehakiman AS – yang memiliki pengawasan atas FBI – merilis dokumen.

Ekspresi Ketakutan

Kenapa Trump uring-uringan sejak kantor, rumah dan tempat menginap Cohen – pengacara pribadinya – digerebek FBI? Karena tampaknya Trump tidak senang dengan langkah penyelidikan Robert Mueller yang akan memperluas cakupan penyelidikannya.

“Ini sebuah ekspresi ketakutan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tulis wartawan BBC AS-Canada Anthony Zurcher dalam komentar analisisnya.

Kemarahan Trump, lanjut Zurcher, dipicu sebuah artikel di New York Times tentang upaya Mueller menelisik bukti – bukan hanya orang-orang yang diduga memiliki keterkaitan dengan Rusia, melainkan juga orang-orang di dalam Tim Kampanye Trump yang memiliki keterkaitan dengan bantuan Israel dan Kerajaan Arab Saudi dalam kampanye. Hukum pemilihan umum di AS dilarang tegas melibatkan warga negara asing.

Setelah mengecam New York Times, Trump mengecam Demokrat. Dan setelah itu menggunakan Twitter sebagai senjata untuk memberikan intruksi kepada Departemen Kehakiman AS untuk kepentingan dirinya sendiri.

Presiden telah men-tweet intruksi yang terdengar resmi dan ternyata ditindaklanjuti oleh pejabat DOJ – termasuk Wakil Jaksa Agung Rod Rosenstein yang terancam pemecatan. Jika perintah presiden lewat Twitter itu serius, Zurcher menulis, itu merupakan upaya mempengaruhi proses investigasi DOJ yang telah terisolasi dari campur tangan presiden sejak skandal Watergate pada pemerintahan Richard Nixon.

Trump sangat percaya komunitas intelejen telah bersekongkol melawannya. Dalam pikirannya mungkin dia menggerutu kepada kawan-kawannya yang bersikap lunak terhadap musuh-musuhnya. Padahal dia menginginkan pejabat yang dia angkat bersikap tegas. Itu pula yang membuat pejabat pentingnya seperti Menteri Luar Negeri, Menteri Pertahanan dan Kepala Staf Gedung Putih berganti-ganti. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here