Dokter RSUD Soetomo dan FK Unair tak Akur, Menristek-Dikti Turun Tangan

0
184

Nusantara.news, Surabaya – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menggandeng Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menyelaraskan pendidikan kedokteran dengan pelayanan masyarakat di bidang kesehatan. Ini disampaikan Menristekdikti Prof Muhammad Nasir di sela penyerahan Surat Keputusan Riset Dosen dan Guru Besar serta Dana Riset, di Gedung Pusat Terpadu Diagnostik RSUD dr Soetomo Surabaya, Senin (27/3/2017).

“Banyak rumah sakit kurang sejalan dengan Fakultas Kedokteran. Padahal, dengan dekatnya dua lembaga itu bisa meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat yang lebih baik dengan pendekatan riset,” kata M. Nasir.

Mantan Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini ingin mewujudkan kolaborasi antar keduanya. Dia mencontohkan FK Undip dengan RSU dr Kariyadi, FK UGM dengan RSU dr Sardjito, FK Unpad dengan RS Hasan Sadikin, FK Unair dengan RSU dr Soetomo, serta FK UI dengan RSCM yang sudah melakukan kerjasama.

Nasir menegaskan, kementeriannya akan sama-sama mengakui praktisi yang mengabdi di Rumah Sakit maupun di FK sebagai pendidik. Praktisi di RS juga bisa mendidik di FK. Kebijakan ini juga disetujui Kemenkes.

“Tanggal 31 Maret 2017 melalui Dirjen Sumber Daya Manusia akan mengadakan pertemuan dengan Rumah Sakit Pusat di daerah maupun Rumah Sakit daerah dengan dekan FK untuk menyusun langkah-langkah bersama menyelesaikan masalah. Akan ada Komite Bersama Kemenristekdikti dengan Kemenkes,” rinci Nasir, sambil menegaskan, targetnya menyamakan hak antara praktisi yang mengajar dengan yang di Rumah Sakit. Dengan bersatunya, dokter di RSUD dr Soetomo dengan FK Unair diharapkan tidak akan ada lagi gejolak, termasuk aksi yang dilakukan oleh para dokter RSUD Soetomo tempo hari, yang hanya akan merugikan masyarakat.

Rektor Unair Surabaya Prof Mohammad Nasih membenarkan, FK di universitasnya memang pernah tidak akur dengan RSUD Soetomo. “Delapan tahun lalu antara RSUD dr Soetomo dengan FK Unair seperti pisah ranjang. Padahal dokter RSUD dr Soetomo juga dari Unair,” kata Nasih.

Ditanya penyebab “pisah ranjang” itu,  Nasih menjelaskan, karena pimpinan di kedua institusi tersebut mengejar popularitas sendiri-sendiri. “Dulu, setiap dokter RSU dr Soetomo ditulis di media, cuma menyebut dokter di RSU dr Soetomo, tanpa menyebut FK Unair,” kata Nasih.

Nasih mengapresiasi kebijakan Kemenristekdikti yang menerbitkan Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK) bagi guru besar yang purnatugas, yang semula ada di Unair dan RSU dr Soetomo. Dokter ber-NIDK kini bisa kembali mengajar.

Apresiasi juga disampaikan Gubernur Jawa Timur Soekarwo. “Ketika pertama kali Pak Nasih menjabat rektor, kami sudah bicara bagaimana mengawinkan RSUD dr Soetomo dengan Unair,” urai Soekarwo.

Soekarwo optimistis kolaborasi RSUD dr Soetomo dengan FK Unair akan meningkatkan layanan kesehatan bagi masyarakat. “Menristek Dikti telah mengambil keputusan penting untuk riset yang dikembangkan RSUD dr Soetomo dan FK Unair, yakni dengan pemberian NIDK serta penyerahan sertifikat dosen dan SK Guru Besar. Kami yakin kerjasama keduanya akan lebih solid menghasilkan lulusan yang mumpuni, dan layanan kesehatan semakin meningkat,” ujar Soekarwo.

Ditambahkan, pihaknya menyambut baik pemberian NIDK ini karena menyatukan dua lembaga kepegawaian, yakni Kemenristekdikti dan Kementerian Kesehatan, khususnya dalam bidang kedokteran. NIDK ini akan mendukung riset dan layanan kesehatan para dokter yang praktek di RSUD dr Soetomo sekaligus menjadi dosen di FK Unair.

Menurut Pakde Karwo, RSUD dr Soetomo tidak hanya menyediakan layanan kesehatan secara terpadu, fungsi lainnya yang sedang dan terus dikembangkan adalah sebagai wahana pendidikan dan penelitian. Untuk itu, RSUD dr Soetomo harus memiliki tenaga dosen yang memiliki kompetensi, kesetaraan, pengakuan, dan nomor induk dosen khusus.

“Pemberian NIDK ini sejalan dengan fungsi tersebut. Kami menyambut baik langkah Bapak Menristekdikti yang memberikan nomor induk dosen khusus kepada 216 Dokter di RSUD Soetomo, termasuk 39 dokter didalamnya yang dinyatakan telah lulus sertifikasi dosen. Sehingga ada kontribusi positif dan saling melengkapi demi peningkatan kesejahteraan masyarakat” katanya.

Muhammad Nasir menyatakan, kolaborasi RSUD dr Soetomo dan FK Unair bisa dicontoh oleh provinsi lain untuk melakukan riset bersama agar lahir inovasi di bidang kesehatan yang bermanfaat dan terjangkau bagi masyarakat luas.

Secara khusus, Nasir juga memberikan apresiasi kepada Pakde Karwo karena sangat peduli dunia kesehatan dan pendidikan, khususnya dalam pendanaan riset. Kepedulian Pakde Karwo ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi kepala daerah di provinsi lain agar memberikan serupa.

“Saya dengar setiap peneliti dapat bantuan Rp 50 juta. Ini  langkah maju. Demikian pula FK Unair yang membiayai riset para dosennya. Harapan saya, dukungan terhadap riset dapat menghasilkan publikasi serta protoype dan inovasi di bidang kesehatan yang bermanfaat pada masyarakat,” katanya.

Mengacu aksi November 2013, silam, Menristekdikti berharap agar hal serupa tidak terjadi kembali. Untuk diketahui, di RSUD Dr Soetomo Surabaya pernah terjadi aksi keprihatinan. Para dokter di rumah sakit tersebut menggelar aksinya di depan Gedung UGD di Rumah Sakit Dr Soetomo di Jalan Karangmenjangan Surabaya. Imbasnya, aksi dokter tersebut juga sempat diwarnai aksi protes dari salah seorang pasien rumah sakit tersebut.

Saat itu, salah satu pasien bernama Agus Suwono asal Mojokerto memprotes aksi keprihatinan. Agus berteriak meminta agar dokter menghentikan aksinya dan mengutamakan pelayanan kepada pasien yang sejak pagi sudah antri didepan loket, yang saat itu masih tutup.

Mengacu peristiwa itu, Muhammad Nasir berharap peristiwa serupa tidak akan terjadi kembali. “Mereka ini kan satu induk. Saya heran, kenapa kok tidak harmonis. Tetapi, mulai hari akan ada kerjasama yang baik,” tegas Muhammad Nasir. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here