Dokumen Keamanan AS Tuding Rusia Memecah Belah Demokrasi

0
80
Kepala Penasehat Keamanan Nasional Presiden Trump Jenderal McMaster yang menerbitkan dokumen setebal 68 halaman yang menuding Rusia memecah belah demokrasi FOTO AFP

Nusantara,news, Washington – Sebuah dokumen dari Penasehat Keamanan Nasional Presiden Donald Trump menuding Rusia melakukan kampanye subversif yang canggih untuk melumpuhkan demokrasi.

Pernyataan itu terkait kerasnya tudingan di dalam negeri Amerika Serikat sendiri tentang keterlibatan Rusia untuk memenangkan Trump pada Pemilu Presiden 2016 lalu. Sejauh ini proses penyelidikan terus berjalan. Membuat situasi tidak nyaman di lingkungan penguasa Gedung Putih.

Skandal Pilpres AS itu disebut Jenderal HR McMaster, kepala penasehat keamanan Presiden Trump,  kepada BBC London sengaja disebarkan Rusia sebagai bagian dari kampanye subversif yang canggih untuk melemahkan masyarakat terbuka.

Rusia dituding menggunakan propaganda dan disinformasi terhadap demokrasi.  Maka MCMaster pun mengingatkan, dugaan campur tangan Rusia dalam Pemilihan Presiden AS pasti merupakan ancaman bagi keamanan nasional.

Terlebih, lanjut McMaster, kebijakan keamanan nasional di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump tegas mengatakan sebagai kekuatan saingan Rusia dan China.

“Kita harus melihat apa yang sebenarnya dilakukan oleh Rusia. Tentu saja kita harus melawan perilaku destabilisasi Rusia, dan kampanye propaganda dan disinformasi yang canggih,” bebernya kepada wartawan BBC, Senin (18/12) kemarin.

Lebih lanjut McMaster menyebut isu tentang keterlibatan Rusia dalam Pilpres AS adalah usaha untuk memecah belah masyarakat AS dan mengadu domba mereka satu dengan yang lainnya. Terutama di negara-negara demokratis dan masyarakat terbuka seperti negaranya. Isu itu juga hendak melemahkan kehendak kebanyakan orang Amerika dan tekad kami orang Amerika.

“Saya percaya bahwa Rusia terlibat dalam kampanye subversi yang sangat canggih untuk mempengaruhi kepercayaan kita terhadap institusi demokratis, dalam proses demokrasi – termasuk pemilihan umum,” tandas McMaster.

McMaster juga mengatakan kampanye Rusia menargetkan kedua belah pihak dari perpecahan politik.

“Mereka akan mendukung kelompok yang sangat kiri, mereka akan mendukung kelompok yang benar. Yang ingin mereka lakukan adalah menciptakan jenis ketegangan, jenis vitriol, yang meruntuhkan kepercayaan diri kami terhadap siapa kami,” katanya.

Satu diantara upaya yang dilakukan, imbuh McMaster, satu hal yang penting adalah menarik tirai kembali pada aktivitas ini, dan untuk mengeksposnya.

Menanggapi tudingan McMaster yang juga menegaskan Rusia dan China sebagai saingan, pemerintah Kremlin, Selasa (19/12), pemerintahan di Kremlin menyatakan pihaknya tidak dapat menerima negaranya dianggap sebagai ancaman.  Bahkan Kremlin balik mengkritik bahwa apa yang dilakukan McMaster dalam dokumennya itu menunjukkan karakternya sebagai imperialis.

Denuklirisasi Korut

Pernyataan McMaster yang tertulis pada dokumen keamanan nasional Presiden Donald Trump itu memang jelas-jelas menuding Moskow berusaha berusaha “melemahkan legitimasi demokrasi”.

Dalam pidatonya pun Trump menyebut Rusia dan China sebagai kekuatan pesaing. Toh demikian Trump mengatakan AS harus berusaha membangun “kemitraan besar dengan mereka”.

Sebagai contoh, dia mengutip sebuah panggilan telepon dari ucapan terima kasih yang diterimanya dari Presiden Rusia Vladimir Putin atas intelijen yang diberikan CIA kepada Kremlin tentang dugaan rencana teror.

Dia juga mengkritik Korea Utara karena uji coba rudal nuklirnya yang berulang – sesuatu yang menurut Jenderal McMaster tidak akan berakhir dengan damai.

“Kami berkomitmen untuk sebuah resolusi Kami ingin resolusi tersebut menjadi damai – tapi seperti yang dikatakan presiden, semua opsi ada di meja,” terang McMaster.

“Kita harus siap, jika perlu, untuk memaksa dilakukannya denuklirisasi Korea Utara tanpa kerja sama rezim tersebut,” ancamnya.

Dia mengatakan kemungkinan perang bisa berubah “berdasarkan apa yang kita semua putuskan untuk dilakukan”. Selanjutnya McMaster pun menegaskan, Korea Utara adalah ancaman serius bagi semua orang beradab di seluruh dunia.

Sebelumnya Trump berkicau di akun Twitter bahwa kepemimpinan Korea Utara “tidak akan lama lagi” yang dianggap Pyongyang sebagai deklarasi perang.

Ketika ditanya apakah pekerjaannya akan menjadi lebih mudah tanpa kicauan presiden di akun Twitter miliknya, Jenderal McMaster menjawab sambil tertawa: “Kata Aristoteles – fokus pada apa yang dapat Anda kendalikan, dan Anda dapat membuat perbedaan. Presiden akan melakukan apa yang presiden inginkan … pekerjaan saya tidak perlu khawatir dengan Twitter.”

American First

Dalam pidatonya tentang strategi keamanan nasional yang baru, Trump membuat rujukan untuk janji kampanye “America First” -nya.

Bahkan Trump menyebut penarikan AS dari kesepakatan iklim Paris dan kesepakatan perdagangan Trans-Pacific Partnership adalah sebagai indikasi keberhasilan dari janji kampanye yang pernah dia ucapkan.

Trump juga berkali-kali mengusik, negara-negara kaya (Uni Eropa, Jepang dan Korea Selatan) harus menyadari mereka perlu “mengganti” AS untuk biaya selama membela kepentingan mereka.

Dalam dokumen keamanan setebal 68 halaman itu juga tertulis, Trump akan meneruskan pembangunan tembok perbatasan dengan Meksiko, termasuk di dalamnya reformasi visa imigrasi, dan pentingnya membela tanah air.

Karena memang, ini dari isi dokumen itu mencakup empat hal meliputi pembelaan tanah air, promosi kemakmuran, memajukan perdamaian melalui kekuatan, dan menunjukkan pengaruh Amerika.

Secara eksplisit dokumen itu juga menyatakan bahwa “Amerika Serikat tidak akan lagi menutup mata terhadap pelanggaran, kecurangan atau agresi ekonomi”.

Dokumen itu juga menegaskan pada Pilpres 2016 pemilih memilih untuk membuat Amerika lebih hebat lagi. Selama ini pemimpin Amerika, ungkap dokumen itu, bersifat ambigu dan kehilangan pandangan tentang takdir Amerika.

“Sekarang kurang dari satu tahun kemudian saya bangga melaporkan bahwa seluruh dunia telah mendengar kabar itu dan telah melihat tanda-tandanya,” katanya. “Amerika akan kembali dan Amerika akan kembali kuat.”

Dokumen itu tampaknya memang sebagai serangan balik terhadap pengusutan atas dugaan keterlibatan Rusia dalam Pilpres AS 2016 untuk memenangkan Trump yang terus berjalan hingga sekarang ini. Akankah dokumen ini mampu menghentikan kegaduhan politik (political unrest) di dalam negeri AS selama satu tahun terakhir ini? Ikuti saja perkembangannya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here