Dolar Pulang Kandang, Cadangan Devisa Tergerus Rp54 Triliun

0
116
Cadangan devisa terkuras Rp54 triliun sejak rupiah melemah untuk keperluan intervensi Bank Indonesia di pasar uang maupun di Surat Berharga Negara (SBN).

Nusantara.news, Jakarta – Sinyal kenaikan bunga Fed Fund Rate (FFR) semakin kuat, pengamat memperkirakan akan terjadi kenaikan bunga FFR sebanyak empat kali tahun ini. Proses ini membuat dolar AS pulang kandang, sementara cadangan devisa tergerus US$3,92 miliar. Akan kah pelemahan rupiah ini berlanjut?

Pidato Gubernur Federal Reserve Jerome Powell benar-benar menjadi pemicu jatuhnya mata uang utama dunia, termasuk rupiah. Rupiah yang biasa diperdagangkan stabil di posisi Rp13.400—Rp13.500, melesat hingga ke posisi Rp13.800.

Powell dalam pidatonya menekankan perlunya bank sentral Amerika mengambil kebijakan untuk mencegah overheating ekonomi, pada saat  yang sama juga mendorong agar inflasi bergerak ke level 2%.

“The Fed akan terus menyeimbangkan kebijakan antara mencegah ekonomi menjadi overheating dengan mendorong inflasi ke level  2% secara berkelanjutan,” demikian pidato pembuka Powell seperti dikutip Reuters.

Pidato tersebut tentu saja dibaca pasar bahwa kebijakan moneter The Fed akan semakin ketat, karena ada kalimat “mencegah overheating“. Powell juga menegaskan perkembangan ekonomi Amerika yang semakin membaik.

Perkembangan yang terjadi sejak rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Desember 2017 akan menjadi perhatian dan menjadi pijakan dalam kebijakan suku bunga yang baru.

“Kita melihat berbagai data, dan menurut saya akan menambah kepercayaan bahwa inflasi bergerak menuju targetnya. Kita juga melihat penguatan di berbagai sektor dan kebijakan fiskal pun semakin stimulatif,” papar Powell.

Oleh karena itu, pasar menilai ada kemungkinan suku bunga acuan akan dinaikkan sampai empat kali, melebihi perkiraan sebelumnya yaitu tiga kali. Ini membuat investor kembali enggan bermain di aset-aset berisiko seperti saham dan beralih ke instrumen aman seperti obligasi pemerintah AS dan (tentunya) dolar AS.

Dolar AS pun mendapatkan suntikan tenaga. Dolar Index, yang mencerminkan posisi dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, masih dalam tren menguat sejak malam kemarin.

Cadangan devisa tergerus

Pelemahan rupiah hingga sempat menembus level Rp13.800—sekarang ditutup di kisaran Rp13.763—sebenarnya sudah mendapat topangan Bank Indonesia (BI). BI tentu saja melakukan intervensi guna mempertahankan nilai tukar rupiah, apalagi jika tidak ada intervensi, bisa saja rupiah menembus level Rp14.000 atau bahkan Rp15.000.

Artinya, posisi rupiah hari ini di level Rp13.763 sudah ditopang intervensi BI. BI mempertahankan rupiah tidak gratisan, sampai akhir Februari 2018 cadangan devisa tersisa US$128,06 miliar atau tergerus US$3,92 miliar (ekuivalen Rp54 triliun) hanya dalam sebulan.

Penurunan terjadi lantaran cadangan devisa banyak terpakai untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Selain itu, penurunan cadangan devisa juga dipengaruhi menurunnya penempatan valas perbankan di BI, sejalan dengan kebutuhan pembayaran kewajiban valas penduduk. Meski begitu, BI menilai cadangan devisa masih cukup tinggi.

Dalam siaran persnya BI menyatakan, posisi cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai 8,1 bulan impor atau 7,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Artinya cadangan devisa yang ada cukup aman.

BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Ke depan, BI memandang cadangan devisa tetap memadai untuk mendukung ketahanan eksternal seiring dengan kuatnya prospek perekonomian domestik dan kinerja ekspor yang positif.

Adapun pada awal Maret ini, ada tambahan devisa dari hasil penerbitan sukuk global pemerintah sebesar US$3 miliar. BI akan menjaga kecukupan cadangan devisa guna mendukung stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Namuun demikian, diperkirakan cadangan devisa mayoritas memang terkuras untuk keperluan stabilisasi kurs. Hal itu lantaran tekanan kurs menguat seiring arus keluar dana asing (capital outflow) selama Februari.

Investor asing mencatatkan net sell sebesar US$760,5 juta di pasar saham sementara kepemilikan asing pada SUN turun sekitar US$1,5 miliar sehingga total outflow di pasar uang mencapai US$2 miliar hingga US$3 miliar. Sementara secara keseluruhan, di seluruh instrumen pasar uang, total capital outflow sudah mencapai US$4 miliar.

Hanya saja, cadangan devisa diperkirakan masih akan bertahan di kisaran US$125 miliar hingga US$130 miliar. Asumsinya, surplus neraca pembayaran bakal kembali menyusut tahun ini. Pada 2016 dan 2017, surplusnya masing-masing US$12 miliar dan US$11,6 miliar.

Waspadai aksi spekulasi

Jika dilihat transaksi normal rupiah-dolar AS, sebenarnya posisi cadangan devisa masih dalam batas aman, bahkan berlebih. Namun demikian gejolak nilai tukar rupiah belakangan diindikasikan sebagai ulah spekulan, bukan murni transaksi  memiliki underlying.

Ke depan, aksi spekulasi akan semakin marak. Itu sebabnya BI harus terus hadir di pasar, bila perlu sesekali menguji para spekulan dengan aksi nyata dan kebijakan tegas. Sehingga rupiah bisa kembali menguat di kisaran Rp13.200—Rp13.500.

Bila perlu BI mengeksekusi dana billateral swap arrangement (BSA) dengan beberapa bank sentral negara sahabat. Sehingga jangan pernah spekulan diberi ruang, agar mata uang negara-negara yang tergabung dalam BSA, termasuk Indonesia.

Hanya saja masalahnya, durasi kenaikan bunga FFR agak panjang sebanyak empat kali. Sehingga mau tak mau mata uang negara manapun, termasuk rupiah, akan terkoreksi.

Cara lain yang bisa ditempuh adalah mem-peg rupiah baik sebagian (devisa terkontrol lewat pita intervensi) seperti model Hong Kong dan Malaysia, atau keseluruhan seperti Saudi Arabia. Tentu saja perdebatannya akan panas dan panjang, karena mayoritas para pejabat BI bermazhab devisa bebas.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here