Dolly Masih Beroperasi

0
594
Seorang pekerja seks di kawasan Dolly di Surabaya jelang penutupan pada 18 Juni 2014 lalu.

Nusantara.news, Surabaya – Jika di Semarang ada Sunan Kuning. Di Jakarta ada Kramat Tunggak. Di Yogyakarta ada Sarkem. Dan hampir di setiap kota ada kompleks lokalisasi. Namun tidak ada lokalisasi yang seterkenal dan sefenomenal Dolly di Surabaya.

Dulu, kawasan Dolly Surabaya menjadi tempat berkumpulnya para Penjaja Seks Komersial (PSK). Surabaya menjadi kawasan ‘wisata seks’. Para pencari seks bisa dengan leluasa berburu pemuas seks. Aktivitasnya dilegalkan. Tidak keresahan. Soal dampak negatif, ya tanggung sendiri. Tak pelak, Dolly pun lebih terkenal ketimbang Surabaya.

Bahkan Dolly sempat dinyatakan sebagai kawasan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Keberadaannya bahkan mengalahkan lokalisasi Patpong yang berada di Bangkok, Thailand, maupun Geylang, di Singapura.

Namun sejak Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menutup kawasan tersebut sejak 19 Juni 2014 silam, bisnis lendir itu seketika menghilang. Beberapa PSK ada yang memilih bertobat, pulang kampung, atau memulai hidup baru dengan membuka bisnis legal di kawasan tersebut.

Sayangnya, sebagian masih ada yang berkeliaran. Mereka door to door dari hotel ke hotel, cafe ke cafe, karaoke ke karaoke. Bahkan ada cafe yang jelas-jelas menawarkan wanita penghibur. Operasinya makin silent. Bukan lagi di Dolly. Dunia Medsos menjadi ajang untuk bertransaksi.

Gaya hidup seks bebas (free sex) mulai sulit dikontrol pasca Dolly ditutup. Data Polrestabes Surabaya, sepanjang tahun 2017, kasus prostitusi online cenderung meningkat. Menariknya, kasus itu terbongkar saat mereka ‘bermain’ di hotel-hotel bertarif rendah. Lantaran tarifnya relatif terjangkau, hotel-hotel itu diduga menjadi sarana prostitusi.

Data Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya, jumlah kasus woman trafficking di Surabaya meningkat dari tahun sebelumnya. Jika di tahun 2016 tercatat 19 kasus, pada tahun 2017 terjadi 23 kasus. Padahal, sejak penutupan Lokalisasi Dolly dan Jarak di Surabaya pada 2014 silam, jumlah kasus trafficking yang ditangani Polrestabes Surabaya sempat menurun.

Dari masing-masing sebanyak 24 kasus pada 2013 dan 2014, kasus yang diungkap Polrestabes Surabaya mengalami penurunan dan stabil di angka 19 kasus pada 2015 dan 2016. Semua pelaku yang ditangkap berasal dari online. Kebanyakan dari grup Facebook.

Ya, kemudahan akses internet membuat praktik prostitusi online makin marak. Dengan kemudahan ini, sekarang pelaku bisnis prostitusi online sudah tidak perlu etalase untuk pamer perempuan-perempuan seksi, seperti era Dolly masih hidup. Transaksi seksual bisa dilakukan menggunakan ponsel dan media sosial lainnya. Termasuk menentukan lokasi tempat “bermain”.

Namun kini, ada fakta baru yang muncul. Pada Minggu (21/1/2018), anggota Sat Reskrim Polrestabes Surabaya berhasil melakukan penggerebekan di salah satu wisma terselubung yang menjadi bukti bahwa Dolly masih beroperasi.

Dalam penggerebekan itu, selain mengamankan tujuh orang. Dua orang mucikari, Basuki (29) dan Tasripin (39), dua orang saksi atau pelanggan AA (35) dan RB (19) warga Surabaya. Sedangkan tiga wanita yang ikut diciduk merupakan korban alias wanita penghibur, yakni HDY (37), LK (42) dan YS (29).

Untuk mengelabui polisi, para pelaku mematikan lampu ruangan wisma agar tidak terlihat aktivitas di dalamnya karena gelap. Sementara para muncikarinya mencari pelanggan dengan cara mendekati pria-pria yang melintas di kawasan Dolly.

Unit PPA Sat Reskrim Polrestabes Surabaya berhasil melakukan penggerebekan di salah satu wisma terselubung yang menjadi bukti bahwa Dolly masih beroperasi. Sebanyak tujuh orang diamankan, diantaranya mucikari, pelanggan dan PSK.

Menurutnya, para muncikari tersebut paham benar dan pandai memilih mana orang yang sekadar melintas atau yang ingin mencari PSK. Ini bisa dilihat dari gerak gerik orang yang berhenti seolah mencari sesuatu.

Dari penggerebekan itu, polisi menyita alat kontrasepsi, seprei, sarung, tisu bekas lap sperma, serta uang tunai Rp 1.276.000 dari hasil transaksi. Sementara kedua muncikari yang sudah ditetapkan sebagai tersangka mengaku sudah beroperasi selama enam bulan. Mereka menjual para PSK Rp 300 ribu sekali main. Pembagiannya Rp 200 ribu untuk PSK-nya, Rp 50 ribu untuk mucikari, dan Rp 50 ribu untuk bayar kamar.

Kapolretabes Surabaya, Kombes Pol Rudi Setiawan mengatakan, terungkapnya aktivitas prostitusi di Dolly, merupakan bukti menggeliatnya kembali bisnis esek-esek di Surabaya.

Menurut Rudi, pihaknya terus melakukan upaya menjadikan Dolly bersih dari sarang maksiat.

Siapapun yang mencoba menumbuhkan kembali masa kelam, pihaknya bakal melakukan tindakan tegas. “Akan saya sikat rek, selagi masih kecil,” tutur Rudi.

Mantan Direktur Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Sumatera Selatan ini mengatakan akan menjalin kerja sama dengan pemerintah kota, ulama, tokoh masyarakat, dan pihak lain untuk terus mengupayakan kawasan eks lokalisasi Dolly dan Jarak bersih dari maksiat.

Seorang Anak di Dolly Alami Sex Addict

Apa yang dikatakan Rudi memang harus didukung oleh semua pihak. Pasalnya, dampak dari keberadaan lokalisasi Dolly selama ini telah membuat kerugian sangat besar bagi masyarakat. Orang dari luar Surabaya yang singgah, dulunya pasti mampir ke Dolly. Keberadaan lokalisasi Dolly memang membuat orang ketagihan akan seks.

Fakta mengejutkan pasca Dolly ditutup tiga tahun lalu, Pemkot Surabaya menemukan anak yang terkena dampak buruk dari lokalisasi Dolly. Anak perempuan berusia 8 tahun itu mengalami sex addict atau ketergantungan terhadap perilaku seks.

Kepala Dinas Pengendalian Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP5A) Kota Surabaya, Nanis Chairani mengungkapkan, kasus ini ditemukan saat Wali Kota Risma memerintahkan jajarannya di tingkat kecamatan dan kelurahan untuk mencari warganya yang mengalami kondisi buruk.

Saat itu, ditemukan keluarga yang menderita tuberkulosis (TBC). Setelah keluarga berhasil didekati, akhirnya si ibu juga bercerita bahwa salah satu anaknya, Mawar, mengalami perilaku seks yang menyimpang.

Anak itu berperilaku seperti orang dewasa. Nanis mengatakan, perilaku anak tersebut didapatkan saat dia tinggal bersama neneknya di kawasan lokalisasi Dolly. Saat itu usianya masih 2 tahun. Faktor lingkungan itu yang membuatnya mengalami perilaku hiperseksual. Perilaku anak tersebut diketahui saat ia kembali tinggal bersama ibunya. Bocah itu bahkan mencontohkan perilakunya kepada adik-adiknya. Dia mengajari adiknya berciuman hingga berhubungan layaknya suami istri.

“Adiknya cerita ke ibunya, diajarkan berciuman seperti orang dewasa. Lalu adiknya yang laki-laki dan perempuan itu juga diajarkan untuk memainkan organ intim, dia juga meminta untuk direkam saat bagian sensitif, dan telanjang,” ucap Nanis, Rabu, (17/1/2018).

Begitu dengar pengaduan sang adik, orang tuanya justru marah dan memukul Mawar. Namun ibunya sadar bahwa itu tidak akan mampu menyembuhkan Mawar. Itu sebabnya ia memutuskan untuk mengadu ke Pemkot. Sejauh ini, belum ada penuturan bahwa anak tersebut sudah pernah melakukan hubungan seksual dengan orang deawasa atau tidak.

Berdasarkan pengakuan anak tersebut, dia diajari seorang perempuan dewasa saat masih tinggal bersama neneknya di sekitar Dolly. Anak tersebut juga piawai mencari film-film porno di internet melalui gadget-nya.

“Dari pengakuan anak tersebut, ia diajari oleh orang dewasa saat dia tinggal bersama dengan neneknya. Kalau sementara ini tidak ada pengakuan ia pernah berhubungan badan atau belum, tapi dia cerita kalau dia diajarkan oleh seseorang di sana, bahkan untuk mengakses video porno melalui Youtube dia juga sudah pintar,” tutur Nanis.

Dampak yang ditimbulkan dari keberadaan lokalisasi Dolly, Pemkot Surabaya menemukan seorang anak perempuan berusia 8 tahun mengalami sex addict.

Tidak bisa dipungkiri, keberadaan lokasi prostitusi sangat berpengaruh terhadap perilaku anak. sex addict pada anak-anak di eks lokasi prostitusi seperti fenomena gunung es.

Menurut Nanis, keberadaan lokalisasi memang sangat membahayakan karena dapat merusak otak maupun perilaku anak. Terdeteksinya sex yang melibatkan anak-anak harus segera digali lebih dalam. Diduga, anak-anak berperilaku seperti Mawar masih akan ditemukan.

Karena itu pihaknya akan melakukan outreach lebih dalam, dan melakukan koordinasi bersama puskesmas untuk diberikan pengobatan. Saat ini Mawar sudah dilakukan pendampingan oleh dokter, psikolog dan psikiater untuk menggali seberapa jauh kondisi sex addict yang diderita bocah yang baru duduk di kelas 1 sekolah dasar tersebut.

Kini anak tersebut telah diberi obat untuk menurunkan libido agar tingkat libido pada anak bisa menurun. Sehingga kemungkinan melakukan perilaku menyimpang bisa ikut menurun. Yang terpenting adalah memisahkan anak sex addict tersebut dari lingkungan yang memicu perilaku tersebut kambuh. Bahkan orang tua, dan lingkungan di sekitar Mawar sudah diwanti-wanti untuk jangan melakukan tindakan, pembicaraan atau menunjukkan gambar yang bisa menimbulkan anak tersebut untuk kambuh melakukan aktivitas orang dewasa.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Febria Rachmanita mengatakan, Pihaknya sudah mendatangkan psikiater untuk bertemu dengan Mawar. Ke depan bukan tidak mungkin Mawar akan dikenakan hypnotherapy.

“Kami mendatangkan psikiater dan psikolog untuk melakukan pendampingan dan terapi pada anak tersebut. Karena kalau sudah begitu harus didampingi supaya berhenti melakukan perilaku tersebut,” ucap Febria.

Selain itu Febria juga menyebut pihaknya melakukan sosialisasi ke masyarakat untuk keamanan ke anak-anak jangan sampai hal tersebut terjadi lagi. “Keluarganya juga sudah kita beritahu bagaimana harus bersikap di depan anak. Dan juga ke tetangga agar jangan sampai ada olok-olok pada anak,” katanya.

Pemkot Surabaya juga sangat terbuka menerima laporan warganya jika ada anak-anak yang mengalami sex addict. Warga bisa melapor ke kantor kelurahan atau kecamatan atau bisa menghubungi command center 112.

Lokalisasi Dolly, bagaimana pun harus tetap tutup untuk selamanya. Tidak boleh ada celah bagi mereka untuk membuka bisnis esek-esek itu, apapun alasannya. Kasus Mawar setidaknya bisa dijadikan pertimbangan bagi semua pihak, betapa rusaknya moral generasi bangsa akibat keberadaan lokalisasi tersebut.

Munculnya praktik prostitusi terselubung di Gang Dolly, kata Sosiolog Unair Bagong Suyanto, menjadi ujian bagi konsistensi Pemerintah Kota Surabaya. Terlebih, ujian tersebut dikarenakan sikap Pemkot Surabaya yang sebelumnya menutup Dolly.

“Waktu Dolly ditutup banyak cibiran kenapa tebang pilih. Ini ujian bagi Pemkot Surabaya agar tidak hanya mendemonstrasikan hukum yang runcing kepada masyarakat bawah saja,” jelas Bagong.

Bagong memandang bahwa prostitusi akan selalu ada sebagai bagian dari pembangunan kota. “Adanya juga di berbagai level. Di lokalisasi, wisma, spa, pijat, apartemen, maupun hotel berbintang, yang namanya prostitusi akan selalu ada,” jelasnya.

Pemberantasannya akan selalu menjadi tantangan. Sebab, prostitusi akan selalu bertalian dengan beberapa aspek. Sebab kaitannya dengan beking dan siapa yang berkepentingan di balik itu. Jadi, memang susah memberantasnya. “Tidak ada dalam sejarah bahwa ada kota yang mampu memberantas prostitusi secara tuntas,” tegas Bagong.

Menggeliatnya lokalisasi Dolly, mau tak mau harus secepatnya diambil tindakan. Satu-satunya cara Pemkot Surabaya harus berusaha maksimal untuk meminimalkan penyebaran dari prostitusi tersebut. Karenanya ini harus menjadi centre of gravity dan berdiri di depan publik untuk membatasi penyebarannya. Tujuan utama pemberantasan praktik prostitusi adalah bagaimana supaya anak-anak bisa tumbuh dengan wajar, bisa berprestasi, dan mempunyai masa depan yang cerah untuk bangsa dan negara.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here