Dominasi Investasi Modal Asing di Kabupaten Probolinggo

0
295

Nusantara.news, Surabaya – Ironis! Angka penanaman modal asing (PMA) di Kabupaten Probolinggo menunjukkan angka fantastis. Itu bisa disimpulkan dari perbandingannya dengan angka penanaman modal daerah negeri (PMDN). Data tahun 2016 menyebutkan, dari jumlah investasi sebesar Rp46, 670 triliun, PMA di daerah setempat mencapai Rp45,507 triliun, sementara PMDN hanya Rp1,163 triliun saja.

Grafik Perbandingan PMA dan PMDN
Di Kabupaten Probolinggo
(2016)

Dari data yang dipublikasikan oleh Kantor Penanaman Modal dan Perizinan (KPMP) Kabupaten Probolinggo itu disebutkan, keberhasilan dalam peningkatkan nilai investasi tesebut tidak lepas dari berbagai kinerja dan upaya yang sudah dilakukan oleh KPMP.

“Kami selalu berupaya melakukan promosi kepada para investor baik dari dalam maupun luar negeri untuk meningkatkan jumlah investasi di Kabupaten Probolinggo,” kata Kepala KPMP Saleh melalui Kasi Penanaman Modal Daerah KPMP Madkim, beberapa waktu lalu.

“Untuk PMA, PT Jawa Power melakukan penanaman modal sebesar Rp42,305 triliun dan posisi kedua ditempati oleh PT Paiton Energy sebesar Rp23,816 triliun,” imbuhnya.

Dalam lima tahun terakhir, perkembangan investasi berdasarkan skema PMA di Kabupaten Probolinggo setiap tahunnya memang mengalami peningkatan yang boleh dibilang signifikan. Namun, penanaman modal di wilayah ujung timur di Provinsi Jawa Timur ini ternyata lebih didominasi modal asing dibandingkan investasi dengan skema PMDN, kendati ada juga perubahan kepemilikan dari PMA menjadi PMDN.

Selanjutnya, untuk meningkatkan nilai investasi di tahun 2017 dan tahun-tahun yang akan datang, KPMP akan melakukan pengembangn dengan cara terus menarik investor masuk ke wilayahnya. Salah satunya adalah dengan cara melakukan promosi dalam bentuk temu investor besar dan kecil, temu UKM, menggelar pameran-pameran hingga memberikan pengawasan dan pengendalian terhadap perusahaan.

“Berbagai kegiatan dilakukan bertujuan untuk meningkatkan jumlah investor di Kabupaten Probolinggo, sehingga penanaman investasi modal di Probolinggo bisa semakin meningkat,” imbuh Makdim.

Sebagai upaya mendorong laju pertumbuhan ekonomi daerah dalam rangka memberikan multiflier effect dan menciptakan kesempatan kerja, kebijakan membuka dan mempromosikan investasi tentu harus dinilai secara positif. Namun, yang patut disayangkan adalah apabila komposisi investasi lebih didominasi oleh modal asing daripada modal dalam negeri. Dilihat dari kepentingan nasional tentu akan lebih bermanfaat jika modal dalam negeri lebih diutamakan, sementara modal asing diposisikan sebagai pelengkap.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here