Donald Trump Menjadi Momok di G20 dan NATO

0
164

Nusantara.news – Bagi negara-negara G20 dan NATO khususnya di benua Eropa Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat ini telah menjadi momok menjengkelkan. Betapa tidak, meski baru genap dua bulan mejalankan pemerintahan barunya, pengaruh pemimpin AS itu sudah begitu kuat di kedua organisasi internasional itu.

Di kelompok negara-negara ekonomi utama G20, Trump melalui menteri keuangannya, Steven Mnuchin berhasil mempengaruhi negara-negara lain untuk menggagalkan kesepakatan komunike bersama tentang perdagangan bebas, dan membiarkan proteksionisme.

Terang saja, Jerman sebagai tuan rumah pertemuan antar menteri keuangan negara-negara G20, sekaligus Presiden G20 saat ini merasa jengkel. Betapa tidak, Jerman sebagai pemimpin yang dihormati di Eropa sangat berkepentingan dan selalu mendorong terbukanya pasar bebas serta menolak proteksionisme. Sikap Jerman tentu mencerminkan sikap negara-negara Eropa yang tergabung di G20.

Bisa-bisanya, Mnuchin yang ‘baru kemarin sore’ menjadi menteri keuangan menggagalkan kesepakatan G20 soal pasar bebas dan mengabaikan proteksionisme. Di sini, Jerman dan beberapa negara Eropa jengkel.

Di kelompok Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Trump juga sudah menjadi momok bagi negara-negara Eropa, terutama Jerman.

Trump setelah meraih kemenangannya sebagai Presiden AS berkali-kali mengkritik organisasi internasional untuk keamanan dan ketahanan itu, sebagai organisasi yang telah usang.

Serangan telak Trump tertuju kepada Jerman, anggota NATO yang disegani di Eropa, terjadi pada Sabtu 21 Maret, selang sehari setelah Kanselir Jerman Angela Merkel bertemu dengan Trump di Gedung Putih, Trump menuding lewat cuitan di akun Twitternya bahwa Jerman berutang banyak pada NATO atas perlindungan keamanan yang dilakukan organisasi tersebut.

Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen menolak mentah-mentah tudingan Trump.

“Tak ada rekening utang di NATO,” kata von der Leyen.

“Belanja pertahanan juga mengalir untuk misi perdamaian PBB, untuk misi-misi Eropa kita dan untuk kontribusi kita dalam memerangi terorisme ISIS,” kata von der Leyen membela negaranya.

Belanja pertahanan Jerman sendiri naik 1,4 miliar euro hingga menjadi 38,5 miliar euro pada 2018. Angka itu mencapai 1,26 persen dari PDB Jerman, kata Menteri Keuangan Wolfgang Schaeuble, sebagaimana dilansir Reuters.

AS merasa bahwa selama ini dialah yang paling banyak berkontribusi di NATO, tapi  tidak mendapatkan keuntungan lebih dari biaya yang telah dikeluarkan, justru negara-negara Eropa seperti Jerman yang banyak menangguk untung. Trump melihat keterlibatan AS di NATO seperti layaknya dalam kumpulan bisnis yang harus ada keuntungan.

Karena itu, AS tampaknya akan mengabaikan pertemuan NATO yang akan digelar 6-7 April nanti, karena Menlu AS Rex Tillerson memilih berkunjung ke Rusia pada waktu yang sama.

Slogan ‘Amerika First’ pemerintahan Trump yang mengusung proteksionisme pasar dengan gaya ultra-nasionalismenya, belakangan kian menjadi-jadi. Sejumlah negara yang selama ini mengandalkan kerja sama dengan AS seperti Jerman dan negara Eropa lainnya, Cina dan Meksiko mulai gerah. Cina, yang sebetulnya kurang cocok dengan Jerman bahkan mulai menjajaki kongsi perdagangan dengan negara tersebut dan negara-negara Eropa lainnya, mengantisipasi proteksionisme AS.

Kontribusi Jerman untuk NATO

Jerman dituding oleh AS kurang berkontribusi ke NATO, bagaimana sebenarnya?

Kanselir Jerman Angela Merkel dan Menteri Pertahanan Ursula von der Leyen dari Uni Demokratik Kristen (CDU) telah berjanji meningkatkan anggaran pertahanan untuk memenuhi target NATO 2 persen dari PDB pada tahun 2024.

Janji tersebut dipicu ancaman Donald Trump, yang mengancam jika gagal dengan target tersebut AS akan menarik komitmen dari NATO.

“Amerika akan memenuhi tanggung jawab, tetapi jika negara Anda tidak ingin melihat Amerika menarik komitmennya untuk aliansi ini, masing-masing Anda perlu menunjukkan dukungan untuk pertahanan kita bersama,” kata Menteri Pertahanan AS James Mattis setelah bertemu menteri pertahanan NATO di Brussels Februari lalu.

Kontribusi Jerman terhadap NATO bukan saja dalam hal dana anggaran untuk program-program NATO.

“Jerman juga memberikan kontribusi sekitar 4.700 personil untuk operasi keamanan yang sedang berlangsung untuk NATO, Uni Eropa, PBB dan Organisasi untuk Keamanan dan Kerja sama di Eropa (OSCE),” menurut pihak kantor pusat NATO.

Pada bulan Februari lalu, 450 tentara Bundeswehr dan 30 tank tiba di Lithuania sebagai bagian dari peningkatan eksistensi NATO di kawasan Baltik.

Tahun lalu, Jerman juga menyediakan kapal pendukung utama untuk penyebaran NATO ke Laut Aegea, melakukan pengintaian, pemantauan dan pengawasan bagi penyeberangan ilegal di wilayah perairan Yunani dan Turki pada puncak krisis imigrasi.

Jerman juga mengirim sekitar 980 tentara  di Afghanistan untuk misi NATO, yang bertujuan membantu pasukan keamanan Afghanistan setelah misi Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) selama satu dekade berakhir.

Tapi apapun itu, faktanya AS adalah penyumbang terbesar dana anggaran NATO secara keseluruhan dengan porsi 22 persen, lalu Jerman pada peringkat kedua hampir 15 persen dari anggaran NATO tahun 2016 dan 2017.

Sementara Prancis dan Inggris, pada urutan ketiga dan keempat dengan prosi 10,6 dan 9,8 persen.

Sebab itulah, Donald Trump merasa bisa melakukan apa pun terhadap organisasi yang selama ini identik dengan Amerika itu, termasuk untuk menarik komitmen dari organisasi yang sudah mapan tersebut. Trump memang gila! []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here