Donald Trump Tetap Skeptis dengan NATO

0
33
PM Portugal Antonio Costa, Sekjen NATO Jens Stoltenberg, PM Yunani Alexis Tsipras, Presiden AS Donald Trump, PM Hungaria Voktor Orban dan PM Inggris Theresa May berpose di pertemuan puncak NATO di Brussels, Belgia, 25 Mei 2017. Foto: Getty Images

Nusantara.news – Negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) terpaksa menelan kecewa setelah dalam pidato KTT di Brussels presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tidak juga menunjukkan komitmen yang jelas terhadap aliansi tersebut. Sikap skeptis Trump terhadap NATO tampaknya masih juga belum berubah. Trump di awal pemerintahannya pernah menyebut NATO sebagai organisasi yang telah usang.

Komitmen dari Trump yang sangat ditunggu oleh para pemimpin negara anggota NATO pada KTT di Brussels, Belgia Kamis 25 Mei lalu adalah dukungannya terhadap Pasal 5, sebuah pasal utama yang dalam kesepakatan NATO. Pasal 5 berisi komitmen bahwa para anggota NATO setuju bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu atau lebih dari negara anggota, baik di Amerika Utara maupun Eropa, dianggap serangan terhadap semua negara anggota.

Dalam pasal 5 juga disepakati bahwa jika serangan bersenjata itu terjadi, setiap anggota, dalam menggunakan hak untuk mepertahankan diri secara pribadi maupun bersama-sama seperti yang tertuang dalam Pasal ke-51 Piagam PBB, akan membantu anggota yang diserang baik sendiri maupun bersama-sama, termasuk penggunaan pasukan bersenjata untuk mengembalikan dan menjaga keamanan wilayah Atlantik Utara.

Pasal ini awalnya diberlakukan agar jika ada serangan dari anggota Pakta Warsawa yang digagas Uni Soviet ketika itu, terhadap negara anggota NATO dianggap sebagai serangan kepada seluruh anggota, termasuk AS yang mempunyai kekuatan militer terbesar dalam aliansi tersebut. Tapi faktanya, kekhawatiran serangan tersebut tidak menjadi kenyataan sehingga Pasal 5 tidak efektif digunakan.

Pasal ini baru digunakan untuk pertama kalinya dalam sejarah yaitu pada 12 September 2001, sebagai tindakan balasan terhadap peristiwa serangan teroris 11 September 2001 terhadap AS yang terjadi sehari sebelumnya di New York, dimana dua gedung kembar WTC hancur lebur ditabrak pesawat yang dibajak teroris.

Bukannya menegaskan kembali komitmen terhadap Pasal 5, dalam pidatonya Trump malah mengangkat isu soal belum tercapainya target 2% dari PDB anggaran pertahanan para anggota NATO. Sesuatu hal yang boleh jadi benar secara normatif, tetapi secara diplomatik, Trump, oleh sebagian pengamat dan politisi di AS dianggap telah memposisikan AS sebagai inferior.

Mereka mempertanyakan, “Bukankah AS dari dulu telah menahbiskan diri sebagai pemimpin dunia?” Artinya, wajar sebagai negara dengan kekuatan militer dan anggaran militer terbesar di dunia, kontribusi AS paling besar. “Apakah Trump ingin menyerahkan posisi pemimpin dunia kepada pihak lain?” kritik salah seorang senator dari Partai Demokrat.

Sebagaimana ditulis The Atlantic (27/5), Trump memang telah berhasil menghindari “kesalahan besar” dalam kunjungannya ke Timur Tengah, dalam rangkaian kunjungan luar negerinya yang pertama, namun Trump mungkin akan menyesali kegagalannya untuk menegaskan dukungan AS terhadap NATO.

Di Timur Tengah Trump memang disambut dengan baik oleh Arab Saudi dan negara-negara mayoritas Muslim Sunni lainnya dengan penuh harapan. Trump dianggap akan membawa kebijakan baru di Timur Tengah, setelah pemimpin AS sebelumnya dianggap tidak dapat mengatasi Timur Tengah dengan baik. Trump sambut dengan jamuan istimewa oleh kerajaan Saudi, dari mulai menari pedang hingga minum kopi. Trump juga meneken kerja sama penjualan senjata ke Saudi dengan nilai USD 110 miliar. Bisa jadi, Trump begitu diharapkan karena pernyataan-pernyataannya selama ini yang sangat keras terhadap terorisme, terutama terhadap kelompok ISIS. Trump juga sangat keras terhadap Iran, yang dianggap turut terlibat mendanai gerakan-gerakan terorisme di sejumlah negara Timur Tengah. Sebagaimana diketahui, Arab Saudi dan Iran merupakan “musuh bebuyutan” sejak lama.

Selain di Timur Tengah, Trump juga disambut karpet merah di Israel dalam kunjungan perdananya ke luar negeri sebagai presiden AS, meskipun kunjungan tersebut diliputi sejumlah ketegangan soal isu pembocoran informasi penting yang bersumber dari intelijen Israel oleh Trump kepada pihak Rusia. Dalam konferensi pers di Israel, Trump telah membantah isu tersebut. Selain Israel, Trump juga bertemu dengan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas.

Perjalanan perdana Trump begitu panjang, 9 hari, sehingga mugkin cukup melelahkan presiden berusia 70 tahun itu. Ini juga barangkali yang membuat sesi akhir dari perjalanan luar negeri Trump, yaitu ke Eropa dianggap kurang berhasil, terutama saat Trump tidak bisa memberikan ketegasan dukungan terhadap aliansi NATO.

Dari awal, para pemimpin Eropa memang cenderung tidak menyanjung Trump. Tidak seperti Raja Salman dan kabinet Israel, mereka tidak datang ke bandara untuk menyambutnya. Mereka tidak mengucapkan selamat kepada Trump atas kemenangannya dalam pemilihan presiden AS.

Trump memang secara sengaja tidak mendukung Pasal 5 yang pernah diajukan AS pasca-peristiwa 9/11 dalam empat bulan pertama masa pemerintahannya, walaupun menteri pertahanan dan wakil presidennya melakukannya. Sebetulnya, pidatonya kepada para pemimpin yang berkumpul di Brussels Kamis lalu adalah kesempatan yang tepat untuk melakukannya. Tapi, Trump tidak melakukannya.

Sehari sebelumnya, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada The New York Times bahwa Trump berencana akan melakukannya, tapi entah kenapa akhirnya batal.

Kegagalan Trump untuk mendukung Pasal 5 dianggap oleh sejumlah pengamat menjadi salah satu kesalahan diplomatik terbesar yang dibuat oleh seorang presiden Amerika sejak Perang Dunia II. Tapi begitulah Trump, presiden AS yang ditengarai dekat dengan presiden Rusia, Vladimir Putin. Dan jelas, Putin adalah penentang utama NATO. Sementara, Donald Tusk, presiden Dewan Uni Eropa, mengklaim bahwa Amerika Serikat dan Uni Eropa tidak dapat menerima Rusia.

Rusia tentu diuntungkan jika Trump, presiden AS itu, tidak memiliki komitmen yang jelas terhadap NATO, terutama tentang Pasal 5, sehingga dengan sendirinya NATO menjadi lemah. Dan itu keuntungan besar bagi Rusia. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here