Donald Trump Tuding Sistem Hukum AS Telah Rusak

0
49
Foto: AP

Nusantara.news, Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus menciptakan polemik di dalam negerinya. Setelah sejumlah perintah eksekutifnya ditolak sebagian kalangan, kini Trump malah “menyerang” lembaga hukum di negara yang baru dipimpinnya itu.

Donald Trump mengatakan pada Sabtu (11/2) bahwa perintah pengadilan pekan lalu, yang memutuskan penangguhan perintah eksekutif Presiden tentang pelarangan pengungsi telah memungkinkan masuknya pengungsi “berbahaya” dari tujuh negara mayoritas Muslim.

“Sistem hukum kami rusak!” Dalam twit-nya Trump menyebutkan bahwa 77% pengungsi telah masuk ke AS dari 7 negara yang karena pelarangannya ditangguhkan oleh pengadilan. Dan hal itu menurut dia membahayakan.

“Ini berbahaya,” tulis Trump dalam laman twitternya tertanggal Sabtu (2/11) sebagaimana dilansir NBC. Sebelumnya, Trump juga mengatakan bahwa putusan pengadilan yang menangguhkan perintah eksekutifnya tetang pelarangan imigran dari 7 negara mayoritas Muslim adalah memalukan.

Pernyataan Trump itu mereferensi Washington Times yang melaporkan adanya peningkatan jumlah pengungsi sejak Kamis, (9/2). Presentasi yang dimaksud Trump itu dari sekitar 1.400 pengungsi yang datang ke AS sejak 4 Februari hingga 10 Februari 2017, setelah hakim federal menangguhkan perintah eksekutif Trump. Jumlahnya lebih dari 70 persen, menurut Departemen Luar Negeri AS.

Namun demikian, seorang pejabat Departemen Luar Negeri mengatakan bahwa lonjakan pengungsi tersebut terjadi akibat adanya backlog pengungsi setelah kedatangan mereka diblokir Presiden Trump pada 27 Januari 2017, bukan karena penangguhan pelarangan oleh pengadilan. Pejabat itu tak mau terburu-buru mengakui bahwa pengungsi baru yang masuk itu berasal dari Iran, Irak, Suriah, Somalia, Libya dan Yaman, negara-negara yang sebelumnya masuk dalam daftar pelarangan Presiden Trump.

Para pengungsi yang disebut-sebut sejumlah 70 persen lebih itu, menurut keterangan Deplu AS, telah menjalani 18 bulan hingga dua tahun proses pemeriksaan dan telah dijadwalkan kedatangannya di AS.

Pada tanggal 27 Januari Trump menangguhkan semua pengungsi yang masuk ke AS selama 120 hari, dan bagi pengungsi dari Suriah ditangguhkan tanpa batas waktu untuk mencegah terjadinya tindak terorisme. Sejumlah pengecualian diberikan bagi para pengungsi yang sudah dalam perjalanan ketika perintah presiden baru itu ditandatangani.

Perintah itu juga melarang pengungsi untuk sementara (selama 90 hari) masuk ke AS dari negara-negara Sudan, Libya, Somalia, Suriah, Iran, Irak dan Yaman.

Menurut keterangan Deplu, sejak 28 januari hingga 3 Februari 2017 sejumlah dari 843 pengungsi yang ada hanya dua orang berasal dari tujuh negara yang dilarang.  Satu pengungsi dari Somalia pindah ke Minneapolis, dan satu lagi pengungsi Irak dimukimkan kembali di Houston.

Trump pertimbangkan larangan baru pasca-putusan pengadilan

Presiden AS Donald Trump kini tengah mempertimbangkan larangan baru setelah perintah eksekutif sebelumnya ditangguhkan oleh pengadilan AS.

Dalam perjalanan dengan pesawat Air Force One ke negara bagian Florida, Presiden Trump mengatakan kepada wartawan, “Kami akan memenangi peperangan. Sayangnya itu perlu waktu. Namun, kami juga memiliki banyak pilihan lain, termasuk mengajukan ketetapan baru.”

Trump tidak merinci wujud ‘perintah eksekutif baru’ yang dia akan ajukan. Trump hanya mengatakan, perubahannya ‘sangat sedikit.’

Setelah Hakim Distrik AS James L. Robart di Seattle mengeluarkan perintah penangguhan sementara perintah eksekutif Presiden Trump tentang pengungsi, berlaku secara nasional, Deplu AS difokuskan terutama untuk penjadwalan ulang perjalanan bagi para pengungsi yang telah dibatalkan perjalanannya pada minggu sebelumnya.

Menurut catatan Deplu, mayoritas pengungsi berasal dari Suriah 402 orang, dan Irak 340 orang, 155 orang pengungsi dari Somalia dan 115 orang berasal dari Iran. Tidak ada pengungsi yang berasal dari Libya atau Yaman dan sekitar 30 orang lebih berasal dari Sudan. [ ]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here