Dongkrak Produksi Garam, Jatim Siapkan Rp2 Miliar dengan Teknologi Geo Membrane (1)

0
163

Nusantara.news, Surabaya – Produksi garam nasional menurun drastis. Di tahun 2016, produksi garam hanya mencapai 144.009 ton saja. Itu tidak sesuai target 3 juta ton untuk bisa memenuhi kebutuhan garam nasional yang ditetapkan oleh pemerintah.

“Tahun lalu garam gagal panen, itu karena kondisi alam. Kita sudah berusaha, tetapi kondisi alam yang tidak bersahabat membuat produksi gagal, hanya  4% dari target,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Brahmantya Satyamurti Poerwadi.

Dia menyebutkan, tahun 2016 curah hujan merata lebih besar dari 150 milimeter per bulan. Bahkan, di beberapa wilayah ada yang mencapai 300 milimeter per bulan. Itu kondisi yang tidak menguntungkan bagi petani garam.

Brahmantya meminta semua pihak ikut memahami dan mengambil langkah untuk meningkatkan industri garam untuk memenuhi kebutuhan garam nasional.

Menyikapi itu Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Timur ingin mendongkrak produksi garam di wilayahnya dengan melakukan inovasi, di antaranya dengan membuat Rumah Garam. Untuk mewujudkan itu, disiapkan nada sebesar Rp2 miliar dengan menerapkan teknologi geo membrane untuk meningkatkan produksi sekaligus mendapatkan garam yang berkualitas sesuai standart SNI. Sebab dalam teknologi ini wadah kristalisasi dilapisi terpal plastik untuk menjamin kebersihan. Rencananya, program tersebut akan diuji cobakan untuk 46 kelompok di 12 kota/kabupaten di Jawa Timur.

Kepala Bidang Kelautan Pesisir dan Pengawasan, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Timur, Fatkhur Rozaq menyebutkan, dengan menggunakan teknologi tersebut memungkinkan masyarakat memproduksi garam sepanjang tahun.

Fatkhur menjelaskan, produksi garam di Jawa Timur pada 2016 silam menurun, hanya sekitar 98 ribu ton, padahal targetnya 1.068 juta ton. Lanjutnya, salah satu penyebab adalah panjangnya musim hujan sepanjang tahun 2016. Sementara, untuk bisa menghasilkan panen garam yang baik, minimal dibutuhkan lima hingga enam bulan musim panas, dalam setahun.

Semoga akan diterapkannya metode Rumah Garam dengan anggaran Rp2 miliar, Jawa Timur mampu bangkit menjadi penghasil garam yang bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan nasional, bahkan ekspor. Namun, yang perlu diwaspadai dan harus mendapat tindakan dari pemerintah adalah pelaku industri yang menggunakan kesempatan impor garam dengan dalih untuk memenuhi kebutuhan industri, tapi nyatanya ada yang menjualnya ke pasar konsumen.

Catatan yang ada, tahun 1960 produksi garam bisa swasembada. Namun setelah itu terus menurun dan tidak bisa mencukupi kebutuhan nasional yang terus meningkat baik jumlah maupun mutu. Periode 2001-2005, produksi garam nasional rata-rata 1.410.993 ton per tahun. Pada 2006-2010 menurun menjadi 969.761 ton per tahun. Periode 2011 baru ada peningkatan menjadi 1.113.118 ton. Tahun 2012 menjadi 2.071.601 ton, dan 2014 naik menjadi 2.192.168 ton.

Menurut data PT Garam, kebutuhan garam untuk masyarakat termasuk untuk pengasinan dan pengawetan ikan 1,3 juta ton per tahun. PT Garam bersama produsen swasta memproduksi 2.410.366 ton, bisa mencukupi untuk kebutuhan masyarakat termasuk untuk pengasinan dan pengawetan. Pada 2013, produksi garam rakyat mencapai 1.319.607 ton. Sementara kebutuhan nasional untuk garam konsumsi 1.242.170 ton. Kebutuhan garam untuk industri 4.038.336 ton per tahun, jauh lebih tinggi dari garam rumah tangga.

Ada yang bermain garam impor

PT Garam dan produsen dalam negeri hanya dapat memproduksi garam industri 3.050.336 ton per tahun. Karena produksi garam dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan industri dan farmasi, maka dipenuhi dari impor.

Sektor industri memerlukan tambahan garam impor 1 juta ton per tahun. Namun, angka impornya kerap melebihi 2 juta ton. Disinyalir banyak industri tak hanya mengimpor untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, tetapi ternyata juga untuk dijual di pasaran. Itu yang membuat harga garam anjlok dan petani garam merugi. Dampaknya, tidak memacu perluasan ladang garam.

Data di Kementerian Perdagangan, pada 2014 impor garam industri 2.161.275 ton. Sementara kebutuhan garam untuk farmasi sebagai bahan baku obat, 6 ribu ton per tahun. Dirjen Perdagangan Luar Negeri di Kemendag mencatat, kenaikan volume impor garam farmasi pada 2011-2012 sebanyak 25 persen dan 2012-2013 sebanyak 35 persen.

Persoalan klasik garam dalam negeri yang kalah bersaing, itu karena selain produksinya yang masih rendah, juga kualitasnya kurang baik, sehingga mempengaruhi harga. PT Garam yang mendapat tugas menuju kemandirian garam, ternyata tak mampu mewujudkan. Meski negara terus mengucurkan penyertaan modal yang jumlahnya terus meningkat.

[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here