“Dongkrek” : Warisan Kesenian Asli Dari Madiun

0
150
Pada masa penjajahan Belanda, dongkrek sempat dilarang pemerintahan kolonial untuk dipertontonkan sebagai pertunjukan rakyat, karena mereka khawatir apabila Dongkrek terus berkembang, bisa digunakan sebagai media penggalang kekuatan melawan pemerintahan Belanda.

Nusantara.news, Surabaya– Malam sebelum 18 September 1948, suasana Madiun yang biasanya tenteram drastis menjadi mencekam. Keesokan hari, saat matahari belum sampai puncaknya, bergema pidato bergelora Soemarsono, Ketua Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia. “Madiun sudah bangkit, Revolusi sudah dikobarkan, Kaum buruh sudah melucuti polisi dan tentara Republik, Pemerintahan buruh dan tani yang baru sudah dibentuk”. Saat itu Madiun hampir menjadi negara.

Madiun, kawasan yang dulunya hampir jadi negara jadi saksi bisu kudeta Partai Komunis Indonesia (PKI) kepada pemerintah Republik Indonesia. Rentetan sejarah panjang kawasan yang masuk dalam tlatah Mataraman tersebut punyai beragam tradisi dan budaya. Salah satunya dalam bidang kesenian yakni kesenian Dongkrek.

Adalah Raden Raden Ngabehi Lho Prawirodipuro seorang Demang (jabatan setingkat kepala desa) di Mejayan, Madiun sebagai pelopor lahirnya Kesenian ini. Dongkrek lahir akibat dari penderitaan rakyat Mejayan kala itu yang sedang mengalami krisis pangan dan wabah penyakit. Sebagai seorang yang diberikan amanah memimpin di tingkat desa ia berikhtiar melalui meditasi di gunung kidul Caruban.

“Sebagai seorang pemimpin, Raden Ngabehi Lho Prawirodipuro merenung untuk mencari metode yang tepat untuk penyelesaian atas wabah penyakit yang menimpa rakyatnya. Setelah melakukan renungan, meditasi, dan bertapa di gunung kidul Caruban, dia mendapatkan wangsit untuk membuat semacam tarian atau kesenian yang bisa mengusir bala tersebut,” kata Jaecken MP dalam Seni Dongkrek Kecamatan Mejayan Kabupaten Madiun Tahun 1965 – 1981.

Sakral dan mistis menyelimuti seni dongkrek. Topeng mbah Palang (orang tua), topeng putri (Roro Ayu), topeng gendruwo (Butho), serta alunan musik bedug, korek, kentongan, kenong, gong besi, gong kempul, kendang dan kempul jadi komponen penting dalam seni dongkrek. Alat musik yang beraneka ragam menjadi simbol kebinekaan antara islam, cina dan jawa.

“Dung….”suara beduk menggelegar. “krek….”suara geseran dari kayu bujur sangkar dengan tangkai kayu bergerigi menjadi suara utama seni ini. Hal itu pula menjadi asal muasal nama dongkrek disematkan pada kesenian khas Madiun.

Perpaduan harmonis antara tari dan musik menjadi mutlak dalam kesenian ini. Karena setiap awal dan akhir gerak tari dalam kesenian Dongkrek diberikan tanda pukulan irama kendang. Pemain kendang harus dapat menyesuaikan posisi penari. Pun sebaliknya untuk penari harus memperhatikan tanda dan irama yang diberikan pemain kendang.

Bade nyigeg tari ngih ater-ater kendang bade ganti gerak tari niku ngih ater-ater kendhang. Nek musike tetep mas ”, (untuk nyigeg tari dipakai tanda irama kendang, akan ganti gerakan juga ada tanda dari irama kendang),” terang Walgito, pria baruh baya yang tinggal di tanah kelahiran kesenian Dongkrek.

Iringan tempo kendang juga menunjukkan perbedaan peran dari tokoh yang akan tampil. Misalkan ketika tokoh dengan topeng tua memasuki panggung. Maka tempo dari suara kendang akan terdengar sedikit pelan. Berbeda ketika topeng gendruwo atau butho memasuki panggung. Tempo hentakan dari suara kendang akan sedikit lebih cepat, seolah menunjukkan sifat pongah dan semena-mena.

“Musik mbah Palang itu santai. Karena musiknya mbah Palang kan dia sudah tua paribasan wong tuek ungkangungkuk dijengkakne ambruk jadi itu musik temponya ga terlalu cepat. Lain dengan buto itu keras, karena kemlinti kemethak iki lho aku menangan kasarane gitu. Jadi musiknya itu keras. kalo untuk Roro Ayu itu agak santai karena dia itu alus kalo joget lain kalo untuk Roro Tumpi, karena itu sing momong njel-njelan seperti itu. Itu dipisah masing-masing mas ” terang Suwadi warga desa Sumbesoko, Madiun.

Pasang surut, manis, getir sudah dialami oleh seni dongkrek. Pada masa penjajahan Belanda, dongkrek sempat dilarang oleh pemerintahan kolonial untuk dipertontonkan sebagai pertunjukan rakyat. Hal ini dikarenakan mereka khawatir apabila Dongkrek terus berkembang, bisa digunakan sebagai media penggalang kekuatan untuk melawan pemerintahan Belanda.

“Saat masa kejayaan PKI di Madiun, kesenian ini dikesankan sebagai kesenian “genjer-genjer” yang dikembangkan PKI untuk memperdaya masyarakat umum. Sehingga kesenian dongkrek mengalami masa pasang surut akibat imbas politik. Tahun 1973, Dongkrek digali dan kembali dikembangkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupeten Madiun bersama Propinsi Jawa Timur, “ terang Jaecken penulis Seni Dongkrek Kecamatan Mejayan Kabupaten Madiun Tahun 1965 – 1981.

Dongkrek Kesenian syarat nilai

Tidak dipungkiri kesenian Dongkrek dilihat dari latar belakang terciptanya syarat akan nilai dan budi luhur. Mulai dari nilai spiritual, kepemimpinan, kepahlawanan, moral dan simbolik. Banyak pesan yang disampaikan secara implisit dalam kesatuan alur cerita utuh.

“Nafsu aluamah disimbolkan dengan warna hitam, nafsu ini menggambarkan dalam diri manusia terdapat sifat kejam. Nafsu amarah disimbolkan dengan warna merah dan memiliki arti bahwa dalam diri manusia terdapat sifat sombong, pemarah, dan tidak mau dilampaui orang lain,” jelas Hening Qodam Sejari dalam penelitiannya tentang kesenian dongkrek.

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa warna kuning dalam kesenian Dongkrek disimbolkan sebagai nafsu supiah. Artinya dalam diri manusia terdapat sifat mengagungkan keindahan dan kemegahan duniawi. Nafsu mutmainah dilambangkan dengan warna putih memiliki makna bahwa dalam diri manusia terdapat sifat kebajikan dan merujuk manusia melakukan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Unsur cerita dan tokoh kesenian Dongkrek terdapat makna yang lebih mendalam. Sosok buto dalam kesenian Dongkrek meskipun Buto atau Genderuwo memiliki sifat yang jahat, brangasan dan berasal dari golongan dedemit bisa diajak bersatu untuk berbuat kebaikan. Tuntunan ini menjadi pelajaran bahwa seburuk apapun manusia pasti terdapat kebaikan dalam dirinya. Pesan-pesan inilah yang selalu dibawa dalam kesenian Dongkrek dan terus menerus disampaikan secara berkesinambungan secara turun temurun,” imbuhnya.

Pesan sura dira jaya ningrat, ngasta tekad darmastuti (setiap kejahatan pada akhirnya akan kalah juga dengan kebaikan dan kebenaran) tampak jelas dalam kesenian Dongkrek. Bagaimana keberanian Raden Ngabehi Lho Prawirodipuro dalam hal ini disimbolkan oleh eyang palang menumpas masa paceklik dengan mengalahkan Buto.

Pada akhirnya kesenian Dongkrek memberikan gambaran seharusnya seorang pemimpin. Ketika susah atau keadaan paceklik bukan meninggalkan rakyat tapi bagaimana berjuang bersama rakyat dalam menghadapi kesusahan. Tidak sekedar memikirkan solusi jangka pendek tapi harus jangka panjang dan visioner. Baik persoalan sepele tentang garam, beras maupun hutang yang nantinya akan jadi penderitaan seluruh rakyat. Pemimpin harus berikhtiar dan berpikir seimbang dalam mengambil setiap keputusan.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here