Dosa-Dosa Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama

2
1089

Nusantara.news, Jakarta – Pilkada DKI Jakarta 2017 sudah berakhir. Pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot) dinyatakan tumbang. Hampir seluruh lembaga survei menempatkan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno (Anies-Sandi) sebagai pemenang. Meski masih menunggu hasil hitung sah KPU, tetapi Ahok-Darot sudah mengaku kalah dan mengucapkan selamat pada gubernur dan wakil gubernur baru, Anies-Sandi. Hal itu dikatakannya dalam jumpa pers yang digelar di Hotel Pullman, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (19/4/2017) lalu.

Kunggulan Anies dalam kontestasi putaran kedua Pilkada DKI Jakarta sebelumnya sudah diprediksi banyak pihak. Baik warga maupun sejumlah lembaga survei mencatat dan meramalkan bahwa elektabilitas Ahok bakal jeblok dan berpotensi kalah. Namun, kekalahan Ahok sejatinya bukan karena lawan politiknya yang hebat. Melainkan, faktor yang mencolok berbagai blunder-nya yang dilakukan Ahok berulang kali. Sikap kasar, memaki-maki siapa pun yang tak disukainya, sampai menista Al Maidah dan serentetan kekasaran lain, semua dilakulannya tanpa merasa bersalah.

Seperti yang juga dicatat LSI Denny JA. Karakter Ahok yang kasar dan arogan menjadi penyebab dia terjungkal. Sikap mantan Bupati Belitung Timur itu dianggap bukan tipe pemimpin yang layak memimpin DKI Jakarta. Puncaknya, ketika dia blunder menistakan ayat suci Al Maidah ayat 51. Belum lagi sikapnya yang dinilai tidak konsisten, seperti halnya mencerca partai politik dan hanya ingin maju lewat jalur independen. Namun, belakangan dia akhirnya berjuang mencari dukungan partai politik.

Tak sampai di situ, tumbangnya Ahok juga diakibatkan karena kebijakan Pemprov DKI Jakarta dinilai tak pro kepada rakyat. Kebijakan tersebut, antara lain berupa penertiban kawasan pemukiman dan reklamasi di pantai Jakarta Utara yang kemudian diketahui sarat korupsi dan kepentingan asing. Wajar, jika kemudian warga DKI Jakarta marah dan kecewa.

Namun, ketika publik bereaksi marah terhadap Ahok, para pendukungnya mengalihkannya menjadi isu antikeberagaman. Seolah-olah  reaksi publik yang marah itu karena Ahok dari etnis Cina dan beragama Protestan. Padahal sudah sejak lama, masyarakat mayoritas Indonesia hampir melupakan sentimen SARA itu. Berikut ini adalah dosa-dosa Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama selama menjabat Gubernur DKI Jakarta. []

2 KOMENTAR

  1. Etnis tionghoa kompak mendukung ahok. Umat kristen jg kompak mendukung cagub yg kristen. Siapa yg msh akrab dg unsur sara ? Kl etnis tionghoa mentertawai pribumi yg tergila2 dg tokoh dr gol mrk, demikian umat kristen mentertawai umat islam yg tergila2 dg tokoh dr gol mrk, smg hal bs mjd pelajaran bg kaum pribumi dan umat islam. Salam nkri.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here