DPR-RI : Pulihkan Kehormatan Tan Malaka Sebagai Pahlawan Nasional

0
985
Anggota Komisi VIII DPR-RI Khatibul Umam Wiranu

Nusantara.news, Jakarta – Jasa-jasa Tan Malaka bagi Kemerdekaan RI tak perlu diragukan lagi. Sudah tepat  kiranya Presiden Soekarno memberinya gelar Pahlawan Nasional. Namun dalam prakteknya nama Tan Malaka seolah hilang dari daftar penerima gelar Pahlawan Nasional.

Untuk itu Khatibul Umam Wiranu, selaku Direktur Eksekutif Tan Malaka Institute yang sekaligus anggota Komisi VIII DPR-RI mendesak pemerintah segera memulihkan kehormatan Ibrahim Datuk Tan Malaka sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia. “Sebagai tokoh yang berjasa besar atas berdirinya Republik Indonesia sudah selayaknya Tan Malaka di tempatkan di tempat yang terhormat,” tuturnya dalam diskusi ” Napak Tilas Tan Malaka di Purwokerto, Sabtu (4/3) malam.

Selain dihadiri anggota DPR-RI dari Dapil Banyumas-Cilacap itu, diskusi yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Cabang Purwokerto itu juga menghadirkan Dr. Luthfi Makhasin, S.IP, MA, pengajar politik di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto dan Ben Ibratama Tanur, pemerhati Sejarah Tan Malaka dan mantan Ketua DPP Partai Murba.

Dalam pandangan Umam, Tan Malaka adalah sosok pengembara yang visioner. Namanya bukan saja dikenal di sejumlah tempat di Indonesia, melainkan juga di Asia Tenggara, bahkan Republik Rakyat China.

“Lewat buku Naar De Republiek Indonesia yang ditulis Tan di Kanton Cina April 1925, Tan Malaka telah mencita-citakan berdirinya sebuah Republik bernama Indonesia. Karena itulah, Mister Muhammad Yamin seorang sejarawan Indonesia memberi Tan Malaka gelar Bapak Republik Indonesia,” ujar Umam yang juga Ketua Alumni Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta.

Sebagai anggota Komisi VIII yang bermitra dengan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Umam sudah menyampaikan persoalan Tan Malaka dalam sebuah rapat kerja. “Katanya Bu Menteri masih menunggu hasil tes DNA Tan Malaka yang diyakini meninggal dan dimakamkan di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur,” ujarnya.

Padahal Tan Malaka, sambung Umam, adalah tokoh pemikir bagi pejuang-pejuang kemerdekaan segenerasinya. “Puluhan karya Tan Malaka, seperti Massa Aksi, Naar De Republiek Indonesia, Gerpolek dan Madilog, telah menjadi inspirasi bagi pejuang kemerdekaan Indonesia di masa lalu,” terangnya.

Terlepas dari pandangan politik Tan Malaka waktu itu, tandas Umam, tokoh ini layak diberi kehormatan dan dimakamkan secara layak dengan upacara kenegaraan. “Hal ini sudah saya sampaikan langsung ke Menteri Sosial RI” ujar Umam.

Apalagi, tambah Umam, Presiden RI pertama Soekarno saja menghormati Tan Malaka dengan meanugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia. “Keppresnya ada kok. Nomor 53 tahun 1963. Yang tanda tangan Presiden Soekarno. Dan Keppres tidak pernah dicabut.” []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here