DPR Setujui Hak Angket, KPK Minim Dukungan Masyarakat

0
114

Nusantara.news, JAKARTA – Betulkah masyarakat sudah tidak bersemangat membela Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang sekarang berusaha dilemahkan oleh DPR melalui hak angket? Mengapa persetujuan penggunaan hak angket terhadap KPK ditanggapi dingin dan tidak heboh seperti kasus Cicak Vs Buaya?

Pertanyaan ini merupakan wujud kegundahan pengamat politik dari Universitas Hasanuddin Makassar, Mulyadi yang menilai KPK harus didukung sebagai tembok terakhir pemberantasan korupsi di Indonesia.

Mulyadi mengemukakan, rapat paripurna DPR sudah mengambil keputusan menyetujui usulan hak angket yang diajukan Komisi III DPR terkait pembukaan rekaman pemeriksaan Miryam S.Haryani dalam kasus e-KTP.

Meskipun proses persetujuan itu sempat mengundang protes dari sejumlah anggota DPR, namun rapat paripurna DPR yang dipimpin oleh Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah di Jakarta, Jumat (28/4) akhirnya mensahkan usulan hak angket KPK tersebut.

Apakah fenomena minimnya dukungan terhadap KPK saat ini karena menurunnya kredibilitas lembaga antirasuah itu?

Mulyadi menilai kondisi tersebut akibat adanya opini seolah-olah masyarakat membenarkan KPK bekerja tebang pilih. Ada kesan, KPK dipersepsikan hanya mengurusi kasus-kasus yang melibatkan rezim terdahulu dengan tujuan untuk menghabisi kekuatan mantan penguasa.

“Minimnya dukungan terhadap KPK saat ini, karena opini yang dibentuk elit tertentu bahwa KPK hanya bekerja untuk menghabisi rezim sebelumnya,” jelas Mulyadi kepada nusantara.news, Selasa (2/5).

Pegiat antikorupsi juga melempem. Menurut Mulyadi, kemungkinan karena dua hal, pertama karena memang kecewa dengan kinerja KPK yang tebang pilih atau memang mereka terlibat dalam kasus pidana korupsi.

“Memang kalau diperhatikan, KPK saat ini kurang mendapat dukungan dari para aktivis yang sebelumnya sangat bersemangat mendukung KPK,” kata Muklyadi.

Di sisi lain, lanjut Mulyadi, KPK belakangan memang sering membuat kecewa masyarakat. Karena, kasus yang harusnya dituntaskan, seperti kasus Rumah Sakit Sumber Waras yang oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dinyatakan ada kerugian negara ratusan miliar rupiah, tidak ditangani serius oleh KPK. Bahkan, KPK justru menyatakan tidak ditemukan tindak pidana korupsi.

Belum lagi, kasus lain yang melibatkan orang-orang yang diduga dekat dengan kekuasaan. Semuanya, nyaris tidak diselesaikan oleh KPK. Namun, KPK justru rajin membongkar kasus lain di luar harapan masyarakat.

“Kondisi itu, makin menguatkan dugaan masyarakat bahwa KPK memang bekerja tebang pilih. Karena itu, jangan heran jika KPK tampaknya kurang didukung masyarakat saat berhadapan dengan DPR terkait hak angket.” tandasnya.

Juga ada tumpang tindih tugas dan fungsi (tupoksi) antara KPK dengan institusi penegak hukum lainnya. Seperti, kejaksaan dan kepolisian yang juga bertugas memberantas korupsi.

“Konsekuensinya, ada struktur yang  menjalankan fungsi yang sama,yang berakibat munculnya duplikasi, kompetisi, arogansi, dan pemborosan.

Tak Lemahkan KPK

Pernyataan berbeda dikemukakan pengamat hukum tata negara, Margarito Kamis. Dikatakan,  KPK agar membuang jauh kekhawatirannya bahwa hak angket akan berujung pada pelemahan KPK. Sebab, hak angket tersebut hanya bertujuan untuk menanyakan soal pengggunaan anggaran dan sering bocornya dokumen dalam proses hukum seperti surat perintah penyidikan (sprindik), surat cekal sampai dengan pencabutan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) oleh Miryam S Haryani dalam kasus e-KTP.

“KPK tidak perlu takut dengan hak angket. Ini biasa dalam praktik kenegaraan. DPR menjalankan fungsinya untuk mengontorol dan KPK tinggal menjawab pertanyaannya. Tak ada agenda melemahkan KPK, tidak ada sama sekali,” jelasnya.

Dikatakan lagi, jika KPK merasa bersih, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. “Di berbagai kesempatan, KPK selalu mendengung-dengungkan pentingnya bertindak jujur. Nah, dengan hak angket ini, giliran DPR meminta KPK jujur mengenai proses hukum yang selama ini dilakukan. Nah, kenapa sekarang takut? Orang jujur kok takut!” pungkas Margarito. []

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here