Dua Hari Beruntun Gus Ipul Beri Sambutan ‘Spesial’ kepada Megawati

0
153
Megawati Soekarnoputri ketika menuju lokasi buka bersama di Pendopo Kabupaten Blitar, Senin (5/6/2017).

Nusantara.news, Blitar – Hari lahir Pancasila yang sekaligus rangkaian Bulan Bung Karno di Kota Blitar, 5-6 Juni 2017 bakal berarti banyak bagi konstelasi politik di Jawa Timur jelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2018. Kehadiran ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnowati, secara politis bisa dianalisa sebagai restu awal kepada siapapun penerima rekomendasi dari partai yang memiliki keterwakilan 19 kursi di DPRD Jawa Timur tersebut.

Karenanya, kendati acara tersebut merupakan agenda internal partai namun Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (Gus Ipul), menyambut langsung kedatangan Megawati di Bandara Abdurrahman Saleh Malang, Minggu (4/6/2017), sehari sebelum putri tertua Bung Karno tersebut melakukan perjalanan darat ke Blitar.

Gus Ipul merupakan pendaftar pertama yang mengambil formulir di DPD PDI Perjuangan Jawa timur tepat 1 Juni lalu. Menariknya, dalam 2 edisi pilgub sebelumnya, partai berlambang banteng moncong putih tersebut jarang menurunkan rekomendasi kepada pendaftar non kader. Apakah kedatangan khusus Gus Ipul yang sampai mencium tangan Megawati merupakan strategi pendekatan demi meraih rekom?

Sorotan itu kian kuat karena Gus Ipul juga masih hadir dalam acara buka bersama di Pendopo Kabupaten Blitar, Senin (5/6/2017). Kendati Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristyanto menegaskan tidak ada muatan pilkada, namun apapun bisa terjadi dalam proses komunikasi yang tertutup.

Hasto kepada media sebelum acara buka bersama menjelaskan, kegiatan yang hanya mengundang seluruh kader, merupakan bagian dari konsolidasi partai. “Ini bagian dari konsolidasi, struktural partai. Lebih-lebih Ramadhan, kami ingin satukan seluruhnya, menyatukan komitmen kepartaian dan mengambil hikmah dari seluruh nilai ketuhanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, hadir sejumlah fungsionaris PDI Perjuangan dari pusat hingga daerah, anggota DPR dari fraksi PDI Perjuangan pusat hingga daerah, sejumlah kepala daerah dari PDI Perjuangan. Menteri yang hadir adalah Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly. Di antara kepala daerah yang hadir asal Jawa Timur selain Gus Ipul adalah Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan Walikota Batu terpilih di Pilkada 2017 Dewanti Rumpoko.

Siap Berkoalisi dengan Usung Figur Baru

Rekomendasi PKB dan Demokrat ditambah PDI Perjuangan jika Megawati berkenan, bakal jadi modal Gus Ipul menatap 2018. Lalu bagaimana dengan partai lain yang selama ini jarang bersuara? Sebut saja Gerindra sebagai salah satu motor koalisi di Pemilihan Presiden(Pilpres) lalu.

Beberapa waktu lalu, Sekretaris DPD Gerindra Jawa Timur Anwar Sadad mengatakan, pihaknya masih melakukan komunikasi politik dengan elit di luar ketiga partai itu. Tujuannya, membentuk koalisi untuk mengusung penantang Gus Ipul. “Masih terus berkomunikasi dengan Golkar, PKS, PPP, NasDem maupun Hanura. Saya yakin partai-partai tersebut juga memiliki calon yang siap dipasangkan dengan calon dari Gerindra,” katanya.

Figur baru, tambah Sadad, menjadi prioritas Gerindra dalam perhelatan tahun depan. Beberapa di antaranya sempat disebut. Seperti Mahfud MD mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) dan Muhlas Sidik (Ketua Harian DPP Partai Gerindra). “Bisa saja Pak Mahfud nanti kita pasangkan dengan Pak Masfuk ketua DPW PAN Jatim atau dengan Kang Yoto Bupati Bojonegoro yang juga kader PAN,” jelasnya.

Menurut Sadad, kekuatan politik di Jawa Timur bukan hanya didominasi PKB, PDIP dan Demokrat saja. Akan tetapi masih ada parpol-parpol lain yang juga mempunyai pendukung yang militan. “PKB dalam sejarah reformasi bahkan belum pernah memenangkan Pilgub Jawa Timur,” sebutnya.

Merebut simpati masyarakat melalui figur baru bahkan sudah terbukti di Pilgub DKI Jakarta ketika pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang diusung Gerindra, mengungguli pasangan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Rahman yang didukung koalisi partai-partai besar. “Kami akan menggunakan pola seperti di Pilgub DKI Jakarta. Membawa perubahan dengan mengusung nama baru yang berpotensi dan sesuai dengan keinginan rakyat,” tegasnya.

Rekomendasi kiai sepuh NU kepada Gus Ipul, tambah Sadad juga bukan harga mati untuk dituruti warga nahdliyin yang punya basis massa besar di Jawa Timur. Namun mengaca pada dinamika di Pilgub DKI Jakarta yang masih berdampak hingga kini, semua pihak di Jawa Timur harus bisa mengedepankan prinsip legawa ketika hasil berbicara lain.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here