Dua Negarawan “Brand Ambassador” Batik Indonesia

0
113

Nusantara.news, Jakarta – Para pengrajin batik nasional harus berterimakasih kepada Nelson Rolihlahla Mandela, atau yang lebih dikenal dengan Nelson Mandela. Betapa tidak, pemimpin besar Afrika Selatan yang jadi simbol perjuangan kesetaraan dan demokrasi itu, berjasa besar mempopulerkan batik ke seantero jagat. Dia dengan bangga mengenakan batik dalam segala kesempatan. Entah sedang bekerja sebagai presiden, menerima tamu negara dan berkunjung ke mancanegara. Mandela bahkan berbaju batik waktu membuka Piala Dunia FIFA di Afrika Selatan tahun 2010. Dia juga mengenakan batik tatkala menghadiri Sidang Umum PBB, ketika delegasi Indonesia justru berbalut setelan jas resmi.

Karena Mandela tak pernah lepas dari batik, di negaranya batik disebut sebagai “Madiba’s Shirt”, atau Baju Madiba. Madiba adalah panggilan Mandela di sana.

Mandela mengenal batik sejak tahun 1990. Ketika itu dia berkunjung ke Indonesia setelah dibebaskan dari penjara yang ditempatinya selama 27 tahun. Dia datang sebagai wakil ketua organisasi Kongres Nasional Afrika. Ketika hendak pulang ke negaranya, Presiden Soeharto menghadiahinya beberapa baju batik dan uang sebesar US$ 10 juta.

Tujuh tahun kemudian, dia datang kembali ke Indonesia. Kali ini sebagai Presiden Afrika Selatan. Dia menjadi tamu negara. Ketika turun dari mobil di depan tangga Istana Negara, Pak Harto sudah berdiri menunggu.

Alangkah terperanjatnya Soeharto. Tak terlintas sedikit pun dalam bayangannya, sang tamu ternyata datang dengan mengenakan baju batik yang dulu dihadiahkan kepadanya! Sementara tuan rumah dan segenap pejabat pendampingnya berbalut setelan jas warna gelap.

Wajar Soeharto terkesima, sebab baru kali ini tamu negara datang dengan busana batik.

Mungkin Pak Harto tersenyum kecut ketika itu. Di satu sisi, dia bangga karena Mandela menyimpan baik-baik baju batik hadiah darinya, dan memakainya ketika bertamu sewindu kemudian. Tapi, di sisi lain, dia tak enak hati, Mandela memakai batik yang notabene produk budaya Indonesia, sementara dia justru berseragam “Barat”.

Sejak “insiden diplomatik” itu, Pak Harto jadi sering berbaju batik. Ketika membuka KTT APEC di Bogor tahun 1994, Pak Harto “mewajibkan” semua kepala negara yang hadir mengenakan seragam batik.

Jusuf Kalla juga pernah memberikan hadiah baju batik kepada tokoh besar Afrika itu. Waktu itu, tahun 1999, Kalla menjabat sebagai Menteri Perdagangan. Kalla memesan khusus batik dari perancang busana terkemuka, Iwan Tirta. Busana itu diserahkannya ketika berkunjung ke Afrika Selatan sebagai menteri perdagangan.

Kalla menceritakan, seusai acara resmi, dia hendak meresmikan sebuah toko batik di Johannesburg. Tapi rekannya, menteri perdagangan Afrika Selatan, justru melarang. “Percuma, tidak akan ada orang yang mau beli batik di sini. Orang Afrika Selatan tidak berani memakai batik, karena itu dianggap baju kebesaran Mandela,” kata menteri itu.

Kalla menceritakan, waktu Mandela berkuasa tahun 1990an sampai 2000, memang tidak ada orang yang berani pakai batik karena dianggap Mandela’s shirt. “Saya  tanya kepada mereka, kenapa tidak pakai batik. Mereka jawab, wah, kalau kami pakai batik nanti dianggap ingin menyaingi Mandela. Mandela kan seperti manusia setengah dewa di sana,” ujar Kalla.

Setelah Mandela berhenti jadi presiden, apalagi sesudah dia wafat, barulah masyarakat Afrika Selatan mulai banyak yang berpakaian batik. Bahkan sekarang sudah banyak desainer busana di sana yang merancang batik. Motifnya dikombinasikan antara corak Indonesia dengan corak Afrika yang menyukai warna-warna terang mencolok.

Kini Batik Indonesia secara resmi sudah diakui UNESCO dengan dimasukkan ke dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity) dalam Sidang ke-4 Komite Antar-Pemerintah (Fourth Session of the Intergovernmental Committee) tentang Warisan Budaya Tak-benda di Abu Dhabi.

UNESCO mengakui batik Indonesia bersama dengan 111 nominasi mata budaya dari 35 negara, dan yang diakui dan dimasukkan dalam Daftar Representatif sebanyak 76 mata budaya.

Menurut penilaian UNESCO, batik Indonesia mempunyai teknik dan simbol budaya yang menjadi identitas rakyat Indonesia. Seluruh tahap kehidupan orang Indonesia seperti tak lepas dari batik. Bayi yang baru lahir di-bedong dengan kain panjang bermotif batik. Ketika meninggal pun, jenazahnya diselimuti dengan batik.

Mendunianya batik itu tidak terlepas dari jasa Mandela –dan tentu saja jasa Soeharto. Sebab presiden Indonesia kedua itulah yang memberi hadiah batik kepada Mandela –kendati kemudian dia sempat “dipermalukan” ketika Mandela datang bertamu dengan berbaju batik, sedangkan dia tidak.

Dua negarawan yang berjasa bagi negaranya masing-masing itu adalah “brand ambassador” gratisan bagi berkembangnya seni dan industri batik nasional saat ini. Tanpa Mandela, dan Soeharto, mungkin batik tidak akan dikenal luas oleh dunia seperti sekarang.

Bisa dikatakan, hanya batiklah satu-satunya produk yang mempunyai dua orang presiden sebagai brand ambassador. Coba bayangkan, berapa negara harus membayar, jika memakai pesohor dunia sebagai brand ambassador. 

Tak ada salahnya pemerintah memberi bintang penghargaan khusus kepada mendiang Mandela atas jasanya yang berhasil menduniakan batik, produk seni budaya adiluhung kekayaan Nusantara.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here