Dua Pemimpin ‘Raksasa Ekonomi’ Dunia Segera Bertemu

0
82

Nusantara.news, Hong Kong Dua pemimpin raksasa ekonomi dunia, Amerika Serikat dan Cina, direncanakan segera bertemu. Presiden AS Donal Trump dan Presiden Cina Xi Jinping dijadwalkan melakukan pertemuan pada 6-7 April di resor pribadi milik Trump Mar-a-Lago Estate, Palm Beach, Florida. Tempat dimana Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe melakukan pertemuan dengan Presiden AS Februari lalu.

Kebenaran rencana pertemuan tersebut dikonfirmasi oleh Kementerian Luar Negeri Cina pada Kamis (30/3). Pihak Kemenlu Cina, sebagaimana dilansir NY Times (31/3), juga telah menerima rincian agenda pertemuan kedua pemimpin tersebut.

Tahap-tahap pertemuan antara kedua pemimpin negara yang mempunyai pengaruh besar dalam ekonomi dunia ini, telah dipersiapkan oleh kedua belah pihak selama beberapa minggu. Menurut keterangan para pejabat Amerika, pihak Cina telah mendorong agar pertemuan dilakukan secara lebih santai, dan mereka lebih memilih resor milik Trump di Florida ketimbang di Gedung Putih.

Tampaknya, Cina menyadari bahwa pertemuan kedua pemimpin tersebut bakal berlangsung alot di bawah tekanan kepentingan besar yang dibawa kedua negara. Trump dan Jinping telah mengalami sejumlah ketegangan dan “perang komentar” terkait isu-isu menyangkut kedua negara.

Para pemimpin akan memiliki agenda penuh, karena keduanya harus keluar dari sejumlah masalah kontroversial yang diperdebatkan dalam hubungan bilateral selama ini. Masalah-msalah itu antara lain misalnya, soal klaim Trump sejak dia kampanye Pilpres AS tentang praktek-praktek perdagangan yang tidak adil dilakukan Cina; masalah pengendalian ambisi senjata nuklir oleh Korea Utara sebagai sekutu utama Cina; serta kekhawatiran AS tentang ambisi militer Cina di Laut Cina Selatan.

Pertemuan Trump dan Jinping pada 6 dan 7 April, menyusul kunjungan Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson baru-baru ini ke Beijing, Cina. Tillerson tampaknya berhasil melakukan diplomasi yang cukup menenangkan suasana saat dia bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing pada 19 Maret lalu.

Menurut juru bicara Kemenlu Cina, Lu Kang, Presiden Jinping akan bertolak ke Florida setelah kunjungannya ke Finlandia.

Trump dan Jinping sebelumnya telah berbicara melalui saluran telepon pada 9 Februari lalu. Selama pembicaraan itu, Trump mengatakan kepada Jinping bahwa dia akan menghormati kebijakan “Satu Cina”, dimana AS mengakui pemerintahan tunggal Cina tunggal di Beijing, dan tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan.

Cina sempat meradang karena setelah terpilih sebagai Presiden AS, Trump menerima telepon kenegaraan dari Presiden Taiwan Tsai Ing-wen. Meski Ing-wen hanya mengucakan selamat atas terpilihnya Trump, namun Beijing menganggap hal itu sebagai simbol bahwa pemerintah Trump tidak lagi mengakui kebijakan ‘Satu Cina’. Ditambah, adanya pernyataan Trump pada sebuah media telivisi di AS, yang mengganggap bahwa kebijakan ‘Satu Cina’ masih bisa dinegosiasikan.

Sementara itu, Cina menyerukan agar AS memainkan peran dalam menyelesaikan friksi perdagangan antar dua negara.

Sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (31/3) Wakil Menteri Luar Negeri Cina Zheng Zeguang mengakui adanya ketidakseimbangan dalam perdagangan AS dan Cina, tetapi dia mengatakan hal ini sebagian besar disebabkan oleh perbedaan dalam dua struktur ekonomi mereka dan mencatat bahwa Cina juga mengalami defisit perdagangan jasa.

“Cina tidak sengaja mencari surplus perdagangan. Kami juga tidak punya niat untuk melaksanakan devaluasi mata uang yang kompetitif untuk merangsang ekspor. Ini bukan kebijakan kami,” kata Zheng dalam briefing terkait pertemuan Trump dan Jinping.

Menurut Zheng Yuan turun 6,5% tahun lalu, dan itu penurunan terbesarnya secara tahunan terhadap dolar AS sejak tahun 1994, disebabkan oleh tekanan pertumbuhan ekonomi yang melamban dan menguatnya mata uang AS secara luas.

Trump sebelumnya telah sering menuduh Cina sengaja menjaga mata uangnya secara manipulatif agar rendah terhadap dolar, sehingga membuat ekspor Cina lebih murah, dan Cina juga dituduh telah “mencuri” pekerjaan manufaktur Amerika.

Zheng menolak pernyataan Trump bahwa Cina sebagai manipulator mata uang. Konsumsi domestik di Cina akan meningkat karena mengejar reformasi ekonomi, dan hal itu membantu untuk meningkatkan permintaan barang dan jasa asing, termasuk dari Amerika Serikat.

“Hal ini juga membantu memperbaiki ketidakseimbangan perdagangan antara Cina dan Amerika Serikat,” katanya.

Zeng juga menambahjan bahwa investasi Cina di AS juga telah meningkat, dan akan menciptakan lebih banyak peluang pekerjaan.

“Beijing bersedia bekerja dengan Washington untuk mempromosikan perdagangan yang lebih seimbang antara kedua negara. Selama kedua belah pihak memperluas pemikiran mereka, mengambil langkah positif, kedua negara dapat melakukan banyak hal dalam perdagangan dan bisnis, serta masing-masing dapat mencapai keuntungan dengan hasil win-win,” kata Zheng.

Dalam tweet-nya Kamis (30/3), Presiden Trump mengatakan, pertemuan tersebut sangat diantisipasi olehnya, yang juga diharapkan bisa menutupi perbedaan atas Korea Utara dan ambisi strategis Cina di Laut Cina Selatan. “Ini akan menjadi sangat sulit,” katanya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here