Politisi China Dalam Sorotan: Masih China atau Sudah Indonesia? (Bagian 1)

Dua Unsur Ahok yang Bikin Pilkada DKI Panas dan Menegangkan

0
307

Nusantara.news, Jakarta – Pengalaman Pilkada DKI Jakarta yang panas dan menegangkan karena meyentuh masalah SARA, NKRI, dan isu sensitif lainnya seyogyanya tidak terulang lagi. Terlalu besar energi yang terkuras untuk membicarakan hal-hal yang sebenarnya sudah tuntas. Isu isu panas itu juga bikin pilkada sebagai ajang adu progam tidak jalan. Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang akhirnya kalah, malah menempatkan China perantauan kini dalam sorotan. (Pengantar Redaksi, Red)

Unsur Ahok yang Bikin Panas

Sesungguhnya sudah tidak ada persoalan terkait beda etnis atau beda agama di Indonesia. Siapapun bisa berpolitik, asal sesuai dengan kebudayaan Indonesia dan tentunya untuk kepentingan nasional Indonesia.

Ketika Ahok muncul bersama Joko Widodo dalam Pilkada  DKI Jakarta tahun 2012, tidak ada masalah. Tidak ada yang mempermasalahkan ke-China-an Ahok, juga agamanya yang kristen.

Setelah terpilih, Ahok malah jadi perhatian tersendiri, dia hero. Sebagai wakil gubernur, Ahok dinilai mampu memainkan peran signifikan. Ahok muncul sebagai sosok yang berani, jujur dan terbuka. Kesan berani muncul setelah ia mempersoalkan prilaku korupsi sejumlah pejabat DKI Jakarta.

Ahok juga berani mempersoalkan keberadaan Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang dikelola oleh konglomerat China perantauan Murdaya Poo, yang berbuntut Pemerintah DKI memboikot PRJ Kemayoran dan membuka “PRJ” tandingan di kawasan Monas.

Sementara kesan jujur dan terbuka muncul setelah rapat-rapat di internal pemerintahan DKI Jakarta, di-upload di media sosial yuotube.

Persoalan mulai muncul ketika ia naik menjadi Gubernur DKI Jakarta menggantikan Jokowi yang terpilih jadi Presiden RI. Ahok ketika itu hampir setiap hari didemo oleh Front Pembela Islam Indonesia (FPI). Namun, opini publik memihak Ahok. Tindakan Ahok membubarkan  FPI Jakarta, diamini sebagai tindakan yang benar.

Ahok juga terus berseteru dengan DPRD yang salah satu motornya adalah Haji Lulung. Perseteruan yang juga jadi tontonan publik ini, lagi lagi positif bagi Ahok dan semakin mengentalkan citranya sebagai pejabat jujur dan berani. Ahok dipersepsikan sebagai sosok protagonis bagi rakyat, sementara Haji Lulung yang berlatar belakang preman, dipandang sebagai sosok antagonis.

Persepsi publik tentang Ahok mulai mengalami perubahan setelah Kawan Ahok berhasil mengumpulkan hampir sejuta tanda tangan sebagai bekal menuju Pilkada DKI Jakarta. Ketika itu Ahok mulai sesumbar bahwa dia tidak perlu partai politik sebagai kendaraan untuk maju bertarung pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

Pada titik inilah Ahok diduga mulai tampil dengan jati dirinya yang sebenarnya. Sejak saat itu,  popularitas Ahok memang terus melambung tetapi mulai ada unsur negatif. Pernyataannya yang tidak perlu lagi partai politik, mencerminkan sosoknya yang pongah karena mengerdilkan arti partai politik.

Pada saat bersamaan, muncul kasus dugaan korupsi pengadaan bus transjakarta senilai Rp 1,2 triliun yang terbukti merugikan negara ratusan miliar rupiah. Kasus ini muncul setelah sejumlah bus yang belum sebulan didatangkan dari Cina itu sudah berkarat dan rusak sehingga tidak bisa digunakan.

Kemudian muncul kasus dugaan korupsi terkait pembelian UPS senilai Rp 50 miliar. Muncul lagi kasus dugaan korupsi dalam pembelian lahan Sumber Waras. Dalam kasus ini BPK mensinyalir adanya indikasi kerugian daerah sebesar Rp191,33 miliar. Kasus yang paling besar adalah kasus reklamasi Teluk Jakarta yang muncul menyusul penangkapan anggota DPRD Mohamad Sanusi atas dugaan menerima suap dari bos Agung Podomoro Land, Ariesman Widjaja sebesar Rp2 miliar. Dalam kasus ini, KPK sempat menetapkan status cekal bagi Chairman PT Agung Sedayu Group, Sugianto Kusuma alias Aguan.

Sejak saat itu, Ahok mulai dalam sorotan, dan terkuak pula sejumlah anak konglomerat China perantauan yang “magang” di kantor Ahok di DKI Jakarta. Kata magang diberi tanda petik, karena magang anak konglomerat itu dinilai sebagai bentuk campur tangan konglomerat terhadap kebijakan Pemerintah DKI Jakarta yang dikomandani Ahok.

Ketika Ahok menyinggung surat Al Maidah di Kepulaun Seribu yang  direspon oleh umat Islam dengan aksi super damai yang dihadiri jutaan umat, opini publik terkait Ahok yang semula positif (protagonis) berubah drastis. Sejumlah pemberitaan di media sosial mulai mengait-ngaitkan Ahok dengan China perantauan.

Ahok tak lagi dianggap sebabai politisi yang mandiri, melainkan politisi yang dijadikan “boneka” oleh orang – orang yang berada di belakangnya, yakni para China peratauan, merujuk antara lain pada kasus reklamasi dan status magang anak -anak konglomerat di kantor Ahok.

Prilaku Ahok yang nyaris setiap hari marah marah, yang semula ditafsirkan sebagai bentuk keberanian dan kejujurannya, berubah dan ditafsirkan lebih sebagai upaya kerasnya membela orang-orang yang menopangnya di belakang layar, bukan untuk membela kepentingan DKI Jakarta.

Setelah Ahok kalah dalam Pilkada DKI Jakarta, muncul isu bahwa dia akan dijadikan Kepala Badan Urusan Logistik (Ka Bulog), atau jadi Menteri Dalam Negeri (Mendagri).

Isu ini lagi-lagi ditafsirkan sebagai cara orang-orang tertentu yang berada di belakang layar untuk terus “menghidupkan” Ahok agar tetap bisa “dimanfaatkan” atau agar tetap “pantas” tampil pada even Pemilihan Presiden 2019 mendatang, baik sebagai wakil presiden berpasangan dengan Jokowi, atau maju sendiri berhadapan dengan Jokowi jika masih diusung PDI Perjuangan.

Sedemikian rupa, ada dua unsur utama dari Ahok yang bikin Pilkada DKI Jakarta yang final tanggal 19 April 2017, panas dan menegangkan karena menyentuh unsur SARA, dan NKRI. Yakni, pertama prilakunya yang suka marah-marah dan bicara kasar, serta tendensi atau motif orang-orang yang menopangnya di belakang layar. Yang pertama kurang relevan dengan kebudayaan atau tata  krama berbicara di depan umum di Indonesia. Yang kedua, terkait dengan kecurigaan adanya kepentingan asing. Kedua hal ini menjadikan bukan hanya Ahok, tetapi juga China perantauan lainnya berada dalam sorotan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here