Duet Suyoto – Moreno Ramaikan Pilkada Jatim

0
139
Foto pasangan Suyoto-Moreno yang beredar di grup aplikasi WhatsApp. Munculnya pasangan poros tengah ini semakin memanaskan Pilgub Jatim 2018.

Nusantara.news, Jawa Timur – Gagalnya La Nyalla M Mattalitti memenuhi tugas yang diberikan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, rupanya tidak membuat peluang calon Gubernur Jawa Timur dari poros tengah tertutup.

Saat ini peluang jalur perseorangan atau independen untuk Pilgub 2018 memang sudah tertutup. KPU Jatim membuka tahapan pendaftaran calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur dari perseorangan atau independen selama 5 hari sejak 22-26 November 2017. Sedangkan untuk tahapan pendaftaran bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim dari partai politik akan dibuka 8 Januari dan ditutup pada 10 Januari 2018.

Nah, keengganan Partai Amanat Nasional (PAN) berkoalisi dengan Gerindra selama ini bisa jadi disebabkan kurang matching dengan sosok La Nyalla. Karena alasan itu, sampai saat ini Gerindra dan PAN belum menemui kesepakatan membentuk poros tengah. Padahal suara dua partai tersebut sudah cukup untuk mengusung calon sendiri.

Namun bagaimana seandanya ada sosok baru yang benar-benar fresh dan menjadi representatif generasi milenial (pemilih muda)? Ya, sosok yang digadang-gadang itu tak lain kader Gerindra, Moreno Soeprapto.

Belum lama ini Partai Gerindra menyebut nama Moreno menjadi figur untuk diusulkan maju di Pilgub Jatim. Dia akan disandingkan dengan kader dari partai lain. Sebagai anggota DPR RI, Moreno dianggap mampu mengawal program pro rakyat selama mengawal program pemerintah melalui Komisi III DPR RI yang dibidanginya.

Banyak kalangan menilai langkah Gerindra mengusung Moreno Jatim diprediksi gugur di tengah jalan. Sebab, kapasitas Moreno belum teruji dan sulit untuk diterima oleh partai dalam koalisi poros tengah lainnya. Pasalnya kiprah Moreno selama ini belum teruji dengan baik. Bahkan, ketika namanya sempat disebut dalam pertarungan pemilihan wali kota (Pilwali) Kota Malang pun banyak yang meragukannya.

Alasan lain, segmen pemilih Jawa Timur adalah nasionalis-religius. Pertarungan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Khofifah Indar Parawansa yang sama-sama dari NU ini saja yang akan sengit.

Hanya Khofifah-Emil dan Gus Ipul-Anas yang akan head-to-head karena waktu menuju pemilihan gubernur kian mepet. Sementara bagi Moreno waktunya tidak cukup untuk meningkatkan elektabilitas. Namun demikian, tampilnya Moreno ini bagus untuk proses demokrasi, sebab akan semakin berwarna dan kompetitif.

Peluang poros tengah terbentuk memang cukup besar. Apalagi ketiga partai baik itu Gerindra, PAN, maupun PKS sepertinya punya chemistry yang baik pasca-kemenangan di Pilgub DKI Jakarta. Dan kendati PKS pun tidak masuk dalam koalisi pun, kedua partai (Gerindra-PAN) tetap berpeluang berkoalisi.

Partai Gerindra, PAN, dan PKS, sebelumnya sepakat untuk berkoalisi di Pilkada Serentak 2018 di 5 provinsi. Ketiga partai tersebut sepakat berkoalisi di Pilgub Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatara Utara, Kalimantan Timur, dan Maluku Utara.

Saat ini ketiganya sebenarnya sedang saling menjajaki. Belum ketemunya kesepakatan antar ketiga partai, bisa juga disebabkan munculnya sosok La Nyalla yang dianggap tidak bisa mewakili suara PAN dan PKS. Sehingga kedua partai tersebut memilih ‘mbalelo’.

Sebaliknya, jika sosok baru itu muncul, seperti Moreno, kemungkinan besar bisa mengurai benang kusut antar ketiga partai. Apalagi di berbagai pertemuan ketiganya selalu sepakat tetap dalam satu barisan koalisi, termasuk pada lima Pilkada yang digelar saat ini. Di Jatim sendiri sebenarnya sudah ada kesepakatan, tapi hanya tertunda saja.

Meski peluang Moreno dari Gerindra sangat kecil untuk membentuk poros tengah. Namun di situ ada kesepakatan yang muncul. Belum lagi jika dia diduetkan dengan salah satu kader dari PAN atau PKS.

PAN sendiri saat ini masih mencari formula dari berbagai pemetaan yang sudah dibangun cukup lama. Nama Suyoto muncul sebagai penantang Gus Ipul dan Khofifah. Namun semua itu tetap harus menjadi kesepakatan bersama. Bisa jadi nantinya Suyoto mendampingi Moreno.

Gerindra-PAN Jajaki Peluang Poros Tengah

Gerindra tampaknya sudah bulat mengusung Moreno, meski banyak pihak meragukan kemampuan atlet balap itu sebagai pemain baru di dunia politik. Hal itu disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad yang mengatakan partainya tidak memiliki keraguan sedikit pun dalam mengusung Moreno.

“Moreno itu kelasnya bukan hanya nasional, tapi internasional. Sebagai atlet balap, dia juga seorang petarung politik yang punya wawasan luas. Kakeknya juga pernah memimpin Malang,” katanya.

Menurut Dasco, Moreno bisa merebut suara pemilih milenial, termasuk santri-santri muda di Jawa Timur. Hal itu terbukti saat Gerindra pertama kali mengusung Morenodalam pemilihan legislatif 2014, putra pembalap legendaris Indonesia, Tinton Suprapto, itu langsung lolos sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat 2014-2019 dengan perolehan suara lebih dari 52 ribu. Pertimbangan-pertimbangan itulah yang membuat Gerindra yakin terhadap Moreno.

“Moreno adalah sosok ideal generasi milenial Indonesia. Dia tak hanya memiliki segudang prestasi, tapi juga memiliki idealisme yang sangat teruji. Selama di DPR beliau banyak berkontribusi bagi perumusan kebijakan-kebijakan fraksi yang senantiasa berorientasi pada kepentingan rakyat,” kata Dasco yang juga anggota Komisi III DPR ini.

Dasco optimis Moreno memiliki nilai jual di Jatim. Moreno dinilai bisa menjadi cagub alternatif selain Khofifah atau Gus Ipul. “Kami yakin sosok Moreno sangat bisa dijual di Pilgub Jatim. Jika dilihat dari peta politik saat ini, Moreno punya peluang besar untuk menjadi pilihan alternatif karena memiliki karakter beda dengan Kofifah–Gus Ipul. Mesin partai kami mulai dari DPD hingga ranting akan bekerja all out memenangkan Moreno,” ucapnya.

Senada, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mengatakan dirinya masih akan mempertimbangkan nama Moreno untuk maju di Pilgub Jatim Jatim 2018. Munculnya nama Moreno, kata Prabowo, merupakan bagian dari dinamika politik. Sebab apa saja bisa terjadi.

Menurutnya, usulan dari beberapa pihak untuk mengajukan Moreno harus dikonsultasikan kepada parpol lain yang menjadi rekan Gerindra, yakni PKS dan PAN. Oleh sebab itu, pasangan calon Pilgub Jatim perlu ditunda, dan diumumkan setelah tahun baru 2018. Prabowo menjelaskan saat ini pihaknya sedang melakukan seleksi calon-calon kepala daerah yang terbaik.

“Saya pertimbangkan masalah lain, saya harus tanya kawan-kawan dari partai lain partai dari sahabat. Saya tidak mau formal mengatakan koalisi tapi secara alamiah sudah terjadi. Jadi khusus Jatim kita pending kita bahas terus setelah tahun baru kita umumkan,” ujar Prabowo dalam konferensi pers usai pertemuan dengan Zulkifli Hasan dan Sohibul Iman di DPP PKS, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Minggu (24/12/2017).

Prabowo juga menegaskan tertundanya koalisi antara PKS dan PAN di Jawa Timur bukan dikarenakan adanya nama kuat seperti Khofifah dan Gus Ipul. Dia mengatakan, masih akan menyaring nama terbaik yang bisa menjadi alternatif pilihan untuk rakyat.

“Dulu waktu calonkan Anies-Sandi banyak yang ketawain kami. Tapi akhirnya rakyat yang menentukan. Dan harapan yang kami dapat dari rakyat berharap PKS, Gerindra, dan PAN selalu kerja sama dengan baik supaya demokrasi ada pilihan biar rakyat yang memilih,” jelasnya.

Di kesempatan yang sama, Presiden PKS Sohibul Iman mengaku menunda untuk mengumumkan pasangan calon di Pilgub Jatim. Sebab, kata Sohibul, perlu ada kesepakatan bersama dalam mengusulkan calon di Pilgub Jatim.

“Untuk Jatim kita pending. Apalagi sampai mengerucut pada nama kita mau poros ketiga atau nama dua itu kita belum sepakat, apalagi bicara nama,” kata Sohibul saat ditanya setuju nama Moreno di Pilgub Jatim.

Di tempat yang sama, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PAN, Eddy Soeparno memberi sinyal untuk menduetkan Moreno dan Suyoto. Menurutnya, hal itu sudah disebut dalam rapat pembahasan koalisi Pilkada 2018. Namun, belum dapat dipastikan apakah Bupati Bojonegoro itu akan dipasangkan dengan Moreno Suprapto untuk Pilkada Jatim.

Menurut Eddy, pihaknya belum sempat mengkonfirmasi bersedia atau tidaknya Suyoto untuk diajukan dalam bursa Pilkada Jatim. “Ada baiknya kita bicara dulu dengan Pak Suyoto karena beliau diusulkan di dalam pembicaraan tadi. Sehingga mudah-mudahan di awal Januari kami sudah memutuskan siapa yang diusung,” ujarnya.

Dia melanjutkan, baik nama Suyoto dan Moreno sama-sama relatif baru mengemuka. Kedua nama ini sama-sama dibicarakan dalam pertemuan bersama PAN dan Gerindra.
Nama Suyoto sendiri sebelumnya sudah pernah disampaikan oleh PAN dalam kondisi pemilihan yang berbeda. Eddy menjelaskan, Suyoto layak dipertimbangkan karena pernah terpilih dua kali sebagai Bupati Bojonegoro. “Namun, sekarang belum bisa memutuskan, ” tambah Eddy.

Terpisah, Kang Yoto sapaan akrab Suyoto, menegaskan siap untuk berdampingan dengan figur dari Partai Gerindra tersebut (Moreno Soeprapto) di Pilgub Jatim mendatang. Kang Yoto mengaku telah berkomunikasi intens dengan jajaran pengurus Gerindra. “Dalam dua hari ini, saya sudah dihubungi oleh perwakilan Partai Gerindra,” ujar Kang Yoto, belum lama ini.

Di dalam komunikasi tersebut, Kang Yoto mengatakan bahwa Gerindra memang menawarkan Moreno sebagai calon wakil gubernur untuk mendampinginya di Pilgub mendatang. “Ada pembicaraan ke arah sana,” imbuhnya.

Respon Kang Yoto, dia mengatakan siap jika memang diberi amanah. “Saya siap untuk didampingi Mas Moreno,” tegasnya.

Kang Yoto mengaku langsung mengiyakan tawaran Gerindra karena telah mengenal latar belakang Moreno sejak lama. Berdasarkan penjelasan Kang Yoto, Moreno merupakan cucu dari Raden Ayu Koestantinah Soeyatmo atau yang dikenal sebagai Kanjeng Soemantri. Kanjeng Soemantri merupakan putri dari Bupati Bojonegoro periode 1916-1936, Almarhum Kanjeng Soemantri Kusummoadinegoro.

“Ibu dari Mas Tinton (Tinton Soeprapto, ayah Moreno) memiliki kekerabatan dengan Bupati Bojonegoro, Kanjeng Sumantri. Sedangkan Bapaknya Pak Tinton, dulu adalah Bupati Malang, Raden Tumengung Ario Notodiningrat,” ulas Kang Yoto.

Sehingga, atas latar belakang tersebut, Kang Yoto tidak perlu berpikir panjang untuk menerima tawaran Gerindra. “Jadi (Moreno) sudah sering ke Bojonegoro. Moreno adalah anak muda yang pintar, baik, dulu pembalap populer. Yang pasti, ganteng, dan cocok untuk pemilih zaman now,” ucap Bupati Bojonegoro dua periode ini.

Pasca tawaran dari Gerindra tersebut, kini Kang Yoto tengah mengomunikasikannya dengan pengurus DPP PAN. “Saya laporkan ke Ketua Umum PAN (Zulkifli Hasan). ‘Ini lo, ada pertanyaan seperti ini’,” tutup Mantan Ketua DPW PAN Jatim ini.[]

 

 

 

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here