Dukung Anies di Pilpres 2024, Paloh Cerdik Baca Peluang

0
118
Anies Baswedan membacakan Deklarasi Ormas Nasdem bersama 45 tokoh nasional di Istora Senayan, Jakarta, pada 1 Februari 2010 silam. Namun, ketika ormas Nasdem menjadi partai politik, Anies, Sri Sultan Hamengkubuwono X, dan beberapa tokoh lainnya mundur dari Nasdem.

Nusantara.news, Jakarta – Sejumlah elite politik melakukan manuver di tengah penantian komposisi kabinet, pemilihan kursi ketua MPR, juga di antara polemik oposisi dan rekonsiliasi. Seperti tak mau kalah dengan Megawati yang bertemu dengan Prabowo Subianto, di hari dan waktu yang hampir bersamaan (jam makan siang), Surya Paloh juga menggelar pertemuan dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di kantor DPP Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Rabu (24/7/2019).

Dalam pertemuan itu, Surya Paloh bahkan melontarkan wacana yang mengejutkan. Ketua Umum Partai Nasdem itu menyatakan bahwa partainya siap mendukung Anies Baswedan secara politik untuk maju di Pilpres 2024 mendatang.

"Iya, pastilah (dukung). Lahiriyah batiniyah. Pasti ada itu semua niat baik harus terjaga. Potensi ada, tapi ada proses. Nah, itu tugas sama-sama," kata Paloh saat konferensi pers, usai pertemuan.

Paloh juga mengatakan bahwa Anies merupakan bagian dari keluarga Nasdem. Lebih spesifik, Paloh mengaku jalur politik Anies berangkat dari Nasdem. Anies memang bukan orang asing di mata bos Media Grup tersebut. Mantan Mendikbud ini salah satu deklarator Ormas Nasdem, cikal-bakal Parta NasDem, yang dicetuskan Surya Paloh dan Sri Sultan Hamengkubuwono X. Ormas ini dideklarasikan oleh 45 tokoh nasional di Istora Senayan, Jakarta pada 1 Februari 2010.

“Seorang Anies Baswedan rumahnya memang dari sini berangkatnya, boleh kalian tanya,” sambungnya.

Dukungan Paloh terhadap Anies sepintas dianggap tidak lumrah. Pasalnya, Anies dan Paloh berbeda secara pilihan politik dalam beberapa waktu terakhir. Saat Pilgub DKI, Paloh mendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Ketika Pilpres, Paloh berada di balik Joko Widodo (Jokowi). Sebaliknya, Anies cenderung merapat ke Gerindra yang mendukung Prabowo Subianto. Namun dalam politik semua kemungkinan bisa terjadi: tidak ada kawan dan lawan abadi.

Tentu saja, dukungan dini atau ‘politik ijon’ ala Suya Paloh ini memantik reaksi, baik dari partai koalisi Jokowi maupun Prabowo. PDIP, misalnya, mengatakan partai koalisi seharusnya fokus dulu dengan konsolidasi periode kedua pemerintahan Jokowi. Sementara Gerindra meminta Anies jangan memikirkan 2024 tetapi konsentrasi membenahi Jakarta. PSI bahkan menyayangakan Nasdem mendukung tokoh yang diusung oleh kelompok yang mempolitisasi agama.

Lepas dari kehebohan dukungan Paloh terhadap Anies, muncul pertanyaan: manuver politik apa yang sedang dimainkan Nasdem?

Investasi Politik Nasdem

Rasanya tidak pas menggolongkan Nasdem sebagai pemain baru di jagat politik Tanah Air, meski keikutsertaannya pada pemilihan tingkat nasional baru dimulai sejak Pemilu 2014. Sebagai partai yang berpusat pada sang pendiri, Surya Paloh, garis politik dan keputusan strategis Nasdem tak lepas dari tangan dingin pria asal Aceh itu. Pencapaian gemilang Nasdem hingga mencapai juara 5 dari 9 partai hasil Pemilu 2019 yang lolos ke parlemen, juga ada andil Paloh di dalamnya.

Paloh sendiri harus diakui selain seorang pengusaha, juga politisi kawakan yang mengawali kariernya di Partai Golkar sejak 1969 sebagai Ketua Koordinator Pemuda Pelajar dan Mahasiswa (Ko-PPM) Golkar. Jabatan terakhirnya di Partai Golkar adalah Ketua Dewan Penasihat (2004 -2009) sebelum ia mundur tahun 2011 setelah kalah dari Aburizal Bakrie dalam pemilihan ketua umum Golkar tahun 2009. Sosoknya kian meroket karena dianggap salah satu tokoh berpengaruh di lingkaran kekuasaan Jokowi.

Terlebih, pada Pilkada 17 provinsi tahun 2018, Nasdem tercatat sebagai partai yang paling banyak memenangkan pasangan calon kepala daerah (unggul di 11 provinsi). Meski klaim kemenangan tersebut oleh sejumlah pihak disebut kemenangan semu karena pasangan calon yang diusung umumnya bukan kader Nasdem (tokoh independen yang populer ataupun bekas kader partai lain yang “dinaturalisasi”). Apa pun itu, nyatanya pencapaian tersebut telah mendongkrak kasta Nasdem ke partai papan tengah.

“Kita lihat saja, calon kepala daerah potensial, masuk dan bergabung ke NasDem lalu memenangkan pilkada,” kata pengamat politik Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi.

Strategi menggaet tokoh populer ataupun ‘menaturalisasi’ kader partai lain yang dinilai punya elektabilitas tinggi sebagai calon kepala daerah dan calon legislatif, membuahkan hasil pada perolehan suara Pemilu 2019. Suara Nasdem menurut hasil KPU setidaknya 2,33 persen lebih banyak daripada capaiannya di Pemilu 2014. Pada Pemilu 2014, perolehan suara partai yang didirikan Juli 2011 ini mendapatkan 6,72 persen suara. Sedangkan di Pemilu 2019, naik menjadi 9,05 persen (12.661.792 suara).

Nasdem juga memanfaatkan satu aset penting dalam politik Indonesia: media. Merlyna Lim menuliskan dalam "The League of Thirteen Media Concentration in Indonesia" (2012) bahwa setelah Nasdem didirikan sampai jelang Pemilu 2014, Surya Paloh memanfaatkan Metro TV (televisi yang juga anggota Media Group miliknya), untuk branding politik bagi Nasdem dan kandidat yang diusungnya, sekaligus mempengaruhi preferensi politik masyarakat.

Pendapat lain, pertemuan Ketum Nasdem Surya Paloh dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga dinilai sebagai gertakan kepada PDIP. Pasalnya, pada saat yang sama, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menggelar pertemuan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Seak awal, Nasdem tak setuju Gerindra masuk koalisi pemerintahan.

Kembali ke dukungan Paloh pada Anis, hal ini bisa jadi merupakan investasi politik jangka panjang Paloh yang memiliki kans di masa depan (baik bagi Nasdem maupun untuk eksistensi pribadinya). Sejauh ini, bisa dikatakan Paloh memang piawai dalam membaca peluang tersebut, termasuk melihat potensi Anies di Pemilu 2024.

Pasca Jokowi “pensiun”, Anies memang masuk jajaran calon pesiden paling potensial. Selain dikenal sebagai cendekiawan, memimpin daerah yang jadi barometer Indonesia, lihai berkomunikasi, juga punya basis massa besar dan fanatik. Tak menutup kemugkinan, ia akan punya tambahan dukungan dari massa pendukung Prabowo di Pilpres 2019 kemarin.

Selain pada Anies, Partai NasDem juga kerap melakukan deklarasi dukungan pada tokoh populer jauh sebelum partai lain mencalonkan. Pada Pilpres 2014, misalnya, Nasdem adalah partai yang pertama kali mendukung pencalonan Jokowi sebagai presiden, bahkan ketika PDIP justru masih menimang-nimang capres yang cocok. Begitu pula saat Pilkada Jabar 2018, Nasdem yang paling awal mendeklarasikan Ridwan Kamil sebagai calon gubernur yang diusung.

Restu Paloh lewat Nasdem juga diberikan kepada kandidat populer lain seperti Khofifah Indar Parawansa (Jatim), Ganjar Pranowo (Jateng), dan Edy Rahmayadi (Sumut). Ketiganya kini menjadi kepala daerah di provinsi yang memiliki kantong suara terbesar dalam pemilu.

Dengan dukungan yang diberikan sejak awal, Nasdem bisa saja nanti mengklaim telah bekerja keras membesarkan Anies untuk menjadi calon presiden. Pun, posisi tawar Nasdem terhadap Anies dan partai lain pengusung calon yang sama, akan tinggi. Boleh jadi, partai yang punya riwayat kedekatan dengan Anies seperti Gerindra dan PKS, akan ‘ketok pintu’ dulu pada Nasdem manakala hendak mencapreskan Anies di Pilpres 2024. Di titik ini, “kecerdikan” Paloh lebih maju selangkah di banding elite partai lain.

Strategi Nasdem ini merupakan salah satu kriteria dari tipologi partai menurut Gunther dan Diamond, yaitu tipe partai yang hanya mengejar elektoral atau suara pemilih semata. Sehingga pemilihan kandidat dilakukan dengan mengambil semua kandidat yang populer atau dikenal dekat dengan rakyat, sehingga kecenderungan terpilihnya tinggi. Tak jarang, NasDem bahkan rela “membajak” kader partai lain untuk mendapatkan kemenangan.

Di sisi lain, strategi Nasdem dengan cenderung memilih kader lain yang lebih populis dan memiliki faktor kemenangan besar, juga menimbulkan pertanyaan, apakah partai ini memang sengaja berupaya memperbesar peluang suara demi mempertahankan partainya atau justru karena mengalami kesulitan mencari kader internal dengan figur kuat?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here