Dukung Gus Ipul, Bu Nyai Bukan Sekedar Pendamping Kiai

0
182
Gus Ipul selfie dengan Bu Nyai di Pesantren Al Amin, Ngasinan, Kediri.

Nusantara.news, Jawa Timur – Jika Khofifah Indar Parawansa mempunyai pendukung loyal di Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) dan Fatayat, maka Saifullah Yusuf (Gus Ipul) tidak mau kalah. Ribuan Bu Nyai-sebutan istri kiai-Pengasuh Pondok Pesantren Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU se-Mataraman, membacakan ikrar dukungan bagi pasangan Gus Ipul dan Azwar Anas dalam pemilihan gubernur 2018 mendatang.

Bu Nyai yang datang ke Pesantren Al Amin, Ngasinan, Kediri, Senin (30/10/2017)  berasal dari Kediri, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Pacitan, Ponorogo, Madiun, Ngawi, Nganjuk, Bojonegoro, dan Jombang.

KH Anwar Iskandar sebagai tuan rumah, KH Zainuddin Jazuli dan KH Nurul Huda Jazuli, kemudian Ketua DPRD Jawa Timur Abdul Halim Iskandar, Gus Ipul dan sejumlah Kiai Sepuh juga hadir dalam acara ikrar tersebut.

Sebanyak 10 perwakilan Bu Nyai memimpin pembacaan ikrar. Mereka adalah, Bu Nyai Hj Lailatul Badriyah, Pengasuh Pesantren Alfalah, Ploso, Mojo, Kediri; Bu Nyai Hj Adinniyah Pengasuh Pesantren Lirboyo Kediri; Bu Nyai Hj Siti Jauharotul, Pesantren Wasilah Ponorogo; Bu Nyai Hj Masruroh, Pesantren Al Hikam, Mlaten, Geger, Madiun; dan Bu Nyai Hj Handayani Anwar, Pesantren Al Amin Ngasinan Kota Kediri.

Selain itu ada juga Bu Nyai Hj Mahmudah, Pengasuh Pesantren Miftahul Mubtadiin, Nganjuk; Bu Nyai Hj Laila Rohmatin,SH Pengasuh Pesantren Bumi Hidayat At Taqwa, Kedungluruh, Pogalan, Trenggalek; Bu Nyai Hj Fatimatuz Zahro, Pengasuh Pesantren Mambaul Hidayah, Tlogo, Kanigoro, Blitar; Bu Nyai Hj Siti Roihanah, Magetan dan Nyai Hj Farida Nasaida, Pengasuh Pesantren Bolu, Karangrejo, Tulungagung.

Ikrar yang dibacakan para Bu Nyai ini, menurut mereka, sesuai dengan keinginan para kiai yang memang memilih dan memperjuangkan agar Gus Ipul-Anas menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur.

“Kami (kiai dan para istri) merupakan bagian tak terpisahkan dari perjuangan besar ulama pondok pesantren dalam menentukan calon pemimpin daerah yang akan datang. Kami selalu mengikuti keputusan para masyayih (pengasuh pesantren) dan ulama pondok pesantren. Kami Sami’na Wa’ato’na (nurut) pada para kiai,” kata 10 Bu Nyai ketika membacakan deklarasi dukungan.

Dalam menghadapi Pilkada, Pemilu hingga Pilpres, para Bu Nyai mengimbau kepada semua pihak terutama orang-orang Nahdliyin agar senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan, meski beda pilihan.

Ikrar Bu Nyai di wilayah Mataraman ini sebenarnya lanjutan dari ikrar sebelumnya yang telah dilakukan di sejumlah wilayah. Sama dengan di Mataraman, Sebanyak 4.000 lebih Bu Nyai berkumpul di Pondok Pesantren Syaichona Moh Cholil, Bangkalan. Mereka mendeklarasikan dukungannya terhadap Gus Ipul.

Para Bu Nyai tersebut sudah berkomitmen dan bersiap untuk menangkan Gus Ipul di Pilkada tahun depan sekaligus mengantarnya sebagai gubernur.

Bu Nyai Juwariyah Fawaid usai Halaqoh 4.444 Bu Nyai dan Mubalighoh se-Jatim mengatakan,  belajar dari pengalaman Pilkada sebelumnya, NU sebagai jamaah maupun jam’iyah harus tetap menjaga kebersamaan dan kekompakan demi kemaslahatan ummat. Sehingga harus terwujud pada setiap gerak langkah dalam pengambilan keputusan politik yang menimbangkan aspirasi sebagian besar kiai dan pengasuh pondok pesantren.

Bu Nyai asal PP Salafiyah Syafii Sukorejo tersebut sepakat dengan para kiai dan pengasuh Ponpes bahwa kader NU harus mampu berbagi peran dalam berbagai tempat jabatan politik, baik di legislatif, eksekutif, maupun jabatan-jabatan strategis di pemerintah pusat maupun daerah.

“Dalam kaitan itu, kami sejalan dengan keputusan para kiai dan pengasuh pesantren di Jatim untuk mendukung dan mempercayakan sepenuhnya kepada Gus Ipul menjadi calon Gubernur mewakili aspirasi NU dalam Pilkada 2018,” kata Juwariyah.

Alasan Mendukung Gus Ipul

Para Bu Nyai mendukung Gus Ipul bukan semata-mata mengikuti jejak kiai. Mereka juga penjelasan logis mengapa menjatuhkan pilihan ke Gus Ipul. Pertimbangannya, Gus Ipul menjadi satu-satunya calon mewakili NU yang telah menunjukkan keberhasilan dan ketakdzimannya dalam mendampingi Gubernur Jatim Soekarwo selama dua periode dengan penuh amanah.

“lni menunjukkan kematangannya sebagai pemimpin yang mampu menempatkan diri sebagai wakil yang baik sehingga provinsi ini menorehkan sejumlah prestasi di tingkat nasional,” ungkap Juwariyah.

Ditambahkan, pengalaman Gus Ipul selama dua periode menjadi menjadi jaminan bahwa dia telah memahami berbagai persoalan secara mendalam tentang apa yang harus dikerjakan jika kelak terpilih menjadi Gubenur Jatim. Dengan demikian, ia akan Iangsung bergerak cepat untuk bekerja dalam menciptakan kemajuan dan kemakmuran Jatim yang bedandaskan kepada akhlak mulia.

Bu Nyai membaca ikrar Halaqoh 4.444 Bu Nyai dan Mubalighoh se-Jatim di Pondok Pesantren Syaichona Moh Cholil, Bangkalan. Mereka mendukung Gus Ipul dalam Pilgub Jatim 2018.

Selain itu, Bu Nyai menilai Gus lpul telah menunjukkan komitmennya terhadap penguatan pendidikan karakter melalui pemberdayaan madrasah diniyah yang sebelumnya kurang mendapatkan perhatian pemerintah. Bahkan, program pemberdayaan dan penguatan madrasah diniyah ini merupakan satu-satunya program di Indonesia, ia juga telah turut mengambil prakarsa dalam pemberdayaan perempuan melalui koperasi wanita.

Gus lpul, kata Juwariyah, mampu membangun komunikasi yang baik antara pemerintah dengan semua elemen masyarakat, termasuk para kiai, pengasuh pondok pesantren, guru ngaji, dan umat Nahdliyin. “Dia menjadikan Jawa Timur sebagai tempat lahirnya NU berhasil menjaga stabilitas politik dan sosial tanpa mengabaikan kemajemukan masyarakatnya,” urainya.

Perhatian Gus Ipul terhadap masalah kemiskinan, kesenjangan ekonomi, kesehatan, keadilan sosial, dan kebudayaan, juga tidak terbantahkan. Dalam memimpin, Gus Ipul dianggap dapat memprioritaskan amanah yang dibebankan padanya.

Dukungan dari Bu Nyai se Jawa Timur ini terbagi dalam 4 zona yakni, Zona Tapal Kuda seperti Kabupaten Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Jember, Lumajang, Kabupaten Probolinggo, Probolinggo kota, Pasuruan kota dan Kabupaten Pasuruan, serta Bangil.

Kedua, Zona Mataraman terdiri dari kabupaten dan kota yakni, Kabupaten dan kota Madiun, kabupaten dan kota Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Pacitan, Ponorogo, Ngawi, Magetan, Nganjuk. Ketiga, Zona Arek yakni, Surabaya, kabupaten dan kota Mojokerto, kabupaten dan kota Malang, Batu, Sidoarjo, Jombang, Gresik, Lamongan, Tuban, Bojonegoro. Keempat, Zona Madura meliputi Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Kabupaten Sumenep.

Menyikapi perihal tersebut, Gus Ipul memandang dukungan pengasuh para pesantren dikerjakan secara menggelinding. Pihaknya bersyukur dikarenakan dukungan itu diinisiasi oleh para Bu Nyai serta pihaknya tinggal mengikuti.

“Ini tidak merepresentasikan muslimat, ya pengasuh pesantren lah, tapi sebagian muslimat, yang jelas Bu Nyai pasti punya pengaruh, ini pada dasarnya para Bu Nyai mendukung apa yang menjadi kesepakatan ulama saja,” ujar Gus Ipul.

Peran Bu Nyai di Pilgub Jatim kali ini bisa dikata sebagai antitesis dari Muslimat NU yang mayoritas mendukung Khofifah. Meski jumlah Bu Nyai tidak sebanding dengan Muslimat NU, tetapi jangan salah, Bu Nyai justru representatif dari para kiai. Artinya, mereka juga mampu memegang kendali.

Baca juga: Mesin Politik Khofifah yang Tak Dipunyai Partai

Selama ini para kiai telah berjuang di garda terdepan untuk menciptakan ketentraman dan kedamaian di bumi nusantara. Namun di belakangnya terdapat peran Bu Nyai yang luar biasa dan turut serta dalam perjuangan tersebut. Mereka mampu memutarbalikkan keadaan. Apa yang dikatakan kiai A (dalam urusan politik) bisa diubah menjadi B oleh ‘bisikan’ Bu Nyai ke para suami.

Nabi Muhammad SAW saja girangnya minta ampun mempunyai istri seperti Khadijah RA. Diceritakan, saat itu Nabi SAW mendapat wahyu pertama kali di Gua Hiro’, yang waktu itu belum ditata sedemikian rupa seperti sekarang ini, alias masih terjal dan asli. Nabi SAW sesudah bertemu Malaikat Jibril guna mendapat wahyu Alquran, bergegas turun dari gunung dengan setengah berlari. Sampai di rumah, dalam keadaan takut, gemetar dan campur aduk, beliau minta diselimuti oleh Siti Khadijah. Dan apa yang dilakukan oleh Siti Khodijah? Beliau mendampingi dan ngerem-rem (memberi wejangan kesejukan) kepada Nabi SAW agar tenang, dengan berkata, “Tidak mungkin Allah berlaku buruk terhadapmu, sebab panjenengan itu orang baik. Allah tidak akan membiarkanmu.”

Betapa luar biasanya peran “Bu Nyai” Siti Khadijah. Barangkali karena faktor itulah yang membuat Siti Aisyah tidak kuat menahan cemburu, padahal Siti Khadijah sudah wafat bertahun-tahun lamanya. Hal ini karena Nabi SAW masih saja ingat dengan Siti Khadijah. Sedikit-sedikit yang diomongkan selalu Khadijah. Hingga kemudian Nabi menjelaskan bahwa Siti Khadijah adalah wanita yang benar-benar istimewa, di samping karena beliau adalah orang yang pertama kali percaya padanya, saat tidak ada sama sekali orang yang percaya kepadanya.

Seperti dalam gambaran inilah peran Bu Nyai. Meski kerap dianalogikan sebagai pendamping kiai, namun peran mereka sebetulnya sangat vital. Mereka mempersiapkan segala kepentingan kiai, mulai dari menyiapkan minuman kopi hingga kitabnya. Bu Nyai juga mengurusi urusan kemasyarakatan. Bu Nyai jugalah yang menyiapkan konsumsi atau suguhan. Belum lagi kalau kiainya capek, selain memijat suami yang sedang mangkel dan mengeluh menghadapi umat, Bu Nyai justru berperan besar ngerih-rih (membangkitkan semangat) kiai agar tidak putus asa, dan selalu dengan bilang, “Sing sabar, bah”.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here