Dukungan PDI-P Membuat Ahok Lupa Diri

0
455

Nusantara.news, Surabaya –  Kemenangan Pilgub DKI Jakarta duet Jokowi – Basuki Thahaja Purnama (Ahok), disusul kemenangan Jokowi – JK di Pilpres 2014, membuat sosok Ahok seperti manusia super di Indonesia. Mengapa?

Gaya kepemimpinan yang sering mengumbar amarah dan muncul di beberapa media cetak, elektronik, televisi dan radio nasional bahkan media sosial, membuat mantan Bupati Bangka Belitung ini seakan menjadi media darling se antero negeri.

Selama menjadi Gubernur, Ahok memang pemegang peran utama. Ia tampil – atau ditampilkan – sebagai sosok pendobrak, anti-kemapanan, dan taktis bertindak. Ia juga tak sabaran, ceplas-ceplos, dan tak segan “berkelahi” dengan siapapun. Bahkan umat Islam yang merupakan mayoritas di Jakarta dan Indonesia juga tak luput diajak adu urat.

Keberhasilannya menggusur pemukiman kumuh di sepanjang sungai Jakarta yang menurutnya bisa mengakibatkan banjir, serta memberantas preman-preman pasar di Jakarta membuat warga terkesima dengan cara kerja Ahok yang belum pernah dilakukan oleh pendahulunya.

Namun, sikap over cofindent Ahok kadang menjadi dia lupa daratan bahwa dirinya Cuma sebatas Gubernur cadangan menggantikan Jokowi yang berhasil melenggang menuju kursi RI. Sikap ini diperparah dengan adanya dukungan partai besar di belakangnya yang siap memback up semua kebijakan di DKI Jakarta.

Semua itu menjadikan Ahok “LUPA DIRI” luar biasa. Dukungan Nasdem, Hanura, Golkar, PPP Djan Farid dan beberapa ulama yang dekat dengan dirinya seakan membuatnya semakin “LUPA DIRI” superstar. Bahkan beberapa kasusnya seperti skandal RS Sumber Waras dan lain-lain seperti dengan mudah lolos dai jeratan hukum.

Hal ini menjadikan Ahok semakin seperti manusia tak tersentuh hukum. Semua itu membuat Ahok seakan lepas control marah, membentak, caci maki, dan ucapan kotor sering di lontarkan dari mulut Ahok. Hingga kutukan datang, klimaksnya Ahok lontarkan pernyataan yang akhirnya memunculkan kasus hukum terkait dengan dugaan penghinàan dan penistaan serta penodaan terhadap AlQuran Surat Al Maidah 51.

Genderang Perang Umat Islam Lawan Ahok

Genderang perang dibunyikan umat Islam se Indonesia dan meminta Ahok diadili, seiring dengan fatwa yang dikeluarkan oleh MUI bahwa Ahok bersalah pada 11/10/2016 lalu disusul demonstrasi besar-besaran oleh umat Islam di Jakarta pada 14/10/2016.

Umat Islam Indonesia bahkan dunia Islam seperti Robitoh Ulama Internasional pun turut mengecam Ahok dan menuntut Ahok diadili sesuai hukum yang berlaku demi ketertiban umum, rasa keadilan masyarakat Dan kepastian hukum.

Pro dan kontra terkait penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok seakan menciptakan gesekan-gesekan kecil yang dinilai mengancam persatuam dam kesatuan bangsa. Karena gesekan dan sentimen SARA sudah sangat mengkhawatirkan.

Sebut saja gelombang gerakan umat Islam dalam aksi damai ‘ngluruk’ Jakarta dengan menyebut 411, 212, 211 dan 212 yang baru saja selesai. Berbagai elemen umat Islam Indonesia yang selama ini terkotak-kotak seakan tumplek blek menuju Jakarta untuk membela keyakinan yang diduga sudah dinistakan oleh seorang Ahok.

Kondisi ini diperparah dengan perlakuan Ahok kepada Rais Aam Ketua MUI Ma’ruf Amin saat persidangan dugaan penistaan Agama. Menurut KH Salahudin Wahid atau akrab disapa Gus Solah bahwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok adalah manusia yang tak punya etika dan tak tahu batas kemanusiaan. Cecaran terhadap KH Ma’ruf Amin sudah menimbulkan kegaduhan nasional.

“Saya sangat menyayangkan sikap Ahok terhadap Pak Ma’ruf. Dia tidak tahu batas, tidak punya etika, tidak bisa mengendalikan diri. Dia juga tidak tahu mana boleh diomongkan dan mana yang tidak,” ujar cucu pendiri NU yang juga pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Pertanyaan sampai sekarang adalah apakah negara tetap melindungi Ahok, dengan mengorbankan ketertiban dan keamanan nasional? Maklum umat Islam se Indonesia sudah jenuh dengan perilaku Ahok, dan menunggu ketegasan pemerintah untuk berbuat seadil-adilnya terutama Polri dan Kejaksaan.

Ahok Berkah Bagi Umat Islam Indonesia

Sadar atau tidak sadar fenomena Ahok menjadi berkah tersendiri bagi umat Islam se Indonesia. Mengapa bisa?

Unggahan video Bun Yani menjadi viral di dunia maya, meski hanya sebagian saja, namun gara-gara video tersebut Ahok ditetapkan sebagai tersangka penista agama oleh Kapolri. Juga gara-gara ucapan Ahok terkait Al Maidah ayat 51, banyak umat Islam di Indonesia semakin rajin mengkaji lagi ajaran-ajaran Islam dan menambah rasa bersyukurnya kepada Allah SWT.

Banyak umat Islam membuka Alquran, tafsir-tafsir, hadist dan lain sebagainya. Bahkan hebatnya, gara-gara Ahok umat Islam di Indonesia bersatu dari berbagai kelompok, baik garis keras, moderat, dan liberal, bersatu padu membuat Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majlis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) untuk menuntut keadilan agar kasus Ahok ditegakkan.

Entah yang menyatukan Islam itu Bun Yani atau Ahok, Islam menjadi kompak. Ini dibuktikan dengan adanya gerakan aksi damai menuju Jakarta menentang penista agama, semoga tidak ada lagi yang sering mengkafirkan sesama agar Islam di Indonesa semakin berkemanusiaan sesuai cita-cita Rasul “li utammima makârim al-Akhlâq”.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here