Dukungan PPP dan PKB ke Ahok Tak Berpengaruh

0
244

Nusantara.news, JAKARTA – Dua pekan menjelang pencoblosan putaran kedua Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017, dua partai berazaskan Islam mendukung pasangan Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Syaiful Hidayat (Ahok-Djarot). Kedua partai tersebut adalah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kubu Romahurmuziy alias Romy dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Alasan PPP kubu Romi bergabung ke Ahok – Djarot dikemukakan Saifullah Tamliha. “Untuk menjaga soliditas parpol pendukung pemerintah,” kata Tamliha kepada NUSANTARA.NEWS, di Jakarta, Senin (10/4/2017).

Tamliha menilai wajar jika partainya memutuskan bergabung ke partai pendukung Ahok-Djarot yakni PDI Perjuangan, Golkar, Nasdem, dan Hanura.

“Ya alasannya memang sangat politis, yakni jangan lantaran Pilkada DKI ini, partai pendukung pemerintah jadi tidak solid dan terpecah. kami berharap partai pendukung ini langgeng sampai 2019 nanti,” kata Tamliha.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKB DKI, Hasbillah berdalih bahwa asalan mendukung Ahok-Djarot adalah karena Djarot memang warga NU. “Karena PKB merupakan partai yang berbasis warga nahdliyin, ya kami dukung,” katanya.

Hasbi menyerukan kepada warga NU memilih Ahok sebagai Gubernur DKI agar ibukota dipimpin ahli Ahlul Sunnah Waljamaah. “Jakarta ini barometer Indonesia dan Jakarta wajib dipimpin oleh ahli sunnah waljamaah,” kata Hasbi saat deklarasi dukungan PKB kepada Ahok-Djarot di GOR Ragunan, Jakarta, Minggu (9/4/2017).

Pada putaran pertama, PPP dan OKB mendukung paslon nomor satu, Agus Harimurti Yudhonoo – Sylviana Murni. Baik PPP dan PKB yang didukung para ulama dan kyai sama-sama berjuang keras menumbangkan Ahok. Alasan utamanya adalah karena Ahok telah menodai Islam lewat pernyataannya di Pulau Seribu yang menyentil Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 51, yang kasusnya masih bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menilai peralihan dukungan PPP dan PKB kepada Ahok – Djarot sangat wajar.

Karena, nyaris semua elit parpol baik parpol yang mengklaim berbasis nasionalis maupun agama memiliki kelemahan. Kelemahan itu dijadikan alat oleh penguasa untuk ‘menyandera’ elit parpol. “Bukan hanya PPP atau partai berbasis Islam, tapi hampir semua elit parpol tersandera kasus. kalau tidak mendukung, bisa jadi kasus mereka akan diangkat. pemerintah kan sangat lihai bagaimana menyandera orang,” kata Pangi.

Karena itu, Pangi meyakini elit parpol Islam sadar bahwa jika tidak mengalihkan dukungan kepada Ahok, bakal berdampak negatif pada soliditas internal partainya. Bahkan, dukungan para simpatisan akan berkurang pada Pemilu 2019 nanti.

“Romi itu saya yakin betul bahwa dia paham bahwa PPP adalah parpol Islam, platform dan AD/ART. Namun semua mereka tabrak dan kangkangi karena terpaksa, karena kartu truf ketua umum atau elite parpol dimiliki oleh rezim berkuasa,” jelasnya.

Kalau sudah begitu, maka mesin partai tidak akan berjalan maksimal. Dan, tentu yang akan berperan banyak pada pertarungan di lapangan adalah para relawan pendukung kedua paslon.

Hal itu tergambar dari peroleh suara di putaran pertama. Anies-Sandi yang hanya diusung PKS dan Gerindra mendapat suara 2.197.333 (39,95 persen) sehingga menahan laju Ahok-Djarot yang didukung PDIP, Golkar, NasDem, dan Hanura dengan peroleh suara 2.364.577 (42,99 persen). Sementara, Agus – Sylvi yang didukung Demokrat plus partai Islam, PKB, PPP dan PAN hanya memperoleh 937.955 (17,05). Mengetahui kekuatan relawan, Anies-Sandi pun bergerak cepat merangkul seluruh mantan relawan Agus-Sylvi yang berjumlah sekitar  lebih dari 300 tim relawan.

Anies menilai dukungan yang diberikan relawan tak dapat disamakan dengan dukungan yang diberikan struktur partai. Terlebih, setiap anggota relawan itu memiliki hak suara yang pasti diberikan kepada paslon yang didukungnya.

“Kami merasa terhormat mendapat dukungan dari warga. Kalau urusan koalisi maupun dukungan dari partai lain dilakukan melalui struktur elit partai,” katanya beberapa waktu lalu saat menghadiri pengalihan dukungan dari Relawan Agus-Sylvi.

Berdasarkan penelusuran Nusantara.news, peran parpol pendukung paslon memang sangat minim di Pilkada DKI mulai putaran pertama dan menjelang pencoblosan putaran kedua ini.

Kecuali Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang merupakan partai kader mampu menunjukkan kerja nyata di lapangan. Kader-kader PKS yang muda dan militan mampu melakukan sosialisasi program Anies – Sandi kepada masyarakat.

Selebihnya yang berjuang adalah para relawan yang diisi orang-orang dengan berbagai latar belakang. Mulai dari tokoh masyarakat, tokoh agama, pengusaha, karyawan, ibu rumah tangga, aktivis LSM hingga kader partai.

“Iya saat putaran pertama kami dukung Agus – Sylvi, tapi sekarang dukung Anies-Sandi. Ini bukan perintah partai, Karena, Demokrat pada putaran kedua ini kan netral, jadi ini sikap kami sendiri,” kata Iskandar Ketua Barisan Massa Demokrat (BMD) DKI kepada Nusantara.news di Jakarta, Senin (10/4/2017).

Bertolak dari kenyataan itu, maka kemungkinan dukungan PPP dan PKB kepada Ahok – Djarot, tidak dapat dipastikan akan memberikan tambahan suara signifikan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here