Dunia Akui Khofifah Perempuan Hebat, Layak Jadi Pemimpin

0
86

Nusantara.news, Surabaya – Ketua Pimpinan Muhammadiyah Jawa Timur, Zainuddin Maliki memuji nama Khofifah Indar Parawansa, yang disebut sebagai wanita cerdas di Kabinet Kerja Pemerintahan Presiden Joko Widodo – Jusuf Kalla.

Atas kecerdasan dan kepiawaiannya itu, lanjut Zainuddin Maliki, Khofifah oleh media asal Amerika Serikat, Bloomberg disebut sebagai wanita muslim di Asia yang sangat luar biasa. Kecerdasan wanita 52 tahun itu melebihi rata-rata wanita di Asia pada umumnya.

“Saya sempat membaca Bloomberg, mungkin yang hadir disini juga membacanya, bahwa media itu menyebut Khofifah adalah wanita muslim yang cerdas, dan layak menjadi pemimpin,” ujar Zainuddin Maliki saat memberikan kalimat sambutan kehadiran Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa di acara Halaqah Kebangsaan yang digelar organisasi Islam itu di Surabaya, Selasa (16/8/2017) malam.

Sontak, undangan yang hadir mengikuti acara di lantai tiga itu, gemuruh memberikan tepuk tangan, pertanda setuju dengan yang disampaikan pimpinan organisasi keagamaan tersebut, Khofifah layak memimpin Jawa Timur, karena tahun depan memang masuk musim pilkada.

Zainuddin yang juga Penasihat Dewan Pendidikan Jawa Timur kemudian juga menyampaikan bahwa Khofifah memiliki kematangan yang cukup. Perannya untuk perkembangan Muhammadiyah di Indonesia juga cukup besar.

“Perannya cukup besar, NU dan Muhammadiyah bisa saling melengkapi, diantaranya untuk menopang pendidikan menjadi lebih baik, ini sebuah kekuatan untuk uquwah yang lebih baik,” ucapnya.

Muncul penilaian, Khofifah layak dan sudah saatnya memimpin Provinsi Jawa Timur, sebagai Gubernur pasca kepemimpinan Soekarwo yang telah menjabat dua periode.

Kemudian, Zainuddin sambil mengatakan kagum melanjutkan kalimatnya, bahwa Bloomberg menyebut Khofifah Indar Parawansa sebagai salah satu tokoh berpengaruh di Pemerintahan Jokowi – JK.

“Media Amerika itu menyebut, Khofifah juga dianggap sebagai simbol kesuksesan perempuan Muslim di kancah politik nasional,” tambahnya.

Benar, akhir Juli lalu media dari Negeri Paman Sam itu, dalam sebuah artikelnya berjudul “World’s Biggest Muslim Country Puts More Women Into Senior Roles” menyebut Khofifah sebagai tokoh perempuan yang punya kelayakan sebagai memimpin.

Tidak berlebihan yang dilansir Bloomberg, perempuan asal Surabaya itu memang dikenal jujur, lugas dan apa adanya. Dan yang paling banyak diingat oleh masyarakat kerjanya cekatan, dan energik, tidak guyonan alias mbanyol (bahasa Suroboyo-red).

Segudang prestasi dan terobosan berani tercatat pernah dilakukan oleh Alumni Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu. Pembaca pasti masih ingat dengan pidatonya yang pernah berkumandang saat sidang paripurna di parlemen, yang dengan terang-terangan mengkritik Pemerintahan Orde Baru.

Khofifah juga dinilai berperan penting dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Melalui jabatan Menteri Peranan Perempuan di era Presiden Abdurrahman Wahid juga Menteri Sosial RI yang saat ini dijabat.

“Khofifah Indar Parawansa, merupakan salah satu contoh Menteri wanita di negara Muslim terbesar di dunia. Ini merupakan contoh kesuksesan sebuah negara dalam memecahkan streotip gender dan agama,” tulis reporter Rieka Rahadiana, Molly Dai, and Karl Lester M Yap di media itu.

Bloomberg juga mengulas tentang sejarah perjalanan Khofifah yang dinilai cukup berani mengambil risiko. Saat Soeharto masih berkuasa, Khofifah yang masih berusia 32 tahun membacakan pidato yang sangat kontroversial di hadapan parlemen yang membuat banyak pihak kaget dan terhentak.

Dalam pidatonya itu, Khofifah melontarkan kririk tajam terhadap Pemerintahan Orde Baru dan sejumlah pandangannya tentang demokratisasi di depan sidang. Media itu mencatat, atas keberaniannya tersebut karir Khofifah di bidang politik terus meroket. Dan, dia diharapkan akan tampil menjadi pemimpin tegas, bijak dan berani untuk rakyatnya menjadi lebih baik.

Diceritakan juga dalam artikel tersebut, pidato Khofifah sebagai wakil rakyat yang menyuarakan keadaan dan potret kehidupan masyarakat, kehidupan berbangsa dan bernegara sempat membuat sang suami kala itu ketar-ketir, karena khawatir terhadap keselamatan isteri tercintanya.

“Pidato tersebut cukup kontroversial sehingga suaminya sempat mengaku khawatir akan keselamatan isterinya,” tulis media itu.

Kemudian, saat masih memberikan paparan di depan pimpinan, kader dan elemen Pemuda Muhammadiyah di acara tersebut, dengan memadukan slide gambar dari laptopnya, lagi-lagi Khofifah mengundang decak kagum mereka yang hadir.

Malam itu, Ketua Umum PP Muslimat NU tersebut menampilkan sejumlah gambar, dalam tayangan slide. Salah satunya, gambar yang terpampang 10 orang berdasi dengan tangan bersilang saling bergandengan. Oleh Khofifah itu dijabarkan, bahwa mereka tidak hanya bergandengan untuk saling mendukung sebuah program kerjasama, tetapi juga saling sikut menjadi yang paling kuat, menguasai dan mencari peluang.

“Itu lah fakta yang terjadi hari ini, mereka tidak hanya saling mendukung dan bekerjasama, tetapi juga saling sikut,” katanya.

Selanjutnya, masih kata Khofifah, hingga saat ini manusia terus berlomba, saling kejar. Untuk itu, kita (Bangsa Indonesia) tidak boleh berhenti, kalau tidak ingin tertinggal atau bahkan tergilas.

Bahwa, kesempatan bagi perempuan di semua bidang atau lini kehidupan seharusnya tidak ditunggu melainkan dikejar. Mengingat saat ini perempuan dan laki-laki relatif memiliki kemampuan dan kesempatan yang sama, ucapnya. Kalimat itu menyiratkan, tidak boleh ada penghalang hadirnya perempuan untuk menjadi pemimpin, jika yang dilakukan untuk perubahan ke arah lebih baik. Bisa jadi, termasuk dirinya yang akan tampil di Pilgub Jawa Timur 2018, mendatang.

Kembali ke Bloomberg yang menulis, selain Khofifah, nama perempuan lainnya yang menempati jabatan strategis di Pemerintahan Jokowi-JK disebutkan juga ada Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Inter-Parliamantary Union Bloomberg, atau data internal media itu menyebut Indonesia merupakan negara paling tinggi rasio perempuan yang menduduki jabatan menteri. Dari 10 negara yang memiliki populasi besar, Indonesia mencatat angka rasio 26 persen, melebihi India diangka 18 persen dan Jepang 16 persen, serta negara berpenduduk terbesar di dunia, yakni China yang hanya 8 persen. Artinya, sejarah mencatat perempuan Indonesia juga hebat, tidak ada alasan menghalangi perempuan di Indonesia untuk menjadi pemimpin.

Karena kepandaiannya, sebuah program televisi dalam tayangan talkshow juga pernah menghadirkan Khofifah. Saat itu, tiga menteri perempuan dinilai berprestasi, termasuk Khofifah. Nama lainnya, adalah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Puji Astuti, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, dan Menteri Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani yang saat itu, acara digelar bulan Agustus 2016, di Jember.

Mata Najwa yang punya gawe, dan ditulis sejumlah media topik itu sengaja diangkat karena mereka termasuk Khofifah, tak bisa ditampik sebagai perempuan hebat.

“Mereka adalah perempuan penentu karena semua orang tahu mereka adalah perempuan hebat, dan tema itu lah yang kita angkat,” ucap presenter Najwa Shihab saat menggelar jumpa pers “Mata Najwa on Stage” di Stadion Jember Sport Garder, Jember, kala itu.

Acara itu menyingkap semua yang ada balik kesuksesan ketiga menteri perempuan tersebut. Termasuk Khofifah, utamanya berbagai hal yang dilakukan dan dialami untuk diketahui masyarakat.

Perempuan hebat itu, bukan hanya sebagai penentu kebijakan dari belakang meja. Namun, sekaligus sebagai pelaksana kebijakan untuk rakyatnya menjadi lebih baik. Juga untuk harga diri dan kehormatan negara Indonesia.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here