Dunia Medis Dihebohkan Tiga Kejadian Ini

0
164
Video perawat National Hospital Surabaya melecehkan pasien yang viral di Medsos.

Nusantara.news, Surabaya – Belakangan ini dunia medis dihebohkan dengan dua video. Pertama, video pelecehan seksual yang viral dan diduga dilakukan oknum perawat National Hospital Surabaya. Kedua,

video keluarga pasien memarahi dokter dan menyebut perawat menyuntik pasien yang sudah meninggal. Bahkan selang beberapa hari ada calon perawat yang melaporkan dokter karena dianggap telah melakukan pelecehan seksual. Ada apa dengan dunia medis kita?

Dalam kasus pelecehan seksual oleh perawat rumah sakit Nasional Hospital Surabaya bernama Zunaidi Abdillah (30), perbuatan itu dilakukan saat pasien baru saja menjalani operasi kandungan dan sedang dirawat di ruang pemulihan.

Video pelecehan yang dilakukan Zunaidi ini viral di Instagram pada 25 Januari 2018. Video ini diunggah akun th*l*vew*dya sekitar 20 jam lalu. Sejak diunggah, video ini sudah diputar sampai 105 ribu kalu.

Video diawali dengan menampilkan seorang wanita yang sedang diinfus tangannya. Wanita itu diapit dua wanita berseragam wanita. Terlihat juga beberapa orang berdiri di sekeliling wanita itu. Dalam rekaman terdengar wanita itu mengatakan: “Kamu ngaku apa yang kamu perbuat. Kamu ngaku dulu. Kamu pegang p*yud*ra saya. Kamu remas2, sampai dua atau tiga kali kamu masukin ke dalam. Kamu puter2 p*t*ng saya kan. Ngaku!”

Akibatnya, pelaku dilaporkan ke Polrestabes Surabaya. Pada Jumat (27/1/2018) malam pihak kepolisian langsung melakukan gelar perkara oleh penyidik diikuti pengawas intern Polrestabes Surabaya.

Kombes Pol Rudi Setiawan, Kapolrestabes Surabaya menegaskan kejadian pelecehan seksual itu dilakukan saat Zunaidi Abdillah sedang melakukan tugasnya sebagai asisten dokter anastesi.

Saat tersangka mengambil elektroda atau red dot yang menempel di tubuh korban itulah, perbuatan itu dilakukan. Dia mengaku merasa terangsang. Saat itu juga Zunaidi yang sudah memiliki istri dan keluarga, bertempat tinggal di Turen, Kabupaten Malang ini, ditetapkan tersangka pada Sabtu (28/1/2018).

Zunaidi Abdillah dijadikan tersangka setelah dilaporkan melakukan pelecehan seksual pada pasien National Hospital Surabaya.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dan Forum Stovia JogLoSemar prihatin atas beredarnya rekaman video dengan pengambilan gambar di RS National Hospital Surabaya oleh keluarga pasien W dan diunggah sendiri oleh pasien itu sendiri.

Keterangan tertulis itu dikirim Ketua Umum PPNI, Harif Fadillah dan Budiman dari Forum STOVIA JogLoSemar, Senin (29/1/2018). Siaran pers PPNI dan Forum STOVIA JogLoSemar ini sudah viral.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Nusantara.News, video viral W tersebut dianggap telah mengiring opini masyarakat dan menimbulkan dampak ketidaknyamanan pelayanan medis di RS lainnya yang disebabkan pasien menjadi takut mendapatkan perlakuan yang sama ketika dalam keadaan tidak sadar atau setengah sadar dengan berbagai respon yang membuat terganggunya Patien Safety.

“RS adalah tempat yang steril dari perekaman baik suara maupun video berdasarkan UU No. 29/2004 tentang Praktek Kedokteran pasal 48 dan pasal 51. Juga berdasarkan UU No. 36/1999 Pasal 40 tentang Telekomunikasi,” kata Harif Fadillah.

Jelas dia, potongan video 58 detik yang beredar viral merupakan potongan 20 menit rekaman, telah dilakukan pengeditan, sehingga perawat tersangka dikondisikan mengakui perbuatannya dan video itu dijadikan barang bukti di polisi, dan akibat barang bukti ini tersangka ditahan di Polrestabes Surabaya Utara.

“Apa yang dituduhkan oleh pasien Ny. W tidak benar, tersangka tidak melakukan apa yang dituduhkan dan yang dilakukan hanya melepas sadapan disposible ECG Electrode yang menempel di sekitar dada pasien, jumlah sadapan electrode sebanyak 6 buah, 3 buah memang menempel di sekitar dekat papilla mamae (V3, V4, V5) dan pasien Ny. W dalam kondisi post operasi dimana masih ada pengaruh dari obat bius,” tutur Harif Fadillah.

Perawat yang dituduh pada dasarnya hanya menjalankan tugasnya sesuai dengan standar pelayanan operasional medis dan tidak melakukan hal di luar itu. Maka penahanannya berdasarkan barang bukti hasil editan merupakan bentuk ketidak-adilan. “Polisi tetap harus memegang teguh praduga tidak bersalah, dan menerima laporan harus memastikan barang bukti bukan sebuah rekayasa, utuh tanpa editan, agar konflik-konflik yang ada di masyarakat dapat diselesaikan dengan adil,” ucap Harif Fadillah.

Pasien Meninggal Disuntik

Sementara itu muncul lagi video yang menggegerkan publik yang diduga pihak medis lalai menangani pasien. Video berdurasi 3 Menit 10 detik itu menggambarkan keluarga pasien murka kepada dokter dan perawat yang dituduh menelantarkan sang ibunda. Ya, pasien yang sudah meninggal disuntik.

Terdengar suara seseorang pria dan wanita dari keluarga marah. Keduanya menyesalkan sikap dokter spesialis dan perawat yang tidak mengetahui jika pasien sudah meninggal dunia ketika penanganan medis berlangsung. Bahkan pasien yang sudah meninggal disebutnya masih mendapat suntikan dari perawat.

“Sampeyan itu berarti tadi nyutik-nyuntik mayat. Sampeyan sudah tahu, ta banting. Ndak gitu, masak seorang suster nyuntik mayit ga tahu. Ini bukan nyuntik pasien tapi nyuntik mayit,” kata seorang wanita keluarga pasien dengan nada emosional.

“Biar tahu semua rumah sakit ini tahu seorang suster nyuntik mayit bukan nyuntik pasien,” tambahnya.

Seorang dokter pria berusaha memberi penjelasan, tapi jawabannya dinilai keluarga korban tidak memuaskan. Sang dokter berusaha menenangkan karena dikhawatirkan mengganggu pasien lain.

“Kasihan yang sakit? Lha saat ibu saya sakit bagaimana? Tidak bisa, biar tahu semua,” teriak si wanita.

“Kalau Anda perlakukan pasien kayak ibu saya, bisa mati semua,” timpal seorang pria.

Usut punya usut, video viral yang menunjukkan kemarahan keluarga pasien kepada dokter dan perawat terjadi di RS Siti Khodijah, Taman, Sidoarjo.

Video yang viral keluarga pasien memarahi dokter dan perawat yang menyuntik mayat.

Daud Hamzah (41), keluarga pasien saat ditemui di rumahnya, Senin (29/1/2018), mengatakan ibunya Supariyah (67) meninggal di RS tersebut pada 21 Desember 2017 lalu pukul 21.30 WIB.

“Meninggal karena saya menduga ibu saya diterlantar dan kemungkinan juga ada dugaan malapraktik terhadap ibu saya,” kata Hamzah saat ditemui di rumahnya.

Hamzah menuturkan pada 20 Desember ibunya mengeluhkan pusing dan mual. Kemudian Hamzah membawa ibunya ke RS tersebut. Saat tiba di RS, petugas resepsionis mengatakan ke Hamzah tak ada kamar kosong. Kemudian Hamzah menanggapi petugas tersebut ingin memasukan ibunya sebagai pasien umum, bukan pasien JKN (BPJS).

Saat itu petugasnya langsung mengatakan ada satu kamar kosong. Akhirnya ibu saya masuk pukul 11.30 WIB. Mendapatkan ruang perawatan tak berarti mendiang Supariyah ditangani secara medis. Hamzah mengaku ibunya dijanjikan akan ditangani dua dokter spesialis dalam dan syaraf. Namun hingga keesokan harinya, ibunya sama sekali tak ditangani secara medis.

Kini pihaknya sudah mengirim dua somasi ke RS Siti Khodijah Taman. Somasi pertama tertanggal 10 Januari, namun tak digubris pihak RS. Somasi kedua 17 Januari baru ditanggapi. Isinya, mereka (RS) sudah lakukan sesuai SOP. “Meninggalnya ibu klien kami di luar kemampuan RS, dan kami diarahkan untuk menemui pengacara korporasi,” tandas Kuasa hukum keluarga, Achmad Yusuf.

Yunus menyatakan pihaknya ingin meminta kejelasan terkait tak ditanganinya ibu Supariyah secara kekeluargaan. “Kami lanjutkan somasi ketiga. Jika tak ditanggapi, kami akan langsung upayakan langkah hukum. Kami sudah melapor ke Polda Jatim dan MKDI terkait masalah ini,” ungkapnya.

Sementara manajemen RS Siti Khodijah membantah perawatnya menyuntik pasien yang sudah meninggal. Melalui kuasa hukumnya, Masbuhin, manajemen rumah sakit mengungkap kronologi pelayanan medis terhadap pasien.

Pukul 22.00, perawat membangunkan pasien yang sedang tidur untuk diberi obat injeksi Vomceran dan OMZ. Sebelum diberi obat injeksi, perawat memeriksa pernapasan dan denyut nadi. Saat itu napas pasien teratur dan denyut nadi kuat.

Pukul 22.20, dokter Hamdan melakukan visite dan pemeriksaan pasien. Dari hasil pemeriksaan diketahui nadi pasien 74 x/menit, S1 S2 tunggal Rh, Wh, dan CVA infark. “Saat pemeriksaan, pasien masih hidup dan diketahui keluarga,” ujar Masbuhin.

Pukul 22.35, dokter Hamdan meninggalkan pasien untuk melakukan visite ke pasien lainnya. Pukul 22.45, keluarga pasien menghubungi perawat dan perawat langsung melakukan pemeriksaan. Dalam pemeriksaan, Sp02 tidak muncul, tensi tidak terukur, dan nadi tidak teraba. Perawat lalu melapor ke dokter Hamdan, yang saat itu langsung memeriksa pasien dan melakukan pijat jantung, tetapi tetap tidak menyelamatkan jiwa pasien. Pasien dinyatakan meninggal sekitar pukul 23.00 akibat serangan jantung.

Perawat Dilecehkan Dokter

Setelah kasus dugaan pelecehan perawat kepada pasien, muncul lagi dugaan pelecehan seksual oknum dokter di Rumah Sakit National Hospital Surabaya. Korban berinisial ZY angkat bicara dan mengaku dilecehkan oleh oknum dokter dalam pemeriksaan medis saat melamar sebagai perawat.

Korban merupakan calon perawat berinisial OP yang pernah melamar di Rumah Sakit National Hospital. Dia mengaku melamar perawat di rumah sakit tersebut pada 23 Agustus 2017.

Perempuan berumur 19 tahun tersebut mengaku dilecehkan saat rekrutmen perawat. Korban sempat dibuat tak berdaya karena diajak ngomong dan dialihkan pembicaraannya.

Korban dugaan pelecehan seksual oleh dokter R itu datang ke Kantor Pengacara Okky Suryatama SH, salah satu pengacara ternama di Jalan Darmokali Surabaya, Sabtu (27/1/2018), sekitar pukul 12.00 WIB.

Mengawali ceritanya, ia saat itu menjalani serangkaian tes kesehatan di laboratorium dan tes darah serta tes urine. Dia difoto torax dan memang lepas pakaian dan itu foto biasa. Setelah selesai dilakukan tensi darah, tinggi dan berat badan, korban diantar ke ruang dokter berinisial R untuk pemeriksaan lanjutan.

ZY (kanan) angkat bicara telah dilecehkan oknum dokter RS National Hospital Surabaya dalam pemeriksaan medis saat melamar sebagai perawat.

Begitu dia masuk ke dalam, semua ruangan ditutup. Tirai ruang pemeriksaan yang ada di dalam juga ikut ditutup. Oleh dokter, korban yang warga Karangpilang itu disuruh tidur telentang dan pemeriksaan dengan stetoskop ditempelkan berdalih tidak mendengar detak jantung dan minta kancing baju dibuka. Saat itu dokter R meremas payudaranya.

Setelah itu dokter R menanyakan apa ZY soal pernah mengalami keputihan. “Iya saya jawab pernah,” ucap dia.

Mendengar dari jawabannya, kata ZY, dokter itu langsung berdalih untuk memeriksa alat kelaminnya. Menurut dia, dokter itu mengatakan pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mengetahui apakah ada kotoran atau tidak di alat kelamin korban. Pemeriksaan terkait alat kelamin itu sempat ditanyakannya. Namun dokter tersebut hanya menjelaskan calon perawat yang masuk dan diterima di Rumah Sakit National Hospital itu memang benar sehat. “Dokternya (R) menjawab, kalau tidak memeriksa, ada apa-apa bagaimana? Yang dimarahi itukan saya (R),” kata korban menirukan perkataan oknum dokter R.

ZY mengaku saat itu tidak bisa berbuat banyak. Korban mengaku tak bisa melawan takut dikira melakukan kekerasan. “Iya bagaimana lagi, akhirnya saya terpaksa mau (kelamin dimasuki dengan jari). Lagian juga tidak bisa berbuat banyak, tirai ditutup, pintu juga ditutup, tidak ada orang.

Kasus ini dilaporkan pada 25 Agustus 2017 lalu ke polisi. Namun, hingga kini polisi belum menetapkan status tersangka atas dugaan pelecehan seksual ini. Dengan munculnya kasus ini, Polda Jawa Timur berencana akan melakukan gelar perkara untuk kasus ini pada Rabu, 7 Februari mendatang.

Serangkaian kejadian ini membuktikan sisi kelam dunia medis kita. Ada apa dengan buruknya kualitas pelayanan kesehatan yang sangat vital bagi harga sebuah nyawa seorang manusia? Jika para ahli medis sudah terbiasa dengan mengentengkan harga sebuah nyawa manusia, ini adalah pertanda terburuk tentang nilai moralitas dari profesi kedokteran dan profesi keperawatan.

Masih ingat dengan fenomena dukun cilik asal Jombang, Ponari, beberapa tahun lalu. Gubernur Jawa Timur, Soekarwo menegaskan saat itu kemunculan Ponari merupakan antiklimaks atas kualitas pelayanan publik, khususnya kesehatan di Jawa Timur. Saat ini pemerintah, masyarakat, dan stakeholder harus sadar, bahwa perlu segera dilakukan perbaikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Menurut Gubernur sugesti masyarakat dapat diubah melalui peningkatan pelayanan publik pada aspek kesehatan secara lebih baik. Perbaikan itu baik dari segi biaya pengobatan medis maupun dari sisi layanan. Biarpun pelayanan kesehatan gratis, biarpun pelayanan mahal, tapi jika tidak ramah dan tidak profesional, pasti masyarakat akan anti pada medis. Belum lagi ditambah dengan tidak transparansinya dunia medis di Indonesia, ini membuat kita harus berhati-hati memilih dokter serta rumah sakit.[]

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here