Dunia Protes Kebijakan Trump : “Kami Semua Sekarang Muslim”

0
2189

Nusantara.news, Jakarta – Sejumlah warga dunia berbondong-bondong mengaku Muslim sebagai protes atas kebijakan Trump yang anti-migran dan anti muslim.

Setidaknya, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Madeleinne Albright protes keras atas rencana Trump mendata ulang warga muslim di Amerika. Terang-terangan dirinya akan mengaku sebagai muslim bila pendaftaran ulang itu terus dipaksakan sebagai tindak lanjut perintah eksekutif (executive order) Presiden Donald Trump yang melarang tujuh negara muslim masuk Amerika.

Warga muslim asal Indonesia di Amerika juga mencemaskan kemungkinan itu. Kendati Indonesia tidak masuk daftar tujuh negara (Irak, Suriah, Iran, Libia, Somalia, Sudan, dan Yaman) yang dilarang masuk Amerika Serikat, namun tetap saja membuat Benyamin Rasyad, warga asal Indonesia yang sudah berkewarganegaraan Amerika risau.

Benyamin Rasyad

Benyamin Rasyad sudah tinggal di AS sejak 1999 dan kini warga negara Amerika (foto BBC)

“Saya beragama Islam, keluarga saya juga beragama Islam, jadi kita agak khawatir. Khususnya di Texas kan orang-orang ini tidak tahu apa Islam itu. Ada yang sama sekali tidak tahu apa-apa tapi sudah kena influence (pengaruh),” keluh Benyamin sebagaimana dikutip nusantara.news dariBBC London.

Benyamin bersama keluarganya tinggal di Houston, negara bagian Texas yang populasi penduduknya kebanyakan dari Partai Republik pendukung Trump. Maka Benyamin menghimbau umat Islam di Amerika Serikat menunjukkan jati dirinya dan tidak mudah terkunyah hasutan-hasutan dan prasangka orang yang tidak mengerti Islam.

Sejak ditandatanganinya perintah eksekutif yang melarang masuknya warga Islam dari 7 negara pada Jum’at (27/1/2017) lalu, protes sudah bermunculan di sejumlah kota Amerika.

“Banyak sekali dan itu mereka bukan orang Islam. Saya baca lagi hari ini (Minggu 29/01 waktu AS) besar sekali long march di Washington DC, orang-orang yang protes,” beber Benyamin, karena memang yang protes adalah kelompok anti diskriminasi dari beragam latar-belakang agama, ras dan suku.

Sebagai warga negara Amerika Serikat, Benyamin -yang kini sudah memiliki usaha sendiri- mengaku ikut bingung dengan kebijakan itu. “Saya agak bingung juga, cuma sebagai warga negara ya kita menunggu saja. Sebagai warga negara Amerika Serikat, saya sebenarnya ingin ikut protes,” ujar Benyamin.

Bagaimanapun dia mengaku mendapat dukungan juga dari sejumlah warga negara Amerika Serikat lain yang beragama Kristen. “Kemarin kita ada diskusi dengan teman-teman yang orang sini, yang orang Amerika, yang orang Kristen, Mereka mengatakan kita yang akan fight (berjuang) buat kamu,” imbuh Benyamin.

Memicu Protes Dunia

Terang saja, kebijakan Trump yang diskriminatif memicu protes kepala pemerintahan di sejumlah negara. Bahkan Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif menyebut perintah eksekutif Trump sebagai hadiah besar bagi ekstrimis dan para pendukungnya.

Thousands turned out in New York to condemn the ban after it came into effect

Gelombang protes anti Trump mewabah, bahkan di dalam negerinya sendiri (foto the SUN)

Inggris sendiri yang diharapkan menjadi mitra Trump tidak nyaman dengan kebijakan itu. Perdana Menteri Theresa May sudah memerintahkan Menteri Luar Negerinya untuk menyampaikan nota keprihatinan.

Sedangkan di Jerman, juru bicara pemerintah mengungkap Kanselir Jerman Angela Merkel, yakin bahwa perang melawan terorisme tidak menjadi alasan untuk menempatkan orang-orang dari keyakinan atau asal tertentu dicurigai secara umum.

Selain memicu protes kepala pemerintahan sejumlah negara, para jaksa agung dari 16 negara bagian Amerika Serikat mengatakan kebijakan Presiden Trump itu ‘tidak bersifat Amerika dan melanggar hukum’.

Dalam pernyataan bersamanya, para jaksa agung -termasuk dari negara bagian Califormia, New York, dan Pennsylvandia- menyatakan keyakinan bahwa perintah eksekutif itu akan dikalahkan pengadilan.

Sementara Dua Senator dari Partai Republik, John McCain dan Lindsey Graham berpendapat langkah Presiden Trump mungkin akan menghambat perang melawan terorisme karena membantu upaya perekrutan teroris. Adapun pemimpin Partai Demokrat di Senat AS, Chuck Schumer, mengatakan partainya akan mengusulkan undang-undang untuk membatalkan perintah eksekutif tersebut.

Reaksi Dalam Negeri Indonesia

Di dalam negeri Indonesia reaksi penolakan terhadap kebijakan Trump tampak terlihat dari cuitan twitter dari berbagai kalangan. Ada yang menanggapi kebijakan Trump dengan penuh kemarahan, namun tidak sedikit pula yang mengajak intropeksi diri.

Foto yang diunggah Joko Anwar di twitternya

Penggiat budaya Joko Anwar juga menggugah foto protes warga dunia bertuliskan “We are All Muslim Now” di akun twitternya dengan ulasan, begini seharusnya solidaritas mayoritas kepada minoritas di manapun berada.

“Amerika adalah negara kaum imigran. Saya yakin bahwa Trump juga berasal dari imigran. Melarang imigran jelas tak adil,”timpal pengacara dan aktivis HAM Todung Mulya Lubis pada akun twitternya.

“Keputusan Trump adalah kebodohan, arogansi, paranoia yang harus dikutuk,” sebut budayawan Goenawan Mohamad dalam akun @gm_gm. Sebagian lagi menyebutkan Trump sudah mengarah seperti Hitler.

Tapi tidak sedikit pula bersikap netral. “Trump lebih tahu negara mana yang berbahaya bagi beliau. Beliau larang Iran dan Irak tapi memperbolehkan negara kita, sebab Indonesia bagus dan sangat cocok buat Amerika,” kata Maskur Maskur.

Sejumlah pengguna twitter lainnya justru mengingatkan, kebijakan Trump mengajak kita berfikir bahwa yang namanya diskriminasi itu gak enak! Diskriminasi ras, agama, fisik atau apapun, tetap yang namanya diskriminasi itu ndak enak!”

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Armanatha Natsir dalam rilisnya menyatakan, meskipun memahami perintah itu wewenang Trump tapi menyayangkan executive order Presiden Trump akan mengganggu upaya melawan terorisme dan manajemen pengungsi.

Sehari sebelumnya Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi juga menyesalkan kebijakan Presiden Donald Trump untuk melakukan “pemeriksaan ekstraketat” terhadap warga dari beberapa negara Muslim sesuai ketentuan imigrasi yang baru.

Sedangkan Presiden Jokowi justru menghimbau warga negara Indonesia tetap tenang. “Kita tidak terkena dampak dari kebijakan itu, kenapa resah?” ujarnya usai menghadiri peluncuran kebijakan fasilitas kemudahan impor tujuan ekspor bagi industri kecil dan menengah di Sentra Kerajinan Tembaga Tumang, Kabupaten Boyolali, pada Senin (30/1/2017) siang tadi.

Ya, memang. Sebagai negara-bangsa saatnya kita bersiap menghadapi populisme dunia dan gelombang perubahannya yang mengarah deglobalisasi. Siap? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here